Dari Kawasan Lokalisasi jadi Ruang Berkarya, Tangan-Tangan Kecil Membatik di Eks Gang Dolly Surabaya

METROTODAY, SURABAYA – Suasana hangat penuh tawa memenuhi Pasar Burung Dolly, RW 12 Kelurahan Putat Jaya, Surabaya. Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, puluhan orang tua dan relawan mendampingi 40 anak menyusun pola batik dan berkreasi menggunakan alat canting hasil daur ulang limbah.

Kawasan yang dulu dikenal sebagai lokalisasi terbesar di Asia Tenggara itu kini telah bertransformasi total. Pasca penutupan, Gang Dolly perlahan berubah menjadi ruang publik yang hidup melalui kegiatan pendidikan, seni, dan pemberdayaan ekonomi.

Pasar Burung Dolly yang dulunya sekadar tempat transaksi, kini menjadi ruang belajar dan berkarya warga. Di sinilah Kelompok Usaha Bersama (KUB) Genarta mengembangkan batik cap.

Bekerja sama dengan Universitas Kristen (UK) Petra, mereka memperkenalkan inovasi bernama Cantikyu, sebuah canting cap ramah lingkungan yang dibuat dari limbah kertas dan kayu, sekaligus berfungsi sebagai alat peraga edukasi.

Hasil karya batik anak-anak di Pasar Butung Dolly RW 13, Putat Jaya, Surabaya. (Foto: Ahmad/Metrotoday)

Ketua tim pengabdian, Aniendya Christianna, menjelaskan kegiatan ini bukan sekadar melatih keterampilan membatik, melainkan menyampaikan nilai-nilai kehidupan.

“Edukit ini dirancang sebagai alat peraga pembelajaran moral, etika, dan seni budaya bagi anak, orang tua, maupun guru. Berbeda dengan kegiatan membatik pada umumnya, pada hari ini anak-anak tidak langsung memegang kain atau kuas pewarna. Mereka justru diajak memahami bahwa sebuah karya lahir dari proses yang membutuhkan ketelatenan,” terang Aniendya, Selasa (4/8).

Anak-anak diajak merakit canting dari potongan kertas dan kayu terlebih dahulu. Meski berkali-kali menemui kesulitan, pendamping senantiasa mengingatkan bahwa kesabaran adalah bagian tak terpisahkan dari membatik.

Setelah alat siap, barulah mereka mencelupkan canting ke lilin hangat dan mencapkannya ke kain putih.

METROTODAY, SURABAYA – Suasana hangat penuh tawa memenuhi Pasar Burung Dolly, RW 12 Kelurahan Putat Jaya, Surabaya. Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, puluhan orang tua dan relawan mendampingi 40 anak menyusun pola batik dan berkreasi menggunakan alat canting hasil daur ulang limbah.

Kawasan yang dulu dikenal sebagai lokalisasi terbesar di Asia Tenggara itu kini telah bertransformasi total. Pasca penutupan, Gang Dolly perlahan berubah menjadi ruang publik yang hidup melalui kegiatan pendidikan, seni, dan pemberdayaan ekonomi.

Pasar Burung Dolly yang dulunya sekadar tempat transaksi, kini menjadi ruang belajar dan berkarya warga. Di sinilah Kelompok Usaha Bersama (KUB) Genarta mengembangkan batik cap.

Bekerja sama dengan Universitas Kristen (UK) Petra, mereka memperkenalkan inovasi bernama Cantikyu, sebuah canting cap ramah lingkungan yang dibuat dari limbah kertas dan kayu, sekaligus berfungsi sebagai alat peraga edukasi.

Hasil karya batik anak-anak di Pasar Butung Dolly RW 13, Putat Jaya, Surabaya. (Foto: Ahmad/Metrotoday)

Ketua tim pengabdian, Aniendya Christianna, menjelaskan kegiatan ini bukan sekadar melatih keterampilan membatik, melainkan menyampaikan nilai-nilai kehidupan.

“Edukit ini dirancang sebagai alat peraga pembelajaran moral, etika, dan seni budaya bagi anak, orang tua, maupun guru. Berbeda dengan kegiatan membatik pada umumnya, pada hari ini anak-anak tidak langsung memegang kain atau kuas pewarna. Mereka justru diajak memahami bahwa sebuah karya lahir dari proses yang membutuhkan ketelatenan,” terang Aniendya, Selasa (4/8).

Anak-anak diajak merakit canting dari potongan kertas dan kayu terlebih dahulu. Meski berkali-kali menemui kesulitan, pendamping senantiasa mengingatkan bahwa kesabaran adalah bagian tak terpisahkan dari membatik.

Setelah alat siap, barulah mereka mencelupkan canting ke lilin hangat dan mencapkannya ke kain putih.

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait