16 March 2026, 2:35 AM WIB

Berumrah di Tengah Perang di Timur Tengah (5): Hotel Terbakar, Menggeser Takdir

spot_img

Umrah adalah perjalanan spiritual ke tanah suci yang dirindukan umat muslim sedunia. Namun, berumrah di tengah situasi konflik perang di Timur Tengah saat ini tentu perjalanan yang tidak mudah. Berikut catatan Dr. Machsus, ST. MT., Wakil Rektor II ITS dan anggota Komunitas S36A, yang sedang berumrah ke tanah Suci. 

———–-

MANUSIA selalu menyukai kepastian. Dalam perjalanan menuju ke Tanah Suci, kepastian itu biasanya hadir dalam bentuk hal-hal yang tampak sederhana: tiket yang sudah dicetak, koper yang telah ditutup, hotel yang telah dipesan, dan jadwal ibadah yang dibayangkan berjalan rapi dari hari ke hari.

Namun, perjalanan spiritual sering kali justru dimulai dari sesuatu yang tidak kita rencanakan. Sebuah perubahan kecil yang pada awalnya terasa seperti gangguan dalam rencana manusia.

Saya baru benar-benar memahami makna perubahan kecil itu beberapa hari setelah tiba di Makkah. Pagi itu, sebuah berita muncul di layar telepon: Hotel Mira Ajyad, hotel yang semula dijadwalkan menjadi tempat kami menginap, dilaporkan terbakar.

Saat membaca berita tersebut, ingatan saya langsung kembali ke sebuah momen di Bandara Juanda, beberapa jam sebelum keberangkatan menuju ke Tanah Suci. Saat itulah, kami diberi tahu bahwa hotel tersebut mendadak diganti.

Padahal sebelumnya, semuanya terasa sudah sangat pasti. Voucher hotel sudah kami pegang, nama tamu telah tercantum, dan jadwal menginap sudah ditentukan dengan jelas.

Dalam dokumen itu tertulis: Mira Ajyad Hotel, Ajyad Street, Makkah, 11–20 Maret 2026. Bahkan sebuah detail kecil juga tercatat dengan sangat spesifik: nomor kamar 412.

Kabar Mendadak

Di Bandara Juanda, beberapa jam sebelum keberangkatan, kabar itu datang tiba-tiba. Pihak travel menyampaikan bahwa hotel tempat kami dijadwalkan menginap harus diganti tanpa penjelasan panjang dan dengan keputusan yang sudah final.

Hotel yang sebelumnya dijanjikan adalah Mira Ajyad, sebuah hotel yang relatif dekat dengan Masjidil Haram. Bahkan, voucher pemesanannya telah berada di tangan kami. Namun menjelang keberangkatan, kami diberitahu bahwa kami harus dipindahkan ke hotel lain yang jaraknya lebih jauh.

Di antara para jemaah, kekecewaan kecil pun terasa. Bukan karena ingin bermewah-mewah, tetapi di Tanah Haram, jarak beberapa ratus meter saja bisa berarti banyak: tenaga yang lebih terkuras, waktu berjalan yang lebih panjang, serta kesempatan ibadah yang terasa lebih sempit.

Namun seperti banyak keputusan dalam perjalanan umrah, pilihan jemaah hampir selalu sama. Kami akhirnya menerima perubahan itu dengan sikap pasrah, sambil tetap melangkah menuju pesawat dengan niat yang sama: memenuhi panggilan ibadah.

Jarak dan Kesabaran

Di Makkah, jarak bukan sekadar ukuran meter. Ia sering kali menjadi ukuran tenaga, kesabaran, bahkan kesempatan untuk beribadah.

Berjalan menuju Masjidil Haram di tengah lautan manusia pada bulan Ramadan bukanlah perkara ringan, karena arus jemaah datang dari berbagai bangsa dan arah. Kadang perjalanan itu cukup panjang sebelum akhirnya menara-menara Masjidil Haram tampak menjulang di kejauhan.

WhatsApp Image 2026-03-13 at 13.15.53
Hotel Mira Ajyad yang ramai dikunjungi pengunjung sebelum kebakaran. (Foto: Istimewa)

Sesekali, dalam perjalanan tersebut, pikiran manusiawi sempat terlintas. Andai saja hotel kami yang semula tidak diganti. Namun, pikiran semacam itu biasanya segera tenggelam oleh kesadaran yang lebih besar. Kami datang ke Tanah Haram bukan untuk hotel yang dekat atau kamar yang nyaman, melainkan untuk ibadah. Di tempat ini pula banyak orang belajar bahwa perjalanan spiritual sering kali dimulai dari ketidaknyamanan kecil.

Berita yang Menggetarkan

Beberapa hari kemudian, sebuah berita muncul di layar telepon genggam. Hotel Mira Ajyad terbakar dengan asap hitam membumbung dari bangunan hotel di kawasan Ajyad yang tidak jauh dari Masjidil Haram.

Mobil pemadam kebakaran berbaris di jalan, sementara petugas keselamatan berupaya mengendalikan api dan mengevakuasi para jemaah dari gedung tersebut. Saya membaca berita itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Hotel yang tidak jadi kami tempati itu tiba-tiba kembali hadir dalam ingatan. Saya teringat pada detail kecil dalam voucher yang kami pegang sebelumnya: kamar nomor 412.

Itulah kamar yang seharusnya menjadi tempat kami beristirahat selama tinggal di Makkah. Namun dalam laporan lanjutan disebutkan bahwa beberapa kamar di lantai tersebut ikut dilalap api, dan kamar nomor 412 termasuk yang terkena kobaran si jago merah.

Saya terdiam cukup lama setelah membaca informasi itu. Kamar yang seharusnya menjadi tempat kami beristirahat setelah tawaf dan sa’i ternyata tidak pernah kami tempati.

Kamar yang secara administratif telah menjadi bagian dari rencana perjalanan kami kini justru hadir dalam berita kebakaran. Pada saat itulah, ingatan saya kembali pada momen kecil di Bandara Juanda ketika kami sempat mengeluh karena hotel diganti.

Ketika Takdir Bergeser

Di Tanah Haram, manusia sering datang dengan rencana yang sangat rapi. Hotel dipesan, kamar ditentukan, dan perjalanan disusun sedetail mungkin. Namun di tempat ini pula manusia sering diingatkan bahwa takdir tidak selalu berjalan mengikuti rancangan manusia. Kadang, ia hanya bergeser sedikit saja melalui keputusan yang tidak kita pahami.

Apa yang pada awalnya terasa seperti kekurangan bisa saja ternyata merupakan perlindungan. Apa yang sempat kita anggap sebagai kekecewaan kecil, mungkin justru bagian dari rencana yang jauh lebih besar.

Takdir sering kali bekerja dengan cara yang sunyi dan sederhana. Ia tidak selalu datang melalui peristiwa besar, tetapi justru melalui perubahan kecil yang sempat kita keluhkan.

Pelajaran Tanah Haram

Kini setiap kali berjalan menuju Masjidil Haram dari hotel yang baru, ingatan saya kembali pada peristiwa itu. Tentang sebuah hotel yang tak jadi kami tempati, tentang voucher yang sudah diterbitkan, dan tentang kamar nomor 412 yang seharusnya menjadi tempat kami menginap.

Beberapa hari kemudian, kamar itu justru hadir dalam berita kebakaran. Peristiwa kecil yang awalnya terasa mengecewakan tiba-tiba berubah menjadi pelajaran yang sangat dalam.

Di Tanah Haram, manusia sering belajar bahwa rencana manusia mungkin terlihat rapi, tetapi rencana Tuhan selalu lebih tahu. Ia tidak selalu menjelaskan alasannya kepada kita. Ia hanya menggeser langkah kita sedikit saja dari arah yang semula kita bayangkan. Dan sering kali, kita baru memahami maknanya setelah semuanya berlalu.

Pada akhirnya, saya menyadari sesuatu yang sederhana tetapi menggetarkan. Jarak antara keluhan manusia dan perlindungan Tuhan kadang hanya sebuah perubahan kecil yang tidak kita pahami.

Di Bandara Juanda, kami sempat kecewa karena hotel diganti. Di Makkah, kami baru mengerti bahwa perubahan kecil itu mungkin adalah cara Tuhan menggeser takdir kami. Sedikit saja, dari sebuah kamar yang akhirnya dilalap api.

Sejak saat itu, setiap kali melangkah menuju Masjidil Haram, hati saya seperti diingatkan kembali. Tidak semua yang tampak sebagai kehilangan adalah kerugian. Kadang, apa yang kita sebut kehilangan justru adalah cara Tuhan menjaga kita. (*/bersambung)

spot_img

Umrah adalah perjalanan spiritual ke tanah suci yang dirindukan umat muslim sedunia. Namun, berumrah di tengah situasi konflik perang di Timur Tengah saat ini tentu perjalanan yang tidak mudah. Berikut catatan Dr. Machsus, ST. MT., Wakil Rektor II ITS dan anggota Komunitas S36A, yang sedang berumrah ke tanah Suci. 

———–-

MANUSIA selalu menyukai kepastian. Dalam perjalanan menuju ke Tanah Suci, kepastian itu biasanya hadir dalam bentuk hal-hal yang tampak sederhana: tiket yang sudah dicetak, koper yang telah ditutup, hotel yang telah dipesan, dan jadwal ibadah yang dibayangkan berjalan rapi dari hari ke hari.

Namun, perjalanan spiritual sering kali justru dimulai dari sesuatu yang tidak kita rencanakan. Sebuah perubahan kecil yang pada awalnya terasa seperti gangguan dalam rencana manusia.

Saya baru benar-benar memahami makna perubahan kecil itu beberapa hari setelah tiba di Makkah. Pagi itu, sebuah berita muncul di layar telepon: Hotel Mira Ajyad, hotel yang semula dijadwalkan menjadi tempat kami menginap, dilaporkan terbakar.

Saat membaca berita tersebut, ingatan saya langsung kembali ke sebuah momen di Bandara Juanda, beberapa jam sebelum keberangkatan menuju ke Tanah Suci. Saat itulah, kami diberi tahu bahwa hotel tersebut mendadak diganti.

Padahal sebelumnya, semuanya terasa sudah sangat pasti. Voucher hotel sudah kami pegang, nama tamu telah tercantum, dan jadwal menginap sudah ditentukan dengan jelas.

Dalam dokumen itu tertulis: Mira Ajyad Hotel, Ajyad Street, Makkah, 11–20 Maret 2026. Bahkan sebuah detail kecil juga tercatat dengan sangat spesifik: nomor kamar 412.

Kabar Mendadak

Di Bandara Juanda, beberapa jam sebelum keberangkatan, kabar itu datang tiba-tiba. Pihak travel menyampaikan bahwa hotel tempat kami dijadwalkan menginap harus diganti tanpa penjelasan panjang dan dengan keputusan yang sudah final.

Hotel yang sebelumnya dijanjikan adalah Mira Ajyad, sebuah hotel yang relatif dekat dengan Masjidil Haram. Bahkan, voucher pemesanannya telah berada di tangan kami. Namun menjelang keberangkatan, kami diberitahu bahwa kami harus dipindahkan ke hotel lain yang jaraknya lebih jauh.

Di antara para jemaah, kekecewaan kecil pun terasa. Bukan karena ingin bermewah-mewah, tetapi di Tanah Haram, jarak beberapa ratus meter saja bisa berarti banyak: tenaga yang lebih terkuras, waktu berjalan yang lebih panjang, serta kesempatan ibadah yang terasa lebih sempit.

Namun seperti banyak keputusan dalam perjalanan umrah, pilihan jemaah hampir selalu sama. Kami akhirnya menerima perubahan itu dengan sikap pasrah, sambil tetap melangkah menuju pesawat dengan niat yang sama: memenuhi panggilan ibadah.

Jarak dan Kesabaran

Di Makkah, jarak bukan sekadar ukuran meter. Ia sering kali menjadi ukuran tenaga, kesabaran, bahkan kesempatan untuk beribadah.

Berjalan menuju Masjidil Haram di tengah lautan manusia pada bulan Ramadan bukanlah perkara ringan, karena arus jemaah datang dari berbagai bangsa dan arah. Kadang perjalanan itu cukup panjang sebelum akhirnya menara-menara Masjidil Haram tampak menjulang di kejauhan.

WhatsApp Image 2026-03-13 at 13.15.53
Hotel Mira Ajyad yang ramai dikunjungi pengunjung sebelum kebakaran. (Foto: Istimewa)

Sesekali, dalam perjalanan tersebut, pikiran manusiawi sempat terlintas. Andai saja hotel kami yang semula tidak diganti. Namun, pikiran semacam itu biasanya segera tenggelam oleh kesadaran yang lebih besar. Kami datang ke Tanah Haram bukan untuk hotel yang dekat atau kamar yang nyaman, melainkan untuk ibadah. Di tempat ini pula banyak orang belajar bahwa perjalanan spiritual sering kali dimulai dari ketidaknyamanan kecil.

Berita yang Menggetarkan

Beberapa hari kemudian, sebuah berita muncul di layar telepon genggam. Hotel Mira Ajyad terbakar dengan asap hitam membumbung dari bangunan hotel di kawasan Ajyad yang tidak jauh dari Masjidil Haram.

Mobil pemadam kebakaran berbaris di jalan, sementara petugas keselamatan berupaya mengendalikan api dan mengevakuasi para jemaah dari gedung tersebut. Saya membaca berita itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Hotel yang tidak jadi kami tempati itu tiba-tiba kembali hadir dalam ingatan. Saya teringat pada detail kecil dalam voucher yang kami pegang sebelumnya: kamar nomor 412.

Itulah kamar yang seharusnya menjadi tempat kami beristirahat selama tinggal di Makkah. Namun dalam laporan lanjutan disebutkan bahwa beberapa kamar di lantai tersebut ikut dilalap api, dan kamar nomor 412 termasuk yang terkena kobaran si jago merah.

Saya terdiam cukup lama setelah membaca informasi itu. Kamar yang seharusnya menjadi tempat kami beristirahat setelah tawaf dan sa’i ternyata tidak pernah kami tempati.

Kamar yang secara administratif telah menjadi bagian dari rencana perjalanan kami kini justru hadir dalam berita kebakaran. Pada saat itulah, ingatan saya kembali pada momen kecil di Bandara Juanda ketika kami sempat mengeluh karena hotel diganti.

Ketika Takdir Bergeser

Di Tanah Haram, manusia sering datang dengan rencana yang sangat rapi. Hotel dipesan, kamar ditentukan, dan perjalanan disusun sedetail mungkin. Namun di tempat ini pula manusia sering diingatkan bahwa takdir tidak selalu berjalan mengikuti rancangan manusia. Kadang, ia hanya bergeser sedikit saja melalui keputusan yang tidak kita pahami.

Apa yang pada awalnya terasa seperti kekurangan bisa saja ternyata merupakan perlindungan. Apa yang sempat kita anggap sebagai kekecewaan kecil, mungkin justru bagian dari rencana yang jauh lebih besar.

Takdir sering kali bekerja dengan cara yang sunyi dan sederhana. Ia tidak selalu datang melalui peristiwa besar, tetapi justru melalui perubahan kecil yang sempat kita keluhkan.

Pelajaran Tanah Haram

Kini setiap kali berjalan menuju Masjidil Haram dari hotel yang baru, ingatan saya kembali pada peristiwa itu. Tentang sebuah hotel yang tak jadi kami tempati, tentang voucher yang sudah diterbitkan, dan tentang kamar nomor 412 yang seharusnya menjadi tempat kami menginap.

Beberapa hari kemudian, kamar itu justru hadir dalam berita kebakaran. Peristiwa kecil yang awalnya terasa mengecewakan tiba-tiba berubah menjadi pelajaran yang sangat dalam.

Di Tanah Haram, manusia sering belajar bahwa rencana manusia mungkin terlihat rapi, tetapi rencana Tuhan selalu lebih tahu. Ia tidak selalu menjelaskan alasannya kepada kita. Ia hanya menggeser langkah kita sedikit saja dari arah yang semula kita bayangkan. Dan sering kali, kita baru memahami maknanya setelah semuanya berlalu.

Pada akhirnya, saya menyadari sesuatu yang sederhana tetapi menggetarkan. Jarak antara keluhan manusia dan perlindungan Tuhan kadang hanya sebuah perubahan kecil yang tidak kita pahami.

Di Bandara Juanda, kami sempat kecewa karena hotel diganti. Di Makkah, kami baru mengerti bahwa perubahan kecil itu mungkin adalah cara Tuhan menggeser takdir kami. Sedikit saja, dari sebuah kamar yang akhirnya dilalap api.

Sejak saat itu, setiap kali melangkah menuju Masjidil Haram, hati saya seperti diingatkan kembali. Tidak semua yang tampak sebagai kehilangan adalah kerugian. Kadang, apa yang kita sebut kehilangan justru adalah cara Tuhan menjaga kita. (*/bersambung)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait