Gubernur Jatim Khofifah: Penetrasi Ruang Digital Harus Diimbangi Literasi Digital dan Etika Bermedia

SURABAYA, METROTODAY – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan, tantangan menjaga persatuan bangsa kini tidak hanya terjadi di ruang fisik, tetapi juga di ruang digital. Tingginya penetrasi ruang digital harus diimbangi dengan penyebaran informasi yang positif dan bertanggung jawab.

Gubernur Jatim Khofifah menyampaikan pernyataan itu dalam Dialog Kebangsaan Jawa Timur yang bertema “Merawat Bhinneka Tunggal Ika, Memperkuat Persatuan Bangsa di Tengah Polarisasi Digital” di Resto Nine Surabaya pada Senin (3 Agustus 2026).

Hadir dalam dialog yang diinisiasi Polda Jawa Timur itu, antara lain, Gubernur Jawa Timur, Kapolda Jatim, Perwakilan Pangdam V/Brawijaya, Kejaksaan Tinggi Jatim, Pengadilan Tinggi Jatim, Ketua DPRD Jatim, serta utusan berbagai organisasi kemasyarakatan di Jawa Timur.

Gubernur Khofifah memaparkan, masyarakat Jawa Timur yang telah mengakses ekosistem digital mencapai 83,41 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 81,72 persen.

Tingginya penetrasi digital harus diimbangi dengan penyebaran informasi yang positif dan bertanggung jawab. Menurut dia, masih banyak akun anonim yang menyebarkan ajakan maupun narasi berpotensi memecah belah bangsa.

”Kritik itu penting dalam demokrasi, tetapi membangun kebersamaan dan persatuan jauh lebih penting. Jangan sampai perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan,” tuturnya.

Gubernur Khofifah menambahkan, kerukunan merupakan modal sosial utama bagi Jawa Timur dalam menjaga stabilitas daerah. Kondisi keamanan yang kondusif juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan kepercayaan investor dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Dalam berbagai pertemuan dengan calon investor maupun pelaku usaha, lanjut Gubernur Khofifah, aspek keamanan selalu menjadi perhatian utama. Karena itu, semangat “Jogo Jatim” dinilai menjadi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat, bukan hanya aparat keamanan.

Kalau Jawa Timur aman, investasi akan masuk. Pertumbuhan ekonomi meningkat. Kesejahteraan masyarakat akan semakin baik.

”Karena itu menjaga persatuan dan harmoni adalah tugas kita bersama,” ungkapnya.

Gubernur Khofifah memberikan juga sorotan pada tantangan era modern. Dirinya mengingatkan bahwa medan pertahanan persatuan kini tidak hanya berada di dunia nyata, tetapi telah bergeser ke ruang digital. Tingginya akses internet di Jawa Timur mutlak harus diimbangi dengan penguatan literasi digital dan etika bermedia agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh hoaks.

Di tengah derasnya arus informasi yang kerap memicu disintegrasi, langkah konkret untuk merawat persatuan harus kembali ditegaskan di Jawa Timur. Seluruh komponen masyarakat harus diajak untuk menjaga suasana damai dan mengedepankan musyawarah dalam menyikapi perbedaan pandangan.

”Kita harus sepakat untuk saling bergandengan tangan, menjaga pilar-pilar konstitusi, dan menjadi tameng utama dalam membentengi publik dari krisis disinformasi yang mengancam keutuhan NKRI, tegasnya. (MT)

SURABAYA, METROTODAY – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan, tantangan menjaga persatuan bangsa kini tidak hanya terjadi di ruang fisik, tetapi juga di ruang digital. Tingginya penetrasi ruang digital harus diimbangi dengan penyebaran informasi yang positif dan bertanggung jawab.

Gubernur Jatim Khofifah menyampaikan pernyataan itu dalam Dialog Kebangsaan Jawa Timur yang bertema “Merawat Bhinneka Tunggal Ika, Memperkuat Persatuan Bangsa di Tengah Polarisasi Digital” di Resto Nine Surabaya pada Senin (3 Agustus 2026).

Hadir dalam dialog yang diinisiasi Polda Jawa Timur itu, antara lain, Gubernur Jawa Timur, Kapolda Jatim, Perwakilan Pangdam V/Brawijaya, Kejaksaan Tinggi Jatim, Pengadilan Tinggi Jatim, Ketua DPRD Jatim, serta utusan berbagai organisasi kemasyarakatan di Jawa Timur.

Gubernur Khofifah memaparkan, masyarakat Jawa Timur yang telah mengakses ekosistem digital mencapai 83,41 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 81,72 persen.

Tingginya penetrasi digital harus diimbangi dengan penyebaran informasi yang positif dan bertanggung jawab. Menurut dia, masih banyak akun anonim yang menyebarkan ajakan maupun narasi berpotensi memecah belah bangsa.

”Kritik itu penting dalam demokrasi, tetapi membangun kebersamaan dan persatuan jauh lebih penting. Jangan sampai perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan,” tuturnya.

Gubernur Khofifah menambahkan, kerukunan merupakan modal sosial utama bagi Jawa Timur dalam menjaga stabilitas daerah. Kondisi keamanan yang kondusif juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan kepercayaan investor dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Dalam berbagai pertemuan dengan calon investor maupun pelaku usaha, lanjut Gubernur Khofifah, aspek keamanan selalu menjadi perhatian utama. Karena itu, semangat “Jogo Jatim” dinilai menjadi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat, bukan hanya aparat keamanan.

Kalau Jawa Timur aman, investasi akan masuk. Pertumbuhan ekonomi meningkat. Kesejahteraan masyarakat akan semakin baik.

”Karena itu menjaga persatuan dan harmoni adalah tugas kita bersama,” ungkapnya.

Gubernur Khofifah memberikan juga sorotan pada tantangan era modern. Dirinya mengingatkan bahwa medan pertahanan persatuan kini tidak hanya berada di dunia nyata, tetapi telah bergeser ke ruang digital. Tingginya akses internet di Jawa Timur mutlak harus diimbangi dengan penguatan literasi digital dan etika bermedia agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh hoaks.

Di tengah derasnya arus informasi yang kerap memicu disintegrasi, langkah konkret untuk merawat persatuan harus kembali ditegaskan di Jawa Timur. Seluruh komponen masyarakat harus diajak untuk menjaga suasana damai dan mengedepankan musyawarah dalam menyikapi perbedaan pandangan.

”Kita harus sepakat untuk saling bergandengan tangan, menjaga pilar-pilar konstitusi, dan menjadi tameng utama dalam membentengi publik dari krisis disinformasi yang mengancam keutuhan NKRI, tegasnya. (MT)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait