17 March 2026, 18:44 PM WIB

Berumrah di Tengah Perang di Timur Tengah (7): Di Bawah Langit Ka’bah, Kisah Cinta Jiwa pada Malam Seribu Bulan

spot_img

Umrah adalah perjalanan spiritual ke tanah suci yang dirindukan umat muslim sedunia. Namun, berumrah di tengah situasi konflik perang di Timur Tengah saat ini tentu perjalanan yang tidak mudah. Berikut catatan Dr. Machsus, ST. MT., Wakil Rektor II ITS dan anggota Komunitas S36A, yang sedang berumrah ke tanah Suci. 

———–-

DI sepuluh malam terakhir Ramadhan, jutaan manusia datang ke satu tempat yang sama dengan harapan yang serupa, yakni menemukan satu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.

Mereka berjalan, berdoa, menangis, dan berharap, seolah seluruh hidupnya sedang dititipkan kepada langit. Di bawah langit Ka’bah, pencarian itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih sunyi, yakni kisah cinta antara jiwa manusia dan Tuhannya.

Di bawah langit Ka’bah, malam tidak pernah benar-benar sunyi. Jutaan manusia mengalir mengelilingi rumah suci itu seperti arus doa yang tak pernah berhenti sejak berabad-abad lalu. Dari berbagai penjuru dunia mereka datang membawa harapan yang sama, yakni menemukan satu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.

Lampu-lampu Masjidil Haram memang menyala terang. Namun cahaya yang sesungguhnya justru terpancar dari hati-hati yang bergetar dalam doa. Pada malam-malam seperti ini, manusia tidak sekadar beribadah; ia sedang menunggu sebuah pertemuan yang sunyi antara jiwanya dan langit.

Di sepuluh malam terakhir Ramadhan, waktu di Tanah Haram terasa berjalan dengan cara yang berbeda. Malam menjadi lebih panjang, doa terasa lebih dalam, dan air mata mengalir lebih mudah tanpa diminta. Setiap sujud seperti membawa manusia semakin dekat kepada sesuatu yang tak terlihat, tetapi sangat dirindukan oleh hati.

Lautan Manusia di Pelataran

Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, Masjidil Haram tampak seperti samudra manusia yang tak bertepi. Jemaah dari berbagai bangsa, bahasa, dan warna kulit berkumpul dalam satu arah yang sama: menghadap Ka’bah, pusat orientasi spiritual umat Islam.

Tawaf berlangsung tanpa henti. Putaran manusia itu seperti pusaran waktu yang mengingatkan kita pada perjalanan hidup sendiri, yakni berputar, kembali, lalu berputar lagi dalam pencarian makna.

Namun di tengah lautan manusia itu justru terasa kesunyian yang dalam. Setiap orang seperti menemukan ruang pribadinya untuk berbicara dengan Tuhan. Ada yang membaca Al-Qur’an dengan suara lirih, ada yang tenggelam dalam sujud panjang, dan ada pula yang hanya duduk diam menatap Ka’bah dengan mata yang berkaca-kaca.

Keramaian itu bukan sekadar kerumunan. Ia adalah perjumpaan kolektif antara harapan manusia dan rahmat langit.

Sepuluh Malam Menggetarkan

Sepuluh malam terakhir Ramadhan selalu memiliki getaran yang berbeda dalam tradisi Islam. Rasulullah SAW memberi perhatian khusus pada malam-malam ini: memperbanyak ibadah dan membangunkan keluarganya agar tidak melewatkan waktu yang penuh keberkahan itu.

Di dalamnya tersembunyi Lailatul Qadar, yakni malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.

Di Masjidil Haram, suasana malam-malam itu terasa semakin intens. Orang-orang rela duduk berjam-jam menahan kantuk, menunggu waktu-waktu doa yang diyakini penuh rahmat. Tak sedikit yang bertahan sepanjang malam hanya agar hatinya tidak tertinggal dari kesempatan yang mungkin hanya datang sekali seumur hidup.

Bagi banyak jemaah, pencarian Lailatul Qadar bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah perjalanan batin yang dipenuhi kerinduan.

Do’a, Bahasa Jiwa

Pada malam-malam seperti ini, doa tidak lagi sekadar rangkaian kata yang dihafal. Ia berubah menjadi bahasa jiwa yang paling jujur.

Di pelataran Ka’bah, air mata sering kali mengalir tanpa penjelasan. Mungkin karena manusia akhirnya berani membuka seluruh lapisan dirinya. Kesalahan masa lalu, kegelisahan hidup, dan harapan yang lama disimpan dalam diam.

Di antara jutaan doa yang terangkat ke langit itu, saya pun menyelipkan doa-doa yang sangat pribadi. Kami mendoakan keluarga kami agar selalu berada dalam lindungan dan keberkahan Allah.

Kami juga mendoakan institusi yang kami cintai, kampus pahlawan ITS, yang sedang menapaki jalan panjang menuju universitas kelas dunia. Jalan itu tidak ringan, tetapi harapan untuk melahirkan karya-karya intelektual yang bermanfaat bagi bangsa selalu memberi energi untuk terus melangkah.

Di dalam doa itu pula terlintas amanah yang sedang kami emban, khususnya pada Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Sarana Prasarana, yang meliputi: Direktorat Perencanaan dan Pengembangan Strategis (DPPS), Biro Keuangan (BK), Biro Manajemen Aset (BMA) dan Unit Kerja Pengadaan Barang dan Jasa (UKPBJ), dan tentunya do’a untuk segenap civitas akademika. Kami memohon agar setiap langkah pengelolaan yang kami lakukan selalu diberi kejernihan niat, kebijaksanaan dalam keputusan, dan keberkahan dalam hasilnya.

Kami juga menitipkan doa bagi para sahabat dan kolega, terutama mereka yang sedang diuji dengan sakit. Semoga Allah memberi kesembuhan, kekuatan, dan ketenangan bagi mereka dan keluarganya, terutama bagi sahabatku yang sedang berjuang untuk kesembuhan dari penyakit kanker yang dideritanya.

Di bawah langit Ka’bah, doa-doa seperti ini terasa sederhana. Tetapi justru di sanalah kedalamannya, yakni ketika kehidupan dunia yang penuh tanggung jawab dipertemukan dengan harapan-harapan yang hanya bisa dititipkan kepada langit.

Zamzam, Air Harapan

Di dekat Ka’bah mengalir sebuah air yang telah menjadi bagian dari sejarah spiritual umat Islam: Zamzam.

Air ini bukan sekadar minuman bagi para jemaah yang kehausan setelah tawaf atau sa’i. Ia adalah simbol harapan yang diwariskan sejak kisah Hajar dan Nabi Ismail berabad-abad lalu.

Banyak jemaah meminum Zamzam sambil memanjatkan doa-doa yang paling dalam. Ada yang memohon kesehatan, ada yang berharap keberkahan hidup, dan ada pula yang hanya ingin hatinya menjadi lebih tenang.

Dalam tradisi Islam, Zamzam sering disebut sebagai air yang diminum sesuai dengan niat orang yang meminumnya.

Di keluarga besar kami, bahkan ada seorang keponakan yang diberi nama dan dipanggil dengan panggilan Zamzam.

Nama itu bukan sekadar panggilan, melainkan doa, agar hidupnya kelak mengalir membawa keberkahan, sebagaimana air Zamzam yang tak pernah berhenti mengalir sejak ribuan tahun lalu.

Setiap teguk Zamzam pada malam Ramadhan seperti ini terasa seperti pengingat bahwa rahmat Tuhan tidak pernah kering.

LQ, Malam Pembaruan Jiwa

Lailatul Qadar sering dipahami sebagai malam yang penuh pahala. Namun lebih dari itu, ia adalah malam pembaruan spiritual.

Pada malam itulah langit seakan membuka kesempatan bagi manusia untuk memperbarui dirinya.

Kesalahan masa lalu tidak lagi terasa sebagai beban yang tak termaafkan. Masa depan yang semula tampak gelap perlahan menemukan cahaya harapan.

Banyak orang merasakan seolah hidupnya sedang menjalani sebuah pembaruan. Kesempatan untuk memulai kembali dengan hati yang lebih bersih dan niat yang lebih jernih.

Cinta Sunyi, Jiwa & Langit

Hubungan manusia dengan Tuhan sering digambarkan sebagai hubungan ketaatan. Namun pada malam-malam seperti ini, hubungan itu terasa lebih lembut, seperti kisah cinta yang sunyi antara jiwa dan langit.

Cinta yang tidak membutuhkan banyak kata. Ia hadir dalam sujud panjang, doa lirih, dan air mata yang jatuh tanpa suara.

Di bawah langit Ka’bah, manusia belajar mencintai Tuhan dengan cara yang paling sederhana, yakni menyerahkan seluruh kegelisahan hidupnya kepada Yang Maha Mendengar.

MH, Tempat Belajar Pulang

Tanah Haram memiliki cara yang unik untuk mengajarkan manusia tentang dirinya sendiri. Di hadapan Ka’bah, segala kebanggaan dunia terasa mengecil.

Jabatan, kekayaan, dan status sosial kehilangan maknanya ketika manusia berdiri dalam pakaian sederhana, ihram, menghadap rumah suci yang sama.

Tidak terkecuali jabatan di perguruan tinggi seperti rektor, wakil rektor, sekretaris institut, dekan, wakil dekan, direktur, kabiro, kadep, kalab, anggota majelis wali amanat, anggota senat akademik, anggota dewan profesor dan jabatan lainnya.

Bahkan juga tidak terkecuali untuk jabatan presiden, wakil presiden, menteri, anggota dewan, dan jabatan lainnya.

Di tempat ini, manusia seperti diingatkan kembali bahwa hidup pada akhirnya adalah perjalanan pulang.

Fajar di Pelataran Ka’bah

Menjelang fajar, pelataran Masjidil Haram masih dipenuhi manusia yang berdoa dengan khusyuk. Sebagian menengadahkan tangan, sebagian menundukkan wajah yang basah oleh air mata.

Tak seorang pun benar-benar tahu kapan Lailatul Qadar datang. Namun di bawah langit Ka’bah, banyak jiwa merasa sesuatu telah berubah di dalam dirinya. Seolah hati yang lama telah dilepaskan dan sebuah hati yang baru sedang dilahirkan.

Ketika fajar akhirnya menyingsing di atas Makkah, setiap jiwa pulang dengan kisah cintanya sendiri. Sebab pada akhirnya, perjalanan ke Tanah Haram bukan sekadar perjalanan menuju sebuah tempat. Ia adalah perjalanan menuju hati manusia sendiri.

Ka’bah berdiri di tengah kota Makkah. Namun gema maknanya sering terus hidup jauh di dalam dada para peziarah yang pernah bersujud di hadapannya.

Dari sanalah, manusia belajar satu hal yang sederhana namun abadi bahwa setiap langkah hidup pada akhirnya adalah perjalanan pulang menuju Tuhan. (*/bersambung)

spot_img

Umrah adalah perjalanan spiritual ke tanah suci yang dirindukan umat muslim sedunia. Namun, berumrah di tengah situasi konflik perang di Timur Tengah saat ini tentu perjalanan yang tidak mudah. Berikut catatan Dr. Machsus, ST. MT., Wakil Rektor II ITS dan anggota Komunitas S36A, yang sedang berumrah ke tanah Suci. 

———–-

DI sepuluh malam terakhir Ramadhan, jutaan manusia datang ke satu tempat yang sama dengan harapan yang serupa, yakni menemukan satu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.

Mereka berjalan, berdoa, menangis, dan berharap, seolah seluruh hidupnya sedang dititipkan kepada langit. Di bawah langit Ka’bah, pencarian itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih sunyi, yakni kisah cinta antara jiwa manusia dan Tuhannya.

Di bawah langit Ka’bah, malam tidak pernah benar-benar sunyi. Jutaan manusia mengalir mengelilingi rumah suci itu seperti arus doa yang tak pernah berhenti sejak berabad-abad lalu. Dari berbagai penjuru dunia mereka datang membawa harapan yang sama, yakni menemukan satu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.

Lampu-lampu Masjidil Haram memang menyala terang. Namun cahaya yang sesungguhnya justru terpancar dari hati-hati yang bergetar dalam doa. Pada malam-malam seperti ini, manusia tidak sekadar beribadah; ia sedang menunggu sebuah pertemuan yang sunyi antara jiwanya dan langit.

Di sepuluh malam terakhir Ramadhan, waktu di Tanah Haram terasa berjalan dengan cara yang berbeda. Malam menjadi lebih panjang, doa terasa lebih dalam, dan air mata mengalir lebih mudah tanpa diminta. Setiap sujud seperti membawa manusia semakin dekat kepada sesuatu yang tak terlihat, tetapi sangat dirindukan oleh hati.

Lautan Manusia di Pelataran

Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, Masjidil Haram tampak seperti samudra manusia yang tak bertepi. Jemaah dari berbagai bangsa, bahasa, dan warna kulit berkumpul dalam satu arah yang sama: menghadap Ka’bah, pusat orientasi spiritual umat Islam.

Tawaf berlangsung tanpa henti. Putaran manusia itu seperti pusaran waktu yang mengingatkan kita pada perjalanan hidup sendiri, yakni berputar, kembali, lalu berputar lagi dalam pencarian makna.

Namun di tengah lautan manusia itu justru terasa kesunyian yang dalam. Setiap orang seperti menemukan ruang pribadinya untuk berbicara dengan Tuhan. Ada yang membaca Al-Qur’an dengan suara lirih, ada yang tenggelam dalam sujud panjang, dan ada pula yang hanya duduk diam menatap Ka’bah dengan mata yang berkaca-kaca.

Keramaian itu bukan sekadar kerumunan. Ia adalah perjumpaan kolektif antara harapan manusia dan rahmat langit.

Sepuluh Malam Menggetarkan

Sepuluh malam terakhir Ramadhan selalu memiliki getaran yang berbeda dalam tradisi Islam. Rasulullah SAW memberi perhatian khusus pada malam-malam ini: memperbanyak ibadah dan membangunkan keluarganya agar tidak melewatkan waktu yang penuh keberkahan itu.

Di dalamnya tersembunyi Lailatul Qadar, yakni malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.

Di Masjidil Haram, suasana malam-malam itu terasa semakin intens. Orang-orang rela duduk berjam-jam menahan kantuk, menunggu waktu-waktu doa yang diyakini penuh rahmat. Tak sedikit yang bertahan sepanjang malam hanya agar hatinya tidak tertinggal dari kesempatan yang mungkin hanya datang sekali seumur hidup.

Bagi banyak jemaah, pencarian Lailatul Qadar bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah perjalanan batin yang dipenuhi kerinduan.

Do’a, Bahasa Jiwa

Pada malam-malam seperti ini, doa tidak lagi sekadar rangkaian kata yang dihafal. Ia berubah menjadi bahasa jiwa yang paling jujur.

Di pelataran Ka’bah, air mata sering kali mengalir tanpa penjelasan. Mungkin karena manusia akhirnya berani membuka seluruh lapisan dirinya. Kesalahan masa lalu, kegelisahan hidup, dan harapan yang lama disimpan dalam diam.

Di antara jutaan doa yang terangkat ke langit itu, saya pun menyelipkan doa-doa yang sangat pribadi. Kami mendoakan keluarga kami agar selalu berada dalam lindungan dan keberkahan Allah.

Kami juga mendoakan institusi yang kami cintai, kampus pahlawan ITS, yang sedang menapaki jalan panjang menuju universitas kelas dunia. Jalan itu tidak ringan, tetapi harapan untuk melahirkan karya-karya intelektual yang bermanfaat bagi bangsa selalu memberi energi untuk terus melangkah.

Di dalam doa itu pula terlintas amanah yang sedang kami emban, khususnya pada Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Sarana Prasarana, yang meliputi: Direktorat Perencanaan dan Pengembangan Strategis (DPPS), Biro Keuangan (BK), Biro Manajemen Aset (BMA) dan Unit Kerja Pengadaan Barang dan Jasa (UKPBJ), dan tentunya do’a untuk segenap civitas akademika. Kami memohon agar setiap langkah pengelolaan yang kami lakukan selalu diberi kejernihan niat, kebijaksanaan dalam keputusan, dan keberkahan dalam hasilnya.

Kami juga menitipkan doa bagi para sahabat dan kolega, terutama mereka yang sedang diuji dengan sakit. Semoga Allah memberi kesembuhan, kekuatan, dan ketenangan bagi mereka dan keluarganya, terutama bagi sahabatku yang sedang berjuang untuk kesembuhan dari penyakit kanker yang dideritanya.

Di bawah langit Ka’bah, doa-doa seperti ini terasa sederhana. Tetapi justru di sanalah kedalamannya, yakni ketika kehidupan dunia yang penuh tanggung jawab dipertemukan dengan harapan-harapan yang hanya bisa dititipkan kepada langit.

Zamzam, Air Harapan

Di dekat Ka’bah mengalir sebuah air yang telah menjadi bagian dari sejarah spiritual umat Islam: Zamzam.

Air ini bukan sekadar minuman bagi para jemaah yang kehausan setelah tawaf atau sa’i. Ia adalah simbol harapan yang diwariskan sejak kisah Hajar dan Nabi Ismail berabad-abad lalu.

Banyak jemaah meminum Zamzam sambil memanjatkan doa-doa yang paling dalam. Ada yang memohon kesehatan, ada yang berharap keberkahan hidup, dan ada pula yang hanya ingin hatinya menjadi lebih tenang.

Dalam tradisi Islam, Zamzam sering disebut sebagai air yang diminum sesuai dengan niat orang yang meminumnya.

Di keluarga besar kami, bahkan ada seorang keponakan yang diberi nama dan dipanggil dengan panggilan Zamzam.

Nama itu bukan sekadar panggilan, melainkan doa, agar hidupnya kelak mengalir membawa keberkahan, sebagaimana air Zamzam yang tak pernah berhenti mengalir sejak ribuan tahun lalu.

Setiap teguk Zamzam pada malam Ramadhan seperti ini terasa seperti pengingat bahwa rahmat Tuhan tidak pernah kering.

LQ, Malam Pembaruan Jiwa

Lailatul Qadar sering dipahami sebagai malam yang penuh pahala. Namun lebih dari itu, ia adalah malam pembaruan spiritual.

Pada malam itulah langit seakan membuka kesempatan bagi manusia untuk memperbarui dirinya.

Kesalahan masa lalu tidak lagi terasa sebagai beban yang tak termaafkan. Masa depan yang semula tampak gelap perlahan menemukan cahaya harapan.

Banyak orang merasakan seolah hidupnya sedang menjalani sebuah pembaruan. Kesempatan untuk memulai kembali dengan hati yang lebih bersih dan niat yang lebih jernih.

Cinta Sunyi, Jiwa & Langit

Hubungan manusia dengan Tuhan sering digambarkan sebagai hubungan ketaatan. Namun pada malam-malam seperti ini, hubungan itu terasa lebih lembut, seperti kisah cinta yang sunyi antara jiwa dan langit.

Cinta yang tidak membutuhkan banyak kata. Ia hadir dalam sujud panjang, doa lirih, dan air mata yang jatuh tanpa suara.

Di bawah langit Ka’bah, manusia belajar mencintai Tuhan dengan cara yang paling sederhana, yakni menyerahkan seluruh kegelisahan hidupnya kepada Yang Maha Mendengar.

MH, Tempat Belajar Pulang

Tanah Haram memiliki cara yang unik untuk mengajarkan manusia tentang dirinya sendiri. Di hadapan Ka’bah, segala kebanggaan dunia terasa mengecil.

Jabatan, kekayaan, dan status sosial kehilangan maknanya ketika manusia berdiri dalam pakaian sederhana, ihram, menghadap rumah suci yang sama.

Tidak terkecuali jabatan di perguruan tinggi seperti rektor, wakil rektor, sekretaris institut, dekan, wakil dekan, direktur, kabiro, kadep, kalab, anggota majelis wali amanat, anggota senat akademik, anggota dewan profesor dan jabatan lainnya.

Bahkan juga tidak terkecuali untuk jabatan presiden, wakil presiden, menteri, anggota dewan, dan jabatan lainnya.

Di tempat ini, manusia seperti diingatkan kembali bahwa hidup pada akhirnya adalah perjalanan pulang.

Fajar di Pelataran Ka’bah

Menjelang fajar, pelataran Masjidil Haram masih dipenuhi manusia yang berdoa dengan khusyuk. Sebagian menengadahkan tangan, sebagian menundukkan wajah yang basah oleh air mata.

Tak seorang pun benar-benar tahu kapan Lailatul Qadar datang. Namun di bawah langit Ka’bah, banyak jiwa merasa sesuatu telah berubah di dalam dirinya. Seolah hati yang lama telah dilepaskan dan sebuah hati yang baru sedang dilahirkan.

Ketika fajar akhirnya menyingsing di atas Makkah, setiap jiwa pulang dengan kisah cintanya sendiri. Sebab pada akhirnya, perjalanan ke Tanah Haram bukan sekadar perjalanan menuju sebuah tempat. Ia adalah perjalanan menuju hati manusia sendiri.

Ka’bah berdiri di tengah kota Makkah. Namun gema maknanya sering terus hidup jauh di dalam dada para peziarah yang pernah bersujud di hadapannya.

Dari sanalah, manusia belajar satu hal yang sederhana namun abadi bahwa setiap langkah hidup pada akhirnya adalah perjalanan pulang menuju Tuhan. (*/bersambung)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait