Indonesia Kawasan Tektonik Aktif, Surabaya Siapkan Mitigasi Kesiapan Masyarakat Hadapi Bencana

METROTODAY, SURABAYA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya terus memperkuat kesiapan masyarakat menghadapi potensi bencana gempa bumi. Upaya ini dilakukan lewat edukasi mitigasi, penguatan pemahaman kebencanaan, serta pemantapan sarana pendukung seperti jalur evakuasi dan titik kumpul yang jelas di setiap lingkungan pemukiman.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Surabaya, Yanu Mardianto, mengimbau warga agar tidak mudah panik saat mendengar informasi terkait sesar aktif atau potensi gempa. Menurutnya, setiap informasi kebencanaan perlu dipahami secara utuh dan tepat, agar kewaspadaan meningkat tanpa berlebihan, serta warga tahu langkah apa yang harus diambil saat keadaan darurat tiba.

“Potensi itu memang ada, tetapi bukan berarti kita dapat memastikan kapan gempa akan terjadi. Karena itu, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap kemungkinan terjadinya gempa,” kata Yanu, Sabtu (12/9).

BPBD kota Surabaya saat menggelar simulasi kegawatdaruratan. Langkah ini menjadi bagian mitigasi bencana di Surabaya. (Foto: Istimewa)

Ia menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan konfirmasi dan koordinasi menyeluruh terkait data keberadaan patahan atau sesar di wilayah Surabaya. Berdasarkan kajian yang ada, memang teridentifikasi sejumlah indikasi sesar, namun perbedaan hasil pemetaan yang muncul adalah hal wajar karena didasarkan pada metode, pendekatan, serta skala penelitian yang berbeda‑beda.

Karena itu, informasi soal jumlah maupun lokasi sesar tidak boleh langsung dimaknai sebagai tanda gempa akan segera terjadi.

“Data kebencanaan perlu kita lihat berdasarkan metode dan skala pemetaannya. Yang terpenting bagi masyarakat bukan memperdebatkan jumlahnya, tetapi memahami bahwa ada potensi risiko yang perlu diantisipasi bersama,” jelasnya.

Yanu menegaskan, langkah paling nyata dan berguna adalah membangun kesiapan sejak dini. BPBD secara rutin menyebarluaskan pengetahuan tentang mitigasi, mulai dari cara mengenali jalur evakuasi, menentukan titik kumpul yang aman, hingga tindakan penyelamatan diri yang tepat saat gempa berlangsung.

“Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat siap. Kami melakukan sosialisasi mitigasi, termasuk bagaimana mengenali jalur evakuasi, menentukan titik kumpul, serta memahami apa yang harus dilakukan ketika terjadi gempa,” ujarnya.

BPBD kota Surabaya saat menggelar simulasi kegawatdaruratan. Langkah ini menjadi bagian mitigasi bencana di Surabaya. (Foto: Istimewa)

Edukasi ini ditujukan agar setiap warga mampu mengambil keputusan yang cepat dan tepat saat menghadapi bahaya. Pemahaman dan kesiapan tersebut harus dibangun mulai dari lingkungan keluarga, kampung, hingga tingkat kelurahan.

“Selain kesiapan masyarakat, BPBD juga terus mendorong penguatan mitigasi melalui lingkungan yang lebih tangguh terhadap bencana. Pengetahuan mengenai risiko, jalur evakuasi, titik kumpul, hingga langkah penyelamatan menjadi bagian penting dalam membangun kesiapan tersebut,” paparnya.

Ia juga mengingatkan agar warga tidak mudah terpancing atau percaya begitu saja pada kabar yang beredar di media sosial. Selalu peroleh informasi terkait bencana hanya dari sumber resmi dan terpercaya, agar tidak timbul kekhawatiran yang tidak beralasan.

“Jadi bukan panik, tetapi waspada dan siap. Kalau masyarakat sudah memahami apa yang harus dilakukan, ketika terjadi gempa mereka tidak lagi bingung menentukan langkah penyelamatan,” katanya.

Yanu menambahkan bahwa Indonesia memang berada di kawasan dengan aktivitas tektonik tinggi, sehingga kesiapsiagaan harus menjadi kebiasaan. Namun hal itu tidak perlu disikapi dengan rasa takut berlebihan.

“Mitigasi itu harus dilakukan sebelum bencana terjadi. Masyarakat perlu tahu risikonya, tahu jalur evakuasinya, tahu titik kumpulnya, dan tahu bagaimana menyelamatkan diri. Dengan begitu, ketika terjadi keadaan darurat, kita sudah lebih siap,” pungkasnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya terus memperkuat kesiapan masyarakat menghadapi potensi bencana gempa bumi. Upaya ini dilakukan lewat edukasi mitigasi, penguatan pemahaman kebencanaan, serta pemantapan sarana pendukung seperti jalur evakuasi dan titik kumpul yang jelas di setiap lingkungan pemukiman.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Surabaya, Yanu Mardianto, mengimbau warga agar tidak mudah panik saat mendengar informasi terkait sesar aktif atau potensi gempa. Menurutnya, setiap informasi kebencanaan perlu dipahami secara utuh dan tepat, agar kewaspadaan meningkat tanpa berlebihan, serta warga tahu langkah apa yang harus diambil saat keadaan darurat tiba.

“Potensi itu memang ada, tetapi bukan berarti kita dapat memastikan kapan gempa akan terjadi. Karena itu, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap kemungkinan terjadinya gempa,” kata Yanu, Sabtu (12/9).

BPBD kota Surabaya saat menggelar simulasi kegawatdaruratan. Langkah ini menjadi bagian mitigasi bencana di Surabaya. (Foto: Istimewa)

Ia menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan konfirmasi dan koordinasi menyeluruh terkait data keberadaan patahan atau sesar di wilayah Surabaya. Berdasarkan kajian yang ada, memang teridentifikasi sejumlah indikasi sesar, namun perbedaan hasil pemetaan yang muncul adalah hal wajar karena didasarkan pada metode, pendekatan, serta skala penelitian yang berbeda‑beda.

Karena itu, informasi soal jumlah maupun lokasi sesar tidak boleh langsung dimaknai sebagai tanda gempa akan segera terjadi.

“Data kebencanaan perlu kita lihat berdasarkan metode dan skala pemetaannya. Yang terpenting bagi masyarakat bukan memperdebatkan jumlahnya, tetapi memahami bahwa ada potensi risiko yang perlu diantisipasi bersama,” jelasnya.

Yanu menegaskan, langkah paling nyata dan berguna adalah membangun kesiapan sejak dini. BPBD secara rutin menyebarluaskan pengetahuan tentang mitigasi, mulai dari cara mengenali jalur evakuasi, menentukan titik kumpul yang aman, hingga tindakan penyelamatan diri yang tepat saat gempa berlangsung.

“Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat siap. Kami melakukan sosialisasi mitigasi, termasuk bagaimana mengenali jalur evakuasi, menentukan titik kumpul, serta memahami apa yang harus dilakukan ketika terjadi gempa,” ujarnya.

BPBD kota Surabaya saat menggelar simulasi kegawatdaruratan. Langkah ini menjadi bagian mitigasi bencana di Surabaya. (Foto: Istimewa)

Edukasi ini ditujukan agar setiap warga mampu mengambil keputusan yang cepat dan tepat saat menghadapi bahaya. Pemahaman dan kesiapan tersebut harus dibangun mulai dari lingkungan keluarga, kampung, hingga tingkat kelurahan.

“Selain kesiapan masyarakat, BPBD juga terus mendorong penguatan mitigasi melalui lingkungan yang lebih tangguh terhadap bencana. Pengetahuan mengenai risiko, jalur evakuasi, titik kumpul, hingga langkah penyelamatan menjadi bagian penting dalam membangun kesiapan tersebut,” paparnya.

Ia juga mengingatkan agar warga tidak mudah terpancing atau percaya begitu saja pada kabar yang beredar di media sosial. Selalu peroleh informasi terkait bencana hanya dari sumber resmi dan terpercaya, agar tidak timbul kekhawatiran yang tidak beralasan.

“Jadi bukan panik, tetapi waspada dan siap. Kalau masyarakat sudah memahami apa yang harus dilakukan, ketika terjadi gempa mereka tidak lagi bingung menentukan langkah penyelamatan,” katanya.

Yanu menambahkan bahwa Indonesia memang berada di kawasan dengan aktivitas tektonik tinggi, sehingga kesiapsiagaan harus menjadi kebiasaan. Namun hal itu tidak perlu disikapi dengan rasa takut berlebihan.

“Mitigasi itu harus dilakukan sebelum bencana terjadi. Masyarakat perlu tahu risikonya, tahu jalur evakuasinya, tahu titik kumpulnya, dan tahu bagaimana menyelamatkan diri. Dengan begitu, ketika terjadi keadaan darurat, kita sudah lebih siap,” pungkasnya. (ahm)

Ikuti Kami Untuk mendapatkan Berita menarik MetroToday
Google News

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait