METROTODAY, SURABAYA – Polemik pergantian pimpinan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya belum berakhir meski pelantikan rektor terpilih Prof. Akh. Muzakki untuk periode 2026–2030 telah resmi dilakukan oleh Menteri Agama pada Selasa (15/9).
Namun para mahasiswa dan dosen menggelar aksi protes besar‑besaran dan mengepung Gedung Rektorat kampus di Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Rabu (16/9).
Aksi ini merupakan bentuk penolakan tegas mahasiswa terhadap penetapan Muzakki kembali menjabat sebagai rektor. Mereka menilai seluruh proses penjaringan hingga penetapan berjalan tidak transparan dan mengabaikan aspirasi warga kampus.
Gelombang keberatan ini sendiri sebenarnya sudah muncul jauh sebelumnya, terlihat dari pemasangan spanduk, seruan aksi, hingga berbagai tanggapan yang ramai dibahas di media sosial.
Di lokasi aksi, para mahasiswa melakukan orasi secara bergantian menyampaikan tuntutan mereka. Suasana semakin memanas ketika massa melakukan pembakaran simbolik sebagai tanda penolakan atas keputusan pengangkatan tersebut.
Berbagai spanduk bertuliskan kalimat‑kalimat kritikan dan sindiran juga dipasang mengelilingi area gedung rektorat.
Tekanan yang diberikan mahasiswa tidak hanya berupa demonstrasi di jalan. Mereka juga menyatakan sikap akan menghentikan sementara kegiatan perkuliahan sebagai bentuk tekanan agar tuntutan mereka segera didengar dan ditindaklanjuti.
“Sebagai bentuk protes, sejumlah mahasiswa juga menyatakan menolak mengikuti perkuliahan hingga tuntutan mereka dipenuhi,” ujar Riski, salah satu peserta aksi.
Massa kemudian berkumpul dan memusatkan kegiatannya tepat di depan Gedung Rektorat, bahkan hingga berhasil masuk ke kompleks gedung Twin Tower tersebut. Mereka menuntut agar keputusan pengangkatan Muzakki dibatalkan dan proses pemilihan dilakukan ulang dengan mekanisme yang terbuka dan adil.
Penolakan terhadap kepemimpinan Muzakki ternyata tidak hanya datang dari kalangan mahasiswa. Sebelumnya, suara keberatan juga sudah disampaikan oleh sejumlah dosen, guru besar, hingga alumni UINSA yang mempertanyakan kredibilitas proses yang berlangsung.
Berdasarkan data yang tercatat dalam laman resmi penjaringan bakal calon rektor, Muzakki telah menjabat sebagai rektor UINSA sejak tahun 2022, dan kini kembali ditetapkan untuk masa jabatan kedua periode 2026–2030.
Proses penjaringan periode baru ini berlangsung sejak Februari hingga April 2026, dengan mengacu pada sejumlah aturan Kementerian Agama serta keputusan panitia penjaringan internal kampus.
Hingga berita ini diturunkan, aksi mahasiswa masih berlangsung di sekitar kawasan rektorat. Massa bertekad terus memperjuangkan tuntutan mereka sampai ada keputusan yang mengubah situasi saat ini. (ahm)


