METROTODAY, SURABAYA – Semangat tak mengenal usia dan kecintaan mendalam pada alam berakhir duka bagi Maliya Finda, 51. Perempuan tangguh dan ceria asal Surabaya ini telah berpulang selamanya bersama pemandu pendakian yang diduga terjatuh di jurang Gunung Piramid, Bondowoso.
Warga yang berdomisili di Jalan Cipunegara, kawasan Darmo, Kecamatan Wonokromo, Surabaya, ini meninggal dunia bersama pemandu lokal, Irfan Nasrul Laili, 35, warga Desa Traktakan, Kecamatan Wonosari, Bondowoso. Keduanya hilang kontak sejak Senin (3/8), sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia di lokasi terjal.
Menurut kerabat Maliya, Wawan, selama tiga tahun terakhir, Maliya kerap mendaki gunung. Gunung ternama seperti Rinjani (NTB), Agung (Bali) hingga Lawu (Ngawi-Magetan) sudah pernah didaki oleh Maliya Finda.
Aktivitasnya yang penuh semangat kerap dibagikan di media sosial dan membuatnya dikenal sebagai pribadi yang ceria, ramah, dan mudah bergaul dengan siapa saja.
“Beliau sangat aktif, sehat, bahkan sering mengalahkan kami yang masih muda saat berolahraga. Hobi mendaki ini ditekuni dengan sungguh-sungguh, mungkin karena rasa ingin tahu dan ingin menaklukkan tantangan baru,” ungkap Wawan, Rabu (5/7).
Wawan mengaku bahwa tepat dua minggu sebelum berangkat ke Bondowoso, perempuan tangguh itu baru saja disambut kebahagiaan menjadi nenek dari anak tunggalnya yang tinggal di Bali.
“Dua minggu sebelum berangkat, putrinya baru melahirkan anak pertama. Beliau sangat bahagia menyambut kehadiran cucunya itu,” jelasnya.
Menurut Wawan, jadwal pendakian seharusnya singkat berangkat Sabtu ke Bondowoso, Minggu pagi mulai mendaki, dan harus sudah turun sore hari itu juga.
Selama di perjalanan mendaki, Maliya masih sempat mengirim kabar kepada putrinya. Namun senja berganti malam, pesan tak lagi terbalas dan sejak Senin sama sekali tak ada kabar.
“Sosok beliau menyelesaikan ambisi mungkin. Karena sudah pernah menaiki gunung mana-mana, akhirnya penasaran lalu dicoba, melawan rasa penasaran. Usianya itu seharusnya usia istirahat, tapi beliau masih aktif di usia 51 tahun,” ungkapnya.
Diketahui sebelumnya Maliya dan Irfan memulai pendakian Minggu pagi pukul 07.00 WIB melalui jalur Dusun Tegal Tengah, bahkan sempat menitipkan sepeda motor miliknya di rumah warga dekat lokasi. Ketika kendaraan tak diambil hingga Senin, warga mulai curiga dan segera melapor ke pihak berwajib.
Tim gabungan aparat, TNI, dan relawan segera menyisir jalur yang dilalui. Pada Selasa siang, pencarian menemukan kenyataan pahit jasad keduanya terjatuh sekitar 60 meter ke dalam jurang curam, berada di kedalaman sekitar 470 meter dari jalur utama. Keduanya ditemukan berdekatan satu sama lain.

