METROTODAY.ID, NEW YORK– Nama streamer asal Amerika Serikat, IShowSpeed, kembali mengguncang jagat maya di tengah kemeriahan Piala Dunia 2026. Konten kreator bernama asli Darren Watkins Jr. itu dikabarkan memperoleh kontrak senilai sekitar US$27,5 juta atau setara Rp 451 miliar untuk menjadi bagian dari rangkaian promosi digital FIFA selama turnamen berlangsung.
Nilai tersebut memang ramai beredar di media sosial dan sejumlah media internasional, meski FIFA hingga kini belum memublikasikan rincian finansial kerja sama tersebut. Yang pasti, Speed menjadi salah satu wajah paling mencolok di Piala Dunia 2026 melalui siaran langsung dari stadion, konten eksklusif, hingga penampilannya dalam seremoni penutupan final.
Keputusan FIFA menggandeng Speed bukanlah tanpa perhitungan bisnis. Dalam beberapa tahun terakhir, YouTuber berusia 21 tahun itu menjelma menjadi salah satu kreator olahraga paling berpengaruh di dunia dengan lebih dari 50 juta pelanggan YouTube dan miliaran penayangan. Setiap siaran langsungnya mampu menarik jutaan penonton secara bersamaan, sementara cuplikan reaksinya dengan cepat menyebar ke TikTok, Instagram, hingga X.
Bagi FIFA, kehadiran Speed menjadi jembatan untuk menjangkau Generasi Z dan audiens digital yang lebih banyak mengonsumsi sepak bola melalui konten kreator dibandingkan siaran televisi konvensional.
Lewat kerja sama ini, Speed mendapat hak menayangkan pertandingan secara langsung sambal melakukan live streaming dari stadion maupun dari setup komputernya. Untuk penonton di Amerika Serikat, siaran tersebut bisa diakses melalui Fox One Prime di YouTube. Sementara penonton di luar AS tetap bisa menyaksikannya lewat kanal YouTube milik Speed.
Besarnya popularitas Speed juga terlihat dari performa kanal YouTube-nya yang mencatat sekitar 9,57 miliar penonton dan mendapat 2,7 juta subscriber baru dalam 30 hari terakhir. Strategi ini membuahkan hasil, saat laga Spanyol vs Prancis pada 15 Juli 2026, siaran langsung Speed ditonton lebih dari 13 juta kali hanya dalam rentang waktu sekitar 4 jam. Bahkan, siaran terpopulernya saat pertandingan Argentina vs Mesir berhasil tembus 21 juta penonton, menurut wartaan Uzone.
Dari sisi komersial, keuntungan yang didapat FIFA jauh melampaui sekadar angka penonton livestream. Speed menghadirkan promosi yang sulit ditandingi iklan tradisional. Setiap kali ia berinteraksi dengan pemain, legenda sepak bola, atau sekadar bereaksi di tribun stadion, kontennya langsung menjadi bahan pembicaraan global. Karena alasan itulah FIFA memasukkan Speed ke dalam jajaran pengisi acara seremoni penutupan final Piala Dunia bersama nama-nama besar seperti Tom Cruise dan Post Malone, sebagai bagian dari strategi menggabungkan hiburan digital dengan pesta sepak bola terbesar di dunia.
Media-media luar negeri seperti Times of India menilai langkah FIFA ini sebagai bentuk transformasi pemasaran olahraga modern. Jika dahulu hak siar televisi menjadi senjata utama untuk menarik penonton, kini organisasi olahraga juga berlomba menghadirkan para kreator digital yang memiliki komunitas fanatik. Kehadiran Speed dinilai mampu memperluas jangkauan Piala Dunia ke kalangan muda yang mungkin sebelumnya tidak mengikuti pertandingan secara penuh di televisi, tetapi tetap aktif menyaksikan konten-konten viral di media sosial.
Namun, di balik kegemilangan angka ratusan miliar tersebut, warganet justru lebih sibuk menertawakan takdir supranatural sang streamer yang dikenal dengan sebutan “Kutukan Speed”.
Berdasar kompilasi guyonan dari forum lokal Amerika Serikat, Reddit, netizen internasional menganggap kehadiran Speed di tribun stadion sebagai malaikat pencabut nyawa bagi tim mana pun yang ia dukung. Formula kutukannya sangat sederhana namun mematikan, jika dalam sebuah laga Speed nekat mengenakan jersey atau membawa bendera salah satu negara, maka bisa dipastikan negara malang tersebut akan langsung keok, bermain ampas, atau tersingkir secara tragis di atas lapangan hijau.
Candaan ini makin liar setelah beberapa tim raksasa favoritnya seperti Senegal dan Portugal bertumbangan satu per satu begitu Speed memasang tampang histerisnya di bangku penonton demi membuat konten watch-along
Candaan itu bahkan sempat memantik perhatian mantan striker Argentina Maxi López. Menjelang semifinal melawan Inggris, López mengingatkan agar Speed tidak mengenakan jersey Argentina karena khawatir “membawa sial”. Menariknya, Speed justru memilih mengenakan kostum Inggris, tetapi Argentina tetap menang 2-1.
Usai laga, warganet ramai-ramai bercanda bahwa “kutukan” tersebut akhirnya berpindah ke Inggris, sementara meme tentang “Speed Curse” kembali memenuhi berbagai platform media sosial.
Pengamat industri olahraga digital, seperti yang diwartakan AP News, menilai kolaborasi FIFA dengan Speed mencerminkan perubahan besar dalam strategi pemasaran olahraga global. Alih-alih hanya mengandalkan siaran televisi dan media konvensional, FIFA kini memanfaatkan kekuatan kreator untuk memperluas eksposur turnamen. Dengan basis penggemar yang tersebar di berbagai negara, satu siaran langsung Speed dapat menghasilkan jutaan interaksi dalam hitungan jam, sesuatu yang sangat bernilai bagi sponsor maupun penyelenggara turnamen.
Lebih dari itu, benefit komersialnya pun langsung terasa instan. Terbukti, lagu tema “World Cup (Champions)” milik Speed sukses meledak di pasaran hingga diadopsi masuk ke dalam album musik resmi turnamen, menciptakan simbiosis mutualisme yang mengubah atmosfer kompetisi menjadi festival budaya pop digital.
Kini menjelang partai final Piala Dunia 2026, perhatian publik tak hanya tertuju kepada duel dua finalis, tetapi juga kepada satu pertanyaan yang mengundang gelak tawa di media sosial. Yakni, jersey negara mana yang akan dikenakan Speed. Jika mengikuti “ramalan” warganet, pilihan kostum sang streamer seolah bisa menentukan nasib sebuah tim. Untungnya, hasil pertandingan tetap ditentukan oleh kualitas permainan di atas lapangan bukan oleh kaus yang dipakai seorang YouTuber di tribun penonton. (Ezaar)

