METROTODAY, SURABAYA – Suasana riuh dan tawa memenuhi lapangan satu SMK di Surabaya. Gobak sodor, bakiak, egrang balok, gasing bambu, gledekan, hingga bedil karet tampak menghiasi arena dalam gerakan bertajuk Merdeka Bermain.
Permainan ini seketika mengubah sikap canggung para siswa Gen Alpha menjadi antusias saat beradu ketangkasan dan kerja sama tim.
Waka Kesiswaan dan Humas SMK Islam Al-Amal, Siti Nur Afiati, menjelaskan bahwa kegiatan ini sengaja dipilih sebagai bentuk perayaan HUT Kemerdekaan RI yang sarat edukasi dan nilai budaya, sekaligus menjauhkan siswa kelas 10 dan 11 dari ketergantungan gawai.
“Anak-anak Gen Alpha ini terlalu banyak main HP di rumah. Jadinya bingung aturan gobak sodor, lucu jadinya,” kata Siti, Senin (10/8).
Ia menambahkan, pihak sekolah ingin menyajikan perlombaan Agustus yang berbeda.

Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan agar generasi muda tidak lupa sama sekali dengan kekayaan permainan tradisional bangsa.
“Kasihan kalau mereka lupa atau malah tidak tahu jenis-jenis permainan tradisional ya, makanya kami hadirkan hari ini,” jelasnya.
Penggagas Kampoeng Dolanan, Mustofa atau yang akrab disapa Cak Mus, menegaskan bahwa edukasi permainan tradisional yang dihadirkan secara gratis ke sekolah-sekolah berfungsi sebagai benteng kelestarian budaya lokal.
Pihaknya pun prihatin dengan maraknya tren hiburan yang minim esensi dan mulai mengikis interaksi sosial anak muda.
“Lawan kami ya hiburan yang tidak ada esensinya. Komitmen kami mempertahankan permainan tradisional dan bahasa daerah agar tidak hilang,” tegas Cak Mus.
Dijelaskannya, format tujuh jenis permainan yang saling berkaitan itu sengaja dirancang untuk mengasah kemampuan motorik sekaligus melatih fisik siswa.
Setiap peserta dalam satu kelompok perwakilan kelas pun memiliki peran masing-masing sehingga kerja sama tim menjadi kunci keberhasilan.
“Jadi semua saling terhubung, setiap siswa di satu kelompok yang mewakili kelasnya itu punya peran masing-masing,” pungkasnya. (ahm)


