METROTODAY.ID, BUENOS AIRES – Final Piala Dunia 2026 bukan sekadar mempertemukan dua raksasa sepak bola dunia, Spanyol dan Argentina. Di balik duel yang akan berlangsung di MetLife Stadium, New Jersey, tersimpan sejarah panjang yang membentang lebih dari tiga abad.
Bagi sebagian kalangan, pertandingan ini menjadi bentuk perjumpaan kembali antara bekas negara penjajah dengan bangsa yang pernah memperjuangkan kemerdekaannya dari kekuasaan kolonial Spanyol. Tak heran, sejumlah media Spanyol maupun Argentina menyebut final ini kental dengan makna historis, bukan hanya rivalitas di atas lapangan hijau.
Sejarah Nasional Argentina mencatat bahwa wilayah yang kini menjadi Argentina, dahulu pertama kali berada di bawah kekuasaan Imperium Spanyol sejak abad ke-16. Setelah ekspedisi Juan Díaz de Solis dan penjelajahan berikutnya, Kerajaan Spanyol menjadikan kawasan tersebut bagian dari Viceroyalty of Peru, sebelum kemudian membentuk Viceroyalty of the Río de la Plata pada 1776 dengan Buenos Aires sebagai pusat pemerintahannya.
Selama hampir tiga abad, Spanyol mengendalikan perdagangan, pemerintahan, hingga pemungutan pajak di wilayah yang kini menjadi Argentina. Sistem kolonial tersebut memperkaya mahkota Spanyol, namun di sisi lain membatasi perkembangan ekonomi lokal dan memicu ketidakpuasan di kalangan elite Creole (keturunan Spanyol kelahiran Amerika).
Clarin mengabarkan, benih perlawanan Argentina mulai tumbuh ketika Spanyol melemah akibat invasi Napoleon Bonaparte pada awal abad ke-19. Momentum itu dimanfaatkan masyarakat Buenos Aires melalui Revolusi Mei pada 25 Mei 1810 yang menggulingkan pemerintahan kolonial dan membentuk pemerintahan sendiri. Meski demikian, perang melawan pasukan loyalis Spanyol masih berlangsung selama beberapa tahun berikutnya dan menyebar ke berbagai wilayah Amerika Selatan.
Peristiwa penting lahir pada 9 Juli 1816, ketika Kongres Tucuman secara resmi mendeklarasikan kemerdekaan Provinsi Bersatu Rio de la Plata, yang kemudian berkembang menjadi Republik Argentina. Tokoh-tokoh seperti Jose de San Martin memimpin kampanye militer melawan pasukan Spanyol, tidak hanya di Argentina, tetapi juga membebaskan Chile dan Peru.
Perjuangan San Martín menjadikannya dikenang sebagai sang pembebas di Amerika Selatan. Meskipun deklarasi telah dikumandangkan pada 1816, pengakuan resmi Spanyol terhadap kemerdekaan Argentina baru diberikan melalui perjanjian damai pada 1859, lebih dari empat dekade kemudian.
Kini, lebih dari 209 tahun setelah proklamasi kemerdekaan tersebut, sejarah menghadirkan hal yang unik. Argentina dan Spanyol tidak lagi bertemu sebagai penjajah dan tanah jajahan, melainkan sebagai dua negara berdaulat yang sama-sama memburu trofi paling bergengsi di dunia sepak bola.
Bagi publik Argentina, pertandingan ini menjadi simbol bagaimana bangsa yang dahulu berada di bawah kekuasaan Madrid kini mampu berdiri sejajar, bahkan bersaing memperebutkan mahkota dunia di panggung olahraga. Sementara bagi Spanyol, laga ini dipandang sebagai duel dua negara yang tetap terhubung oleh bahasa, budaya, dan sejarah kejayaan yang panjang.
El Pais mewartakan hubungan kedua negara saat ini justru sangat erat. Diperkirakan lebih dari 400.000 warga Argentina menetap di Spanyol, menjadikannya salah satu komunitas diaspora terbesar di Negeri Matador. Sebaliknya, jutaan warga Argentina memiliki garis keturunan Spanyol akibat gelombang migrasi besar dari Galicia, Andalusia, dan Basque pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Kedekatan historis itu membuat final Piala Dunia kali ini juga disebut sebagai duel klasik dua bangsa.
Fakta menarik lainnya, jejak kolonial Spanyol masih sangat terasa di Argentina hingga hari ini. Bahasa Spanyol menjadi bahasa resmi negara, mayoritas sistem hukum sipil dan administrasi publik berakar dari tradisi hukum Spanyol, sementara arsitektur kolonial masih menghiasi kota-kota seperti Cordoba, Salta, hingga Buenos Aires.
Bahkan agama Katolik yang dibawa oleh misionaris Spanyol tetap menjadi agama dengan jumlah penganut terbesar di Argentina. Meski demikian, identitas nasional Argentina berkembang dengan karakter khasnya sendiri melalui perpaduan budaya Eropa, masyarakat pribumi, dan gelombang imigran dari Italia maupun negara-negara lain.
Di luar saratnya sejarah, sentimen media Argentina memuncak di antara misi balas dendam atas keangkuhan Eropa di masa lalu jelang kick-off final, dengan maksud membakar semangat punggawa negaranya.
“Kami menghormati warisan bahasa mereka, tetapi di lapangan, kami adalah penguasa mutlak. Ini adalah kesempatan emas untuk membuktikan bahwa sepak bola Amerika Latin telah lama merdeka dan melampaui Eropa,” tulis kolom opini surat kabar olahraga terbesar Argentina, Diario Olé, yang mengobarkan semangat skuad asuhan mereka.
Di kubu seberang, media Madrid yakni Marca, mencoba meredam tensi politik tersebut dengan berargumen bahwa sepak bola modern tidak boleh disandera oleh dosa-dosa masa lalu para penakluk. Kendati demikian, media Spanyol tidak menampik adanya tekanan psikologis yang besar karena mereka harus menghadapi tim yang bermain dengan militansi layaknya pejuang kemerdekaan.
Ketika peluit kick-off dibunyikan di MetLife Stadium, dunia tidak hanya akan menyaksikan duel antara Lionel Messi dan generasi penerus Argentina melawan kesatuan Spanyol. Pertandingan tersebut juga menghadirkan kisah lintas zaman, tentang sebuah bangsa yang pernah dijajah selama hampir tiga abad, kemudian merdeka, dan kini bertemu kembali dengan bekas penguasanya di panggung olahraga paling bergengsi di dunia. (Ezaar)

