Surabaya Gencar Tracing Screening TBC Gunakan Teknologi Pemeriksaan Air Liur

METROTODAY, SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus mempercepat upaya penanggulangan Tuberkulosis (TBC) melalui kegiatan pelacakan kontak (tracing) dan pemeriksaan skrining yang dilaksanakan secara rutin di berbagai wilayah.

Hingga Mei 2026, capaian pemeriksaan terduga TBC menunjukkan perkembangan yang signifikan sebagai langkah mendukung target nasional eliminasi TBC pada tahun 2030.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut difokuskan pada lima area utama di Kota Surabaya yang diperiksa setiap minggunya.

“Kita punya kegiatan untuk tracing dan screening. Di Surabaya ini ada lima area yang setiap minggu itu kita lakukan kegiatan untuk pelacakan dan pemeriksaan,” ujar dr Billy, Kamis (11/6).

Ia membedakan dua metode pendekatan yang diterapkan. Pelacakan kontak ditujukan bagi orang yang pernah berinteraksi erat dengan penderita, sedangkan skrining ditujukan bagi masyarakat umum yang tidak menunjukkan gejala maupun tidak memiliki riwayat kontak dengan pasien.

“Jadi tracing ini untuk yang kontak erat. Sedangkan screening untuk yang tidak bergejala, dan tidak pernah kontak juga,” katanya.

Berdasarkan data Dinkes Surabaya periode Januari hingga Mei 2026, dari target penemuan 61.624 orang terduga TBC, sebanyak 44.088 orang telah diperiksa atau mencapai 71,54 persen. Sementara itu, kegiatan skrining telah menjangkau 644.201 penduduk atau setara 45,78 persen dari target 50 persen jumlah penduduk yang harus diperiksa.

Dari estimasi 11.412 kasus TBC di tahun 2026, telah ditemukan 4.191 kasus, yang terdiri dari 4.078 kasus TBC sensitif obat (SO) dan 113 kasus TBC resistan obat (RO). Saat ini, sebanyak 4.166 pasien tengah menjalani pengobatan di seluruh fasilitas kesehatan.

Untuk kasus TBC sensitif obat, 3.443 pasien atau 84,43 persen telah memulai terapi. Sedangkan dari kasus TBC resistan obat, sebanyak 90 orang atau 79,65 persen telah mendapatkan penanganan. Tingkat keberhasilan pengobatan TBC sensitif obat tercatat sebesar 89,36 persen, dengan angka kematian selama pengobatan mencapai 1,80 persen. Selain itu, telah dilakukan 2.461 investigasi kontak dan 2.729 orang mendapatkan terapi pencegahan untuk memutus rantai penularan.

dr. Billy menilai capaian tersebut menunjukkan kemajuan yang baik, mengingat hingga pertengahan tahun, pemeriksaan telah menjangkau lebih dari separuh target yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.

“Nah, sampai bulan Mei kemarin kita sudah lakukan pemeriksaan itu terhadap sekitar 50 persen lebih dari 68.000 estimasi target penemuan yang diberikan Kemenkes ke Kota Surabaya,” ungkapnya.

Dalam pelaksanaannya, salah satu kegiatan dilakukan di Puskesmas Sawah Pulo, Kecamatan Semampir, dengan melibatkan tenaga ahli dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dokter spesialis paru, serta residen.

“Di sana kita libatkan FK Unair, dokter spesialis paru dan residen paru. Ada sekitar enam orang beserta kepala instalasi rawat inapnya yang turun ke lapangan,” ujarnya.

Terobosan lain yang diterapkan adalah penggunaan alat pemeriksaan terbaru yang lebih praktis. Jika sebelumnya memerlukan sampel dahak, alat ini dapat mendeteksi TBC hanya dengan menggunakan air liur.

“Ada alat untuk pemeriksaan baru. Kalau selama ini kan kita harus pakai dahak. Nah, kesulitan untuk mendapatkan dahak ini, ternyata ada alat yang bisa membantu kita, cukup air liur saja kita bisa mendeteksinya,” jelas dr Billy.

Pengembangan metode ini juga mendapatkan dukungan dari tim ahli internasional. “Jadi, kegiatan itu didukung oleh tim ahli juga dari Cina dan Korea,” imbuhnya.

Begitu kasus ditemukan, penanganan dilakukan secara langsung. Obat dan paket terapi telah tersedia di seluruh puskesmas agar pasien segera mendapatkan pengobatan.

“Jadi langkah dari pelacakan dan pemeriksaan ini begitu kita temukan, langsung kita terapi. Setelah diagnosis selesai, pengobatan segera dimulai. Paket-paket terapi ini sudah tersedia di setiap puskesmas,” bebernya.

Untuk memastikan keberhasilan, dilakukan pendampingan ketat oleh Kader Surabaya Hebat, petugas puskesmas, dan tim Dinkes. Hal ini penting mengingat durasi pengobatan yang cukup panjang seringkali membuat pasien merasa lelah.

“Kita terus memantau dan memotivasi agar obat yang diberikan benar-benar diminum. Karena terapi yang cukup panjang kadang membuat pasien jenuh, jadi kita berikan semangat agar mereka tetap disiplin,” tuturnya.

Pemerintah Kota Surabaya berharap upaya ini mendukung target nasional eliminasi TBC pada 2030, sesuai Perpres Nomor 67 Tahun 2021 yang menargetkan penurunan kasus menjadi 65 per 100.000 penduduk dan angka kematian menjadi 6 per 100.000 penduduk.

“Kita harapkan paling tidak target dari Kementerian Kesehatan dapat tercapai, sehingga angka eliminasi TBC yang diharapkan pada tahun 2030 bisa terwujud,” pungkasnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus mempercepat upaya penanggulangan Tuberkulosis (TBC) melalui kegiatan pelacakan kontak (tracing) dan pemeriksaan skrining yang dilaksanakan secara rutin di berbagai wilayah.

Hingga Mei 2026, capaian pemeriksaan terduga TBC menunjukkan perkembangan yang signifikan sebagai langkah mendukung target nasional eliminasi TBC pada tahun 2030.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut difokuskan pada lima area utama di Kota Surabaya yang diperiksa setiap minggunya.

“Kita punya kegiatan untuk tracing dan screening. Di Surabaya ini ada lima area yang setiap minggu itu kita lakukan kegiatan untuk pelacakan dan pemeriksaan,” ujar dr Billy, Kamis (11/6).

Ia membedakan dua metode pendekatan yang diterapkan. Pelacakan kontak ditujukan bagi orang yang pernah berinteraksi erat dengan penderita, sedangkan skrining ditujukan bagi masyarakat umum yang tidak menunjukkan gejala maupun tidak memiliki riwayat kontak dengan pasien.

“Jadi tracing ini untuk yang kontak erat. Sedangkan screening untuk yang tidak bergejala, dan tidak pernah kontak juga,” katanya.

Berdasarkan data Dinkes Surabaya periode Januari hingga Mei 2026, dari target penemuan 61.624 orang terduga TBC, sebanyak 44.088 orang telah diperiksa atau mencapai 71,54 persen. Sementara itu, kegiatan skrining telah menjangkau 644.201 penduduk atau setara 45,78 persen dari target 50 persen jumlah penduduk yang harus diperiksa.

Dari estimasi 11.412 kasus TBC di tahun 2026, telah ditemukan 4.191 kasus, yang terdiri dari 4.078 kasus TBC sensitif obat (SO) dan 113 kasus TBC resistan obat (RO). Saat ini, sebanyak 4.166 pasien tengah menjalani pengobatan di seluruh fasilitas kesehatan.

Untuk kasus TBC sensitif obat, 3.443 pasien atau 84,43 persen telah memulai terapi. Sedangkan dari kasus TBC resistan obat, sebanyak 90 orang atau 79,65 persen telah mendapatkan penanganan. Tingkat keberhasilan pengobatan TBC sensitif obat tercatat sebesar 89,36 persen, dengan angka kematian selama pengobatan mencapai 1,80 persen. Selain itu, telah dilakukan 2.461 investigasi kontak dan 2.729 orang mendapatkan terapi pencegahan untuk memutus rantai penularan.

dr. Billy menilai capaian tersebut menunjukkan kemajuan yang baik, mengingat hingga pertengahan tahun, pemeriksaan telah menjangkau lebih dari separuh target yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.

“Nah, sampai bulan Mei kemarin kita sudah lakukan pemeriksaan itu terhadap sekitar 50 persen lebih dari 68.000 estimasi target penemuan yang diberikan Kemenkes ke Kota Surabaya,” ungkapnya.

Dalam pelaksanaannya, salah satu kegiatan dilakukan di Puskesmas Sawah Pulo, Kecamatan Semampir, dengan melibatkan tenaga ahli dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dokter spesialis paru, serta residen.

“Di sana kita libatkan FK Unair, dokter spesialis paru dan residen paru. Ada sekitar enam orang beserta kepala instalasi rawat inapnya yang turun ke lapangan,” ujarnya.

Terobosan lain yang diterapkan adalah penggunaan alat pemeriksaan terbaru yang lebih praktis. Jika sebelumnya memerlukan sampel dahak, alat ini dapat mendeteksi TBC hanya dengan menggunakan air liur.

“Ada alat untuk pemeriksaan baru. Kalau selama ini kan kita harus pakai dahak. Nah, kesulitan untuk mendapatkan dahak ini, ternyata ada alat yang bisa membantu kita, cukup air liur saja kita bisa mendeteksinya,” jelas dr Billy.

Pengembangan metode ini juga mendapatkan dukungan dari tim ahli internasional. “Jadi, kegiatan itu didukung oleh tim ahli juga dari Cina dan Korea,” imbuhnya.

Begitu kasus ditemukan, penanganan dilakukan secara langsung. Obat dan paket terapi telah tersedia di seluruh puskesmas agar pasien segera mendapatkan pengobatan.

“Jadi langkah dari pelacakan dan pemeriksaan ini begitu kita temukan, langsung kita terapi. Setelah diagnosis selesai, pengobatan segera dimulai. Paket-paket terapi ini sudah tersedia di setiap puskesmas,” bebernya.

Untuk memastikan keberhasilan, dilakukan pendampingan ketat oleh Kader Surabaya Hebat, petugas puskesmas, dan tim Dinkes. Hal ini penting mengingat durasi pengobatan yang cukup panjang seringkali membuat pasien merasa lelah.

“Kita terus memantau dan memotivasi agar obat yang diberikan benar-benar diminum. Karena terapi yang cukup panjang kadang membuat pasien jenuh, jadi kita berikan semangat agar mereka tetap disiplin,” tuturnya.

Pemerintah Kota Surabaya berharap upaya ini mendukung target nasional eliminasi TBC pada 2030, sesuai Perpres Nomor 67 Tahun 2021 yang menargetkan penurunan kasus menjadi 65 per 100.000 penduduk dan angka kematian menjadi 6 per 100.000 penduduk.

“Kita harapkan paling tidak target dari Kementerian Kesehatan dapat tercapai, sehingga angka eliminasi TBC yang diharapkan pada tahun 2030 bisa terwujud,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait