Operasi SAR Khusus KM Mutiara Sentosa 2 Dihentikan, Bangkai Kapal Diduga Terbawa Arus

METROTODAY, SURABAYA – Operasi Pencarian dan Pertolongan khusus penanganan kebakaran KM Mutiara Sentosa 2 resmi dihentikan dan dialihkan ke operasi rutin per Selasa (4/8), memasuki hari ketiga pascamusibah.

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menyampaikan apresiasi atas sinergitas seluruh pihak yang telah bekerja sama menyelamatkan korban di perairan Sumenep.

“Inilah salah satu wujud nyata bahwa negara hadir saat masyarakat mengalami musibah. Berkat doa, dukungan, dan kerja sama semua instansi, proses evakuasi berjalan lancar,” ujarnya.

Dari total 238 orang yang berada di atas kapal termasuk penumpang, awak kapal, dan tenaga operasional seluruhnya berhasil dievakuasi. Rinciannya, 233 orang selamat dan 5 orang meninggal dunia.

Para korban diketahui bertahan di laut sekitar dua jam sebelum dijemput kapal-kapal yang melintas di sekitar lokasi.

Penyelamatan dilakukan oleh berbagai kapal, antara lain KM Meratus Pematang Siantar (110 selamat, 2 meninggal), TB Hasnur (62 selamat), SAR Permadi (9 selamat), Selaras Mas (13 selamat), KRI Nala (30 selamat, 2 meninggal), serta KM Mutiara Ferindo 1 (8 selamat, 1 meninggal).

Syafii menekankan penggunaan jaket pelampung menjadi faktor penentu keberhasilan evakuasi.

“Dari hasil konfirmasi kepada korban, seluruhnya sudah menggunakan life jacket saat terjun ke laut,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan penyebab kematian lima korban diduga bukan akibat luka bakar, melainkan benturan saat jatuh dari ketinggian. Kapal yang miring membuat korban jatuh dari ketinggian lebih dari 10 meter.

Selain itu, keterbatasan akses naik kapal penolong yang hanya mengandalkan tangga tali dengan ketinggian signifikan juga menjadi tantangan tersendiri dalam proses evakuasi.

Terkait kondisi kapal, Syafii menyebut pihaknya belum bisa menyatakan kapal tenggelam sepenuhnya.

Saat evakuasi berlangsung, fisik kapal masih terlihat namun tim belum dapat masuk ke bagian lambung akibat asap tebal dan suhu yang sangat panas. Pemeriksaan ke dalam kapal baru dapat dilakukan jika api telah dipastikan 100 persen padam.

“Ketika KN SAR Permadi kembali ke titik kejadian setelah mengantar korban ke Sumenep, bangkai kapal sudah tidak terlihat di permukaan dan diduga terbawa arus laut,” pungkasnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Operasi Pencarian dan Pertolongan khusus penanganan kebakaran KM Mutiara Sentosa 2 resmi dihentikan dan dialihkan ke operasi rutin per Selasa (4/8), memasuki hari ketiga pascamusibah.

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menyampaikan apresiasi atas sinergitas seluruh pihak yang telah bekerja sama menyelamatkan korban di perairan Sumenep.

“Inilah salah satu wujud nyata bahwa negara hadir saat masyarakat mengalami musibah. Berkat doa, dukungan, dan kerja sama semua instansi, proses evakuasi berjalan lancar,” ujarnya.

Dari total 238 orang yang berada di atas kapal termasuk penumpang, awak kapal, dan tenaga operasional seluruhnya berhasil dievakuasi. Rinciannya, 233 orang selamat dan 5 orang meninggal dunia.

Para korban diketahui bertahan di laut sekitar dua jam sebelum dijemput kapal-kapal yang melintas di sekitar lokasi.

Penyelamatan dilakukan oleh berbagai kapal, antara lain KM Meratus Pematang Siantar (110 selamat, 2 meninggal), TB Hasnur (62 selamat), SAR Permadi (9 selamat), Selaras Mas (13 selamat), KRI Nala (30 selamat, 2 meninggal), serta KM Mutiara Ferindo 1 (8 selamat, 1 meninggal).

Syafii menekankan penggunaan jaket pelampung menjadi faktor penentu keberhasilan evakuasi.

“Dari hasil konfirmasi kepada korban, seluruhnya sudah menggunakan life jacket saat terjun ke laut,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan penyebab kematian lima korban diduga bukan akibat luka bakar, melainkan benturan saat jatuh dari ketinggian. Kapal yang miring membuat korban jatuh dari ketinggian lebih dari 10 meter.

Selain itu, keterbatasan akses naik kapal penolong yang hanya mengandalkan tangga tali dengan ketinggian signifikan juga menjadi tantangan tersendiri dalam proses evakuasi.

Terkait kondisi kapal, Syafii menyebut pihaknya belum bisa menyatakan kapal tenggelam sepenuhnya.

Saat evakuasi berlangsung, fisik kapal masih terlihat namun tim belum dapat masuk ke bagian lambung akibat asap tebal dan suhu yang sangat panas. Pemeriksaan ke dalam kapal baru dapat dilakukan jika api telah dipastikan 100 persen padam.

“Ketika KN SAR Permadi kembali ke titik kejadian setelah mengantar korban ke Sumenep, bangkai kapal sudah tidak terlihat di permukaan dan diduga terbawa arus laut,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait