“Maka, keberhasilan dan nilai dari berkuliah tidak lagi diukur dari ijazah, namun kemampuan nyata individu agar tidak tergantikan oleh AI,” papar Guru Besar bidang Kecerdasan Kognitif ini.
Untuk menjawab tantangan itu, perguruan tinggi harus tetap berpegang teguh pada tiga pilar utama tugas mulianya: menciptakan pengetahuan baru, menyebarluaskan ilmu pengetahuan, dan menyeleksi atau mengkurasi pengetahuan.
Tugas kampus bukan sekadar tempat menumpuk fakta yang bisa didapat sekejap lewat mesin, melainkan menempa kemampuan yang tidak dimiliki oleh kecerdasan buatan: menganalisis tajam, memilah informasi yang benar-benar berharga, serta melahirkan gagasan dan karya baru yang bermakna bagi sesama.
“Kurasi pengetahuan inilah yang membedakan antara manusia dengan AI, dan akademisi bertugas menyaring esensi kebenaran yang paling bernilai bagi peradaban,” jelasnya.
Lingkungan kampus yang hidup, diskusi tatap muka yang mendalam, kerja sama tim yang saling melengkapi, serta membangun jaringan pertemanan dan kerja profesional adalah sarana terbaik menempa ketajaman analisis sekaligus nilai-nilai kemanusiaan yang tak mungkin ditiru oleh algoritma komputer.
Mahasiswa diimbau terus berjuang meningkatkan kualitas diri agar memiliki kemampuan kreatif dan solutif yang berdampak nyata bagi kemajuan bangsa.
“Jadi mahasiswa ITS diharapkan mampu menjadi insan yang tangguh, inovatif, dan tidak tergantikan oleh kemajuan teknologi,” pungkasnya. (ahm)
“Maka, keberhasilan dan nilai dari berkuliah tidak lagi diukur dari ijazah, namun kemampuan nyata individu agar tidak tergantikan oleh AI,” papar Guru Besar bidang Kecerdasan Kognitif ini.
Untuk menjawab tantangan itu, perguruan tinggi harus tetap berpegang teguh pada tiga pilar utama tugas mulianya: menciptakan pengetahuan baru, menyebarluaskan ilmu pengetahuan, dan menyeleksi atau mengkurasi pengetahuan.
Tugas kampus bukan sekadar tempat menumpuk fakta yang bisa didapat sekejap lewat mesin, melainkan menempa kemampuan yang tidak dimiliki oleh kecerdasan buatan: menganalisis tajam, memilah informasi yang benar-benar berharga, serta melahirkan gagasan dan karya baru yang bermakna bagi sesama.
“Kurasi pengetahuan inilah yang membedakan antara manusia dengan AI, dan akademisi bertugas menyaring esensi kebenaran yang paling bernilai bagi peradaban,” jelasnya.
Lingkungan kampus yang hidup, diskusi tatap muka yang mendalam, kerja sama tim yang saling melengkapi, serta membangun jaringan pertemanan dan kerja profesional adalah sarana terbaik menempa ketajaman analisis sekaligus nilai-nilai kemanusiaan yang tak mungkin ditiru oleh algoritma komputer.
Mahasiswa diimbau terus berjuang meningkatkan kualitas diri agar memiliki kemampuan kreatif dan solutif yang berdampak nyata bagi kemajuan bangsa.
“Jadi mahasiswa ITS diharapkan mampu menjadi insan yang tangguh, inovatif, dan tidak tergantikan oleh kemajuan teknologi,” pungkasnya. (ahm)