METROTODAY, SURABAYA – Peran sivitas akademika di perguruan tinggi dinilai menjadi penentu arah serta masa depan bangsa.
Hal ini disampaikan Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Mohammad Jumhur Hidayat, saat memberikan sambutan dalam acara pengukuhan di Universitas Airlangga.
Ia meminta mahasiswa tidak lagi memandang keilmuan secara terpisah, melainkan menerapkan pola pikir yang menyeluruh dan berbasis kepedulian terhadap lingkungan.
Di hadapan civitas akademika, Jumhur menyoroti dua arus besar yang melanda dunia saat ini. Di satu sisi kemajuan teknologi seperti Kecerdasan Buatan atau AI berkembang pesat dan mengubah tatanan kehidupan manusia.
Namun di sisi lain, bumi juga sedang menghadapi krisis ekologis yang semakin kompleks, mencakup perubahan iklim, pencemaran udara, ketersediaan air bersih, hingga tumpukan sampah yang belum tertangani dengan baik.
Menurutnya, persoalan lingkungan tidak bisa dipandang sebagai urusan satu sektor saja, melainkan menjadi fondasi yang menopang seluruh aspek pembangunan nasional.
“Kemajuan ekonomi tidak boleh dibayar dengan kerusakan ekologis. Kita harus meninggalkan cara berpikir seolah-olah harus memilih antara pertumbuhan ekonomi atau memelihara lingkungan. Kita harus membangun ekonomi yang justru tumbuh karena lingkungan dijaga,” ujar Jumhur, Jumat (7/8).
Ia menjelaskan bahwa konsep pekerjaan hijau tidak hanya terbatas pada kalangan ahli lingkungan saja.
METROTODAY, SURABAYA – Peran sivitas akademika di perguruan tinggi dinilai menjadi penentu arah serta masa depan bangsa.
Hal ini disampaikan Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Mohammad Jumhur Hidayat, saat memberikan sambutan dalam acara pengukuhan di Universitas Airlangga.
Ia meminta mahasiswa tidak lagi memandang keilmuan secara terpisah, melainkan menerapkan pola pikir yang menyeluruh dan berbasis kepedulian terhadap lingkungan.
Di hadapan civitas akademika, Jumhur menyoroti dua arus besar yang melanda dunia saat ini. Di satu sisi kemajuan teknologi seperti Kecerdasan Buatan atau AI berkembang pesat dan mengubah tatanan kehidupan manusia.
Namun di sisi lain, bumi juga sedang menghadapi krisis ekologis yang semakin kompleks, mencakup perubahan iklim, pencemaran udara, ketersediaan air bersih, hingga tumpukan sampah yang belum tertangani dengan baik.
Menurutnya, persoalan lingkungan tidak bisa dipandang sebagai urusan satu sektor saja, melainkan menjadi fondasi yang menopang seluruh aspek pembangunan nasional.
“Kemajuan ekonomi tidak boleh dibayar dengan kerusakan ekologis. Kita harus meninggalkan cara berpikir seolah-olah harus memilih antara pertumbuhan ekonomi atau memelihara lingkungan. Kita harus membangun ekonomi yang justru tumbuh karena lingkungan dijaga,” ujar Jumhur, Jumat (7/8).
Ia menjelaskan bahwa konsep pekerjaan hijau tidak hanya terbatas pada kalangan ahli lingkungan saja.