Fosfat Melebihi Baku Mutu, Ikan di Sungai Jagir Wonokromo Surabaya Mabuk Mengapung

METROTODAY, SURABAYA – Fenomena ikan mengapung atau sering disebut ikan mabuk muncul di sepanjang aliran Sungai Jagir Wonokromo pada Minggu (6/9) malam. Warga pun banyak berebut mengambil ikan tersebut, padahal hingga Senin (7/9) siang masih terlihat sejumlah ikan mengapung di permukaan air.

Menanggapi kekhawatiran yang muncul, tim Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) segera turun ke lokasi guna melakukan pengecekan kualitas air.

Koordinator Riset Ecoton, Alaika Rahmatullah, menyampaikan hasil uji awal yang dilakukan timnya menunjukkan adanya indikasi pencemaran nyata. Kandungan fosfat tercatat mencapai 0,6 mg/L, angka ini jauh melampaui batas baku mutu Kelas II yang hanya diizinkan maksimal 0,2 mg/L. Sementara itu, kadar oksigen terlarut hanya tersisa 2,5 mg/L, angka yang tergolong rendah dan berbahaya bagi kehidupan air.

“Ditemukan kandungan oksigen terlarut dalam air itu 2,5, kemudian kandungan TDS-nya nilainya 285, suhunya 30,3°C dan pH-nya 7,5. Dari baku mutu, TDS, pH, dan suhu masih kategori aman. Yang menjadi temuan adalah kandungan fosfat 0,6, di mana baku mutu Kelas II itu 0,2. Jadi kadar fosfat ini melebihi baku mutu,” ungkap Alaika, Senin (7/9).

Berdasarkan temuan tersebut, Ecoton menduga tingginya kadar fosfat berasal dari campuran buangan limbah industri maupun limbah rumah tangga. Masalah ini diperberat karena debit air sungai sedang menurun, sehingga kemampuan air mengencerkan dan membuang zat pencemaran menjadi sangat terbatas.

“Pemicunya adalah fosfat, berasal dari buangan limbah industri ataupun limbah domestik, diiringi dengan menurunnya debit air sungai. Akumulasi limbah memicu kandungan fosfat tinggi, dampaknya bisa blooming alga yang kemudian menurunkan kadar oksigen terlarut dalam air,” jelasnya.

Kadar oksigen yang sangat rendah inilah yang diduga kuat menjadi penyebab utama ribuan ikan kesulitan bernapas, mengapung, hingga mati.

Alaika memperingatkan, jika volume air terus menyusut dan tidak ada pengenceran alami, dikhawatirkan jumlah ikan mati akan semakin banyak dan pencemaran makin parah.

Guna mengendalikan situasi, Perum Jasa Tirta I bersama PDAM kini telah menutup sementara pintu air, termasuk di wilayah Kalimas dan Kalijargir, agar kualitas air dapat diperbaiki dan dikendalikan.

METROTODAY, SURABAYA – Fenomena ikan mengapung atau sering disebut ikan mabuk muncul di sepanjang aliran Sungai Jagir Wonokromo pada Minggu (6/9) malam. Warga pun banyak berebut mengambil ikan tersebut, padahal hingga Senin (7/9) siang masih terlihat sejumlah ikan mengapung di permukaan air.

Menanggapi kekhawatiran yang muncul, tim Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) segera turun ke lokasi guna melakukan pengecekan kualitas air.

Koordinator Riset Ecoton, Alaika Rahmatullah, menyampaikan hasil uji awal yang dilakukan timnya menunjukkan adanya indikasi pencemaran nyata. Kandungan fosfat tercatat mencapai 0,6 mg/L, angka ini jauh melampaui batas baku mutu Kelas II yang hanya diizinkan maksimal 0,2 mg/L. Sementara itu, kadar oksigen terlarut hanya tersisa 2,5 mg/L, angka yang tergolong rendah dan berbahaya bagi kehidupan air.

“Ditemukan kandungan oksigen terlarut dalam air itu 2,5, kemudian kandungan TDS-nya nilainya 285, suhunya 30,3°C dan pH-nya 7,5. Dari baku mutu, TDS, pH, dan suhu masih kategori aman. Yang menjadi temuan adalah kandungan fosfat 0,6, di mana baku mutu Kelas II itu 0,2. Jadi kadar fosfat ini melebihi baku mutu,” ungkap Alaika, Senin (7/9).

Berdasarkan temuan tersebut, Ecoton menduga tingginya kadar fosfat berasal dari campuran buangan limbah industri maupun limbah rumah tangga. Masalah ini diperberat karena debit air sungai sedang menurun, sehingga kemampuan air mengencerkan dan membuang zat pencemaran menjadi sangat terbatas.

“Pemicunya adalah fosfat, berasal dari buangan limbah industri ataupun limbah domestik, diiringi dengan menurunnya debit air sungai. Akumulasi limbah memicu kandungan fosfat tinggi, dampaknya bisa blooming alga yang kemudian menurunkan kadar oksigen terlarut dalam air,” jelasnya.

Kadar oksigen yang sangat rendah inilah yang diduga kuat menjadi penyebab utama ribuan ikan kesulitan bernapas, mengapung, hingga mati.

Alaika memperingatkan, jika volume air terus menyusut dan tidak ada pengenceran alami, dikhawatirkan jumlah ikan mati akan semakin banyak dan pencemaran makin parah.

Guna mengendalikan situasi, Perum Jasa Tirta I bersama PDAM kini telah menutup sementara pintu air, termasuk di wilayah Kalimas dan Kalijargir, agar kualitas air dapat diperbaiki dan dikendalikan.

Ikuti Kami Untuk mendapatkan Berita menarik MetroToday
Google News

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait