Pameran Nadi Karya Mahasiswa DKV Unesa, Desain Ulang Produk Lokal agar Dikenal Masyarakat

“Harapannya, pameran ini tidak berhenti sampai tahun kedua saja, tapi bisa terus berlanjut. Kolaborasi dengan UMKM juga diharapkan makin banyak dan meluas ke daerah lain,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa, Syafi’ul Anam, memberikan apresiasi tinggi. Ia menilai kegiatan ini mencerminkan penerapan sistem pembelajaran berbasis proyek yang sedang dikembangkan kampus.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Ada tiga hal penting yang luar biasa. Pertama, ini adalah penerapan pembelajaran berbasis proyek. Kedua, merupakan hasil gabungan dari lima mata kuliah yang berbeda, sehingga menghasilkan satu karya yang bermutu, bukan sekadar tugas terpisah-pisah,” tegasnya.

Karya yang dihasilkan juga memiliki dampak nyata dan selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), seperti pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan, serta kemitraan dengan pelaku usaha. Ke depannya, konsep ini diharapkan terus dikembangkan agar mendorong jiwa kewirausahaan dan memperluas wawasan mahasiswa.

“Tentu ini mendorong jiwa kewirausahaan mereka. Mahasiswa menjadi lebih terbuka wawasannya dan langsung melihat bagaimana penerapan ilmu di dunia nyata,” harapnya.

Kepala Program Studi DKV Unesa, Marsudi, menyebutkan lima mata kuliah yang terlibat, yaitu Pengembangan Merek, Kewirausahaan, Teknologi Cetak, Metodologi Penelitian, dan Statistika. Pameran digelar di ruang publik agar dapat dinikmati masyarakat luas dan menjadi bukti kemampuan mahasiswa meski masih berada di semester awal.

“Biasanya pameran DKV baru dilakukan saat tugas akhir. Kami berharap masyarakat dan pelaku UMKM menyadari pentingnya identitas visual dan merek agar produk lokal bisa lebih maju dan dikenal luas,” pungkasnya. (ahm)

“Harapannya, pameran ini tidak berhenti sampai tahun kedua saja, tapi bisa terus berlanjut. Kolaborasi dengan UMKM juga diharapkan makin banyak dan meluas ke daerah lain,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa, Syafi’ul Anam, memberikan apresiasi tinggi. Ia menilai kegiatan ini mencerminkan penerapan sistem pembelajaran berbasis proyek yang sedang dikembangkan kampus.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Ada tiga hal penting yang luar biasa. Pertama, ini adalah penerapan pembelajaran berbasis proyek. Kedua, merupakan hasil gabungan dari lima mata kuliah yang berbeda, sehingga menghasilkan satu karya yang bermutu, bukan sekadar tugas terpisah-pisah,” tegasnya.

Karya yang dihasilkan juga memiliki dampak nyata dan selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), seperti pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan, serta kemitraan dengan pelaku usaha. Ke depannya, konsep ini diharapkan terus dikembangkan agar mendorong jiwa kewirausahaan dan memperluas wawasan mahasiswa.

“Tentu ini mendorong jiwa kewirausahaan mereka. Mahasiswa menjadi lebih terbuka wawasannya dan langsung melihat bagaimana penerapan ilmu di dunia nyata,” harapnya.

Kepala Program Studi DKV Unesa, Marsudi, menyebutkan lima mata kuliah yang terlibat, yaitu Pengembangan Merek, Kewirausahaan, Teknologi Cetak, Metodologi Penelitian, dan Statistika. Pameran digelar di ruang publik agar dapat dinikmati masyarakat luas dan menjadi bukti kemampuan mahasiswa meski masih berada di semester awal.

“Biasanya pameran DKV baru dilakukan saat tugas akhir. Kami berharap masyarakat dan pelaku UMKM menyadari pentingnya identitas visual dan merek agar produk lokal bisa lebih maju dan dikenal luas,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait