Sempat Tak Mau Kuliah Lagi, Anang Hermansyah Bangga Ashanty Sukses Raih Gelar Doktor di Unair

METROTODAY, SURABAYA – Penyanyi sekaligus istri dari Anang Hermansyah, Ashanty Hastuti, resmi menyandang gelar Doktor setelah dinyatakan lulus dalam ujian terbuka Program Studi Doktor Pengembangan Sumber Daya Manusia, Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair), Rabu (13/5).

Dalam sidang tersebut, ia berhasil mempertahankan disertasi berjudul Respons Adaptif Penyanyi Baby Boomers dan Generasi X terhadap Transformasi Digital di Industri Musik Indonesia.

Menggapai gelar akademik tertinggi ternyata bukan perjalanan yang mudah bagi Ashanty. Di tengah kesibukannya sebagai penyanyi, istri, ibu, hingga nenek, ia harus melewati proses panjang yang penuh tantangan dan revisi, hingga sempat merasa ingin menyerah.

Ia mengaku keberhasilannya ini tidak lepas dari dukungan dan semangat yang terus diberikan oleh dosen pembimbingnya, Suko Widodo.

“Alhamdulillah setelah melewati perjuangan panjang, berkat promotor saya yang luar biasa ini, kalau bukan karena Pak Suko, mungkin aku enggak selesai dari sini. Beliau selalu memotivasi, selalu memberikan energi positif bahwa tidak boleh menyerah, harus berjuang sampai titik akhir,” ujar Ashanty.

Salah satu cobaan terberat terjadi saat penentuan judul penelitian.

Ashanty mengungkapkan, ide yang diajukannya sempat ditolak sebanyak empat kali berturut-turut, bahkan setelah ia melakukan publikasi ilmiah untuk salah satu judul tersebut.

Berkat ketekunannya, barulah judul keempat yang disetujui dan bisa dilanjutkan ke tahap penulisan disertasi.

“Ditolak judul empat kali. Judul pertama ditolak, kedua, ketiga, bahkan saya sudah publikasi juga, tapi ditolak lagi. Jadi judul keempat baru diterima,” ungkapnya.

Bagi Ashanty, tantangan terbesar terletak pada pembagian waktu dan fokus antara kewajiban akademik dengan kesibukan di dunia hiburan serta urusan rumah tangga.

Ia pun mengapresiasi siapa saja yang tetap bertekad menuntut ilmu meski usia sudah tidak muda lagi, mengingat banyaknya tanggung jawab lain yang harus dipikul.

“Aku sangat bangga buat orang-orang yang masih mau belajar di umur yang mungkin sudah tidak muda lagi. Aku juga kesibukan sebagai istri, ibu, nenek, kerjaan banyak, ikut lomba dan banyak hal, tapi tetap berusaha bagaimana harus selesai dengan baik,” katanya.

Disertasi yang disusunnya setebal 300 halaman ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan industri musik di Tanah Air.

Secara khusus, penelitian ini menyoroti bagaimana para musisi generasi terdahulu mampu bertahan dan beradaptasi di tengah perubahan besar akibat kemajuan teknologi dan transformasi digital yang berlangsung cepat saat ini.

“Semoga bisa berguna buat industri musik Indonesia. Walaupun terlihat hanya perbandingan antara Baby Boomers dan Generasi X dalam beradaptasi di dunia digital, tapi yang dibahas dan dibedah di dalamnya sangat banyak sekali,” harapnya.

Sementara itu, Co-promotor Dr. Suko Widodo, menegaskan bahwa selama proses akademik berlangsung, tidak ada perlakuan khusus yang diberikan kepada Ashanty hanya karena ia seorang figur publik atau artis terkenal.

Menurut pakar komunikasi politik ini, standar penilaian yang diterapkan sama persis dengan mahasiswa lain. Ashanty dinilai mampu memenuhi syarat kedisiplinan serta konsistensi yang dituntut dunia akademik.

“Saya kira tidak ada kompromi. Mau artis, mau anak presiden, apa pun dalam pengetahuan saya, hak dan kewajibannya sama. Ashanty telah memenuhi kedisiplinan sebagai seorang akademisi dan konsisten dalam menjalani prosesnya,” tegas Suko.

Ia menilai penelitian Ashanty sangat menarik karena mengangkat isu yang jarang dibahas dalam kajian akademik di Indonesia, yaitu perjuangan para penyanyi senior dalam menghadapi perubahan zaman menuju digitalisasi.

Ia memberi contoh bagaimana tokoh legendaris seperti Rafika Duri atau Rhoma Irama harus berhadapan dengan gaya dan pola kerja para musisi muda masa kini.

“Bayangkan siapa yang memikirkan seorang Rafika Duri, seorang Rhoma Irama, harus berhadapan dengan anak-anak muda dalam dunia digital. Kelihatannya simpel, tapi coba baca dulu disertasinya, isinya sampai 300 halaman,” jelasnya.

Lebih lanjut, Suko menyebutkan bahwa kekuatan utama dari penelitian Ashanty terletak pada pendekatan penceritaan atau storytelling serta pendokumentasian pengalaman para musisi senior.

Hal ini dinilai sangat berharga karena selama ini riwayat dan pengalaman berharga mereka jarang tercatat secara rapi dalam bentuk kajian ilmiah.

“Hal paling penting bagi Ashanty adalah autentifikasi dari orang-orang yang memang layak diapresiasi. Di Indonesia, histori akademis pribadi seperti itu relatif belum ada, dan dia berhasil melakukannya,” ujarnya.

Suami Ashanty, Anang Hermansyah, mengaku bangga dan tak menyangka istrinya mampu melangkah sejauh ini dalam dunia pendidikan.

Ia mengenang saat awal menjalin hubungan asmara, Ashanty baru saja menyelesaikan pendidikan S1 dan sempat menyatakan tidak akan melanjutkan sekolah lagi.

“Enggak ada dalam bayangan dia bahwa dia harus ada di podium tadi, bahwa dia sekarang ada di akademi dan selesai dengan baik. Karena waktu ketemu aku, pacaran dengan aku, dia sudah selesai S1 dan bilang enggak akan ngurusin pendidikan lagi,” ungkap Anang.

Bagi Anang, pencapaian meraih gelar doktor adalah hal yang benar-benar di luar dugaan sang istri.

Ia berharap ilmu dan hasil penelitian yang telah disusun Ashanty dapat diterapkan dan bermanfaat bagi masyarakat luas, khususnya pelaku industri musik yang membutuhkan panduan untuk tetap bersaing di era modern.

“Ternyata bisa sampai S3 itu di luar ekspektasi dia. Buat aku, selamat ya. Mudah-mudahan nanti keilmuan dia bisa diaplikasikan kepada masyarakat, terutama di industri musik Indonesia yang memang membutuhkan masukan agar seni musik kita bisa terus berkompetisi di masa kini,” ujarnya.

Anang juga menilai latar belakang Ashanty yang beragam sebagai penyanyi, tokoh berpengaruh, hingga pembuat konten di YouTube, membuat hasil penelitiannya menjadi sangat relevan dan tepat sasaran dengan kondisi industri saat ini.

“Ashanty berada di posisi yang cukup menarik di industri. Dia bernyanyi, punya kegiatan lain, menjadi influencer, juga YouTuber. Langkahnya sangat strategis hingga bisa menyelesaikan perjalanan akademis yang bagus ini, sekaligus menyebarkan pengalaman bagaimana ia bertahan di industri hiburan hingga usia saat ini,” paparnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Penyanyi sekaligus istri dari Anang Hermansyah, Ashanty Hastuti, resmi menyandang gelar Doktor setelah dinyatakan lulus dalam ujian terbuka Program Studi Doktor Pengembangan Sumber Daya Manusia, Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair), Rabu (13/5).

Dalam sidang tersebut, ia berhasil mempertahankan disertasi berjudul Respons Adaptif Penyanyi Baby Boomers dan Generasi X terhadap Transformasi Digital di Industri Musik Indonesia.

Menggapai gelar akademik tertinggi ternyata bukan perjalanan yang mudah bagi Ashanty. Di tengah kesibukannya sebagai penyanyi, istri, ibu, hingga nenek, ia harus melewati proses panjang yang penuh tantangan dan revisi, hingga sempat merasa ingin menyerah.

Ia mengaku keberhasilannya ini tidak lepas dari dukungan dan semangat yang terus diberikan oleh dosen pembimbingnya, Suko Widodo.

“Alhamdulillah setelah melewati perjuangan panjang, berkat promotor saya yang luar biasa ini, kalau bukan karena Pak Suko, mungkin aku enggak selesai dari sini. Beliau selalu memotivasi, selalu memberikan energi positif bahwa tidak boleh menyerah, harus berjuang sampai titik akhir,” ujar Ashanty.

Salah satu cobaan terberat terjadi saat penentuan judul penelitian.

Ashanty mengungkapkan, ide yang diajukannya sempat ditolak sebanyak empat kali berturut-turut, bahkan setelah ia melakukan publikasi ilmiah untuk salah satu judul tersebut.

Berkat ketekunannya, barulah judul keempat yang disetujui dan bisa dilanjutkan ke tahap penulisan disertasi.

“Ditolak judul empat kali. Judul pertama ditolak, kedua, ketiga, bahkan saya sudah publikasi juga, tapi ditolak lagi. Jadi judul keempat baru diterima,” ungkapnya.

Bagi Ashanty, tantangan terbesar terletak pada pembagian waktu dan fokus antara kewajiban akademik dengan kesibukan di dunia hiburan serta urusan rumah tangga.

Ia pun mengapresiasi siapa saja yang tetap bertekad menuntut ilmu meski usia sudah tidak muda lagi, mengingat banyaknya tanggung jawab lain yang harus dipikul.

“Aku sangat bangga buat orang-orang yang masih mau belajar di umur yang mungkin sudah tidak muda lagi. Aku juga kesibukan sebagai istri, ibu, nenek, kerjaan banyak, ikut lomba dan banyak hal, tapi tetap berusaha bagaimana harus selesai dengan baik,” katanya.

Disertasi yang disusunnya setebal 300 halaman ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan industri musik di Tanah Air.

Secara khusus, penelitian ini menyoroti bagaimana para musisi generasi terdahulu mampu bertahan dan beradaptasi di tengah perubahan besar akibat kemajuan teknologi dan transformasi digital yang berlangsung cepat saat ini.

“Semoga bisa berguna buat industri musik Indonesia. Walaupun terlihat hanya perbandingan antara Baby Boomers dan Generasi X dalam beradaptasi di dunia digital, tapi yang dibahas dan dibedah di dalamnya sangat banyak sekali,” harapnya.

Sementara itu, Co-promotor Dr. Suko Widodo, menegaskan bahwa selama proses akademik berlangsung, tidak ada perlakuan khusus yang diberikan kepada Ashanty hanya karena ia seorang figur publik atau artis terkenal.

Menurut pakar komunikasi politik ini, standar penilaian yang diterapkan sama persis dengan mahasiswa lain. Ashanty dinilai mampu memenuhi syarat kedisiplinan serta konsistensi yang dituntut dunia akademik.

“Saya kira tidak ada kompromi. Mau artis, mau anak presiden, apa pun dalam pengetahuan saya, hak dan kewajibannya sama. Ashanty telah memenuhi kedisiplinan sebagai seorang akademisi dan konsisten dalam menjalani prosesnya,” tegas Suko.

Ia menilai penelitian Ashanty sangat menarik karena mengangkat isu yang jarang dibahas dalam kajian akademik di Indonesia, yaitu perjuangan para penyanyi senior dalam menghadapi perubahan zaman menuju digitalisasi.

Ia memberi contoh bagaimana tokoh legendaris seperti Rafika Duri atau Rhoma Irama harus berhadapan dengan gaya dan pola kerja para musisi muda masa kini.

“Bayangkan siapa yang memikirkan seorang Rafika Duri, seorang Rhoma Irama, harus berhadapan dengan anak-anak muda dalam dunia digital. Kelihatannya simpel, tapi coba baca dulu disertasinya, isinya sampai 300 halaman,” jelasnya.

Lebih lanjut, Suko menyebutkan bahwa kekuatan utama dari penelitian Ashanty terletak pada pendekatan penceritaan atau storytelling serta pendokumentasian pengalaman para musisi senior.

Hal ini dinilai sangat berharga karena selama ini riwayat dan pengalaman berharga mereka jarang tercatat secara rapi dalam bentuk kajian ilmiah.

“Hal paling penting bagi Ashanty adalah autentifikasi dari orang-orang yang memang layak diapresiasi. Di Indonesia, histori akademis pribadi seperti itu relatif belum ada, dan dia berhasil melakukannya,” ujarnya.

Suami Ashanty, Anang Hermansyah, mengaku bangga dan tak menyangka istrinya mampu melangkah sejauh ini dalam dunia pendidikan.

Ia mengenang saat awal menjalin hubungan asmara, Ashanty baru saja menyelesaikan pendidikan S1 dan sempat menyatakan tidak akan melanjutkan sekolah lagi.

“Enggak ada dalam bayangan dia bahwa dia harus ada di podium tadi, bahwa dia sekarang ada di akademi dan selesai dengan baik. Karena waktu ketemu aku, pacaran dengan aku, dia sudah selesai S1 dan bilang enggak akan ngurusin pendidikan lagi,” ungkap Anang.

Bagi Anang, pencapaian meraih gelar doktor adalah hal yang benar-benar di luar dugaan sang istri.

Ia berharap ilmu dan hasil penelitian yang telah disusun Ashanty dapat diterapkan dan bermanfaat bagi masyarakat luas, khususnya pelaku industri musik yang membutuhkan panduan untuk tetap bersaing di era modern.

“Ternyata bisa sampai S3 itu di luar ekspektasi dia. Buat aku, selamat ya. Mudah-mudahan nanti keilmuan dia bisa diaplikasikan kepada masyarakat, terutama di industri musik Indonesia yang memang membutuhkan masukan agar seni musik kita bisa terus berkompetisi di masa kini,” ujarnya.

Anang juga menilai latar belakang Ashanty yang beragam sebagai penyanyi, tokoh berpengaruh, hingga pembuat konten di YouTube, membuat hasil penelitiannya menjadi sangat relevan dan tepat sasaran dengan kondisi industri saat ini.

“Ashanty berada di posisi yang cukup menarik di industri. Dia bernyanyi, punya kegiatan lain, menjadi influencer, juga YouTuber. Langkahnya sangat strategis hingga bisa menyelesaikan perjalanan akademis yang bagus ini, sekaligus menyebarkan pengalaman bagaimana ia bertahan di industri hiburan hingga usia saat ini,” paparnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait