OLEH: Machsus, Wakil Rektor II Institut Teknologi Sepuluh Nopember
KUNJUNGAN Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara ke Sidomulyo, Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, Sabtu (12/9), memperlihatkan bahwa pembangunan kawasan transmigrasi tidak cukup hanya membuka akses, membangun infrastruktur, atau menghadirkan teknologi.
Di antara inovasi energi, digitalisasi, pangan, dan pelayanan masyarakat, terdapat satu investasi yang hasilnya mungkin tidak segera terlihat, tetapi justru menentukan arah perjalanan dan wajah Papua ke depan, yakni investasi pendidikan anak-anaknya.
Lantaran jalan dapat membuka keterhubungan, listrik dapat menggerakkan aktivitas, dan teknologi dapat mempercepat pelayanan. Namun manusialah yang menentukan ke mana seluruh kemajuan itu akan dibawa.
Dari ruang-ruang kelas sederhana, anak-anak Papua mulai mengenal huruf dan angka, membaca dunia, memahami sains, berani bertanya, lalu belajar menemukan solusi.
Dari sanalah generasi patriot tumbuh sebagai generasi yang mencintai tanah kelahirannya, memahami persoalannya, dan memiliki pengetahuan serta keberanian untuk ikut membangun Papua sebagai bagian dari kemajuan Indonesia.
Membangun Patriot Papua
Pembangunan Papua sering dibayangkan melalui sesuatu yang besar, seperti jalan, jembatan, bandara, pelabuhan, listrik, telekomunikasi, dan berbagai infrastruktur lainnya. Semua itu penting dan tentunya tetap dibutuhkan.
Namun, ada infrastruktur yang tidak kalah menentukan masa depan Papua. Bentuknya jauh lebih sederhana, yakni ruang kelas yang membuat anak ingin belajar, guru yang menumbuhkan rasa ingin tahu, keluarga yang memahami kesehatan, dan posyandu yang hidup di tengah masyarakat. Di situlah pembangunan manusia dimulai.

Pengalaman di Kawasan Transmigrasi Momiwaren, Manokwari Selatan, menunjukkan bahwa pembangunan fisik perlu berjalan bersama peningkatan kualitas manusia. Infrastruktur memperoleh makna ketika membuat manusia lebih sehat, berpengetahuan, produktif, dan mandiri.
Lantaran itu, membangun Papua harus dimulai pula dengan membangun manusia Papua. Patriotisme tidak cukup ditumbuhkan melalui slogan, tetapi melalui pengetahuan, kecakapan, rasa percaya diri, dan kepedulian terhadap masyarakatnya. Patriot Papua adalah generasi yang kelak mampu berkata bahwa saya tumbuh di Papua, saya memahami persoalan Papua, dan saya ikut membangun Papua untuk Indonesia.
Membuka Jendela Dunia
Salah satu ikhtiar sederhana tetapi sangat bermakna adalah menghadirkan buku dalam kehidupan anak-anak. Sebanyak 3.000 buku “Membuka Jendela Dunia” diserahkan untuk mendukung gerakan literasi, Cerdas Calistung, dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), terutama bagi anak-anak asli Papua.
Buku mungkin tampak sederhana dibandingkan infrastruktur fisik. Namun, melalui buku seorang anak dapat mengenal tempat yang belum pernah dikunjunginya, gagasan yang belum pernah didengarnya, dan masa depan yang sebelumnya belum pernah dibayangkannya.


