METROTODAY.ID, NEW YORK NEW JERSEY– Sepak bola kembali menghadirkan kisah yang sulit dipercaya. Menjelang final Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Spanyol di MetLife Stadium, sorotan dunia bukan hanya tertuju pada perebutan trofi, tetapi juga pada pertemuan dua generasi yang sudah “berjumpa” sejak 19 tahun silam.
Lionel Messi, yang kala itu masih menjadi bintang muda Barcelona, kini akan menghadapi Lamine Yamal, bayi yang pernah dimandikannya dalam sebuah sesi pemotretan amal. Kisah tersebut menjadi lambang estafet kejayaan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Momen ikonik itu terjadi pada Desember 2007 dalam kegiatan amal yang digagas UNICEF bersama surat kabar Catalan Diario Sport. Program tersebut merupakan sesi pemotretan untuk kalender tahunan penggalangan dana UNICEF. Keluarga Yamal terpilih melalui undian untuk membawa bayi Lamine Yamal yang saat itu baru berusia sekitar enam bulan.
Dalam sesi tersebut, Messi diminta berpose sambil menggendong sekaligus memandikan sang bayi di sebuah bak mandi kecil. Tak ada yang menyangka bayi tersebut kelak tumbuh menjadi salah satu talenta terbesar sepak bola dunia.
Dikabarkan oleh Punch Newspaper, banyak warganet yang awalnya mengira dokumentasi tersebut hanyalah produk rekayasa kecerdasan buatan (AI-generated). Namun, kabar itu langsung ditepis oleh pihak terkait. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak-anak, UNICEF, melalui akun resminya mengonfirmasi bahwa potret Messi sedang memandikan bayi Yamal adalah seratus persen nyata tanpa suntingan jemari digital.
“Ya, foto-foto yang Anda lihat itu asli,” tulis organisasi internasional tersebut untuk meredam perdebatan netizen sedunia.
Momen sakral itu terjadi dalam rangkaian agenda pemotretan kalender amal tahunan edisi 2008 hasil kolaborasi antara FC Barcelona, harian olahraga Diario Sport, dan UNICEF untuk menggalang dana kemanusiaan. Diabadikan oleh fotografer Joan Monfort pada musim gugur 2007, Messi yang kala itu baru berusia 20 tahun tampak kikuk berpasangan dengan Yamal yang masih merah, berumur lima bulan, ditemani sang ibu, Sheila Ebana.
Berbagai laporan internasional menyebut kisah ini sebagai “siklus yang sempurna”. Siapa sangka, air mandi yang diusapkan The Goat belasan tahun silam seolah menjelma menjadi kuah ramuan kesaktian yang menitis pada kaki kiri Yamal sekaligus menjadikannya kandidat kuat penerus era Messi di Barcelona. Pertemuan mereka di final Piala Dunia dipandang sebagai duel antara legenda yang sedang menutup bab kariernya dengan bintang muda yang baru memulai kisah besar.
Sementara itu, dari sudut lokal Spanyol, surat kabar ternama berbasis di Madrid, Marca, menyoroti sisi emosional yang menyelimuti atmosfer internal kubu matador menjelang sepak mula. Joan Monfort sang pembidik lensa menceritakan betapa canggungnya Messi muda yang introvert saat harus memegang bayi asing di ruang ganti Camp Nou. “Messi itu orangnya sangat pemalu, dia bingung bagaimana harus menggendong bayi pada awalnya,” kenang Monfort seperti dikutip media-media Iberia.
Di lingkungan Rocafonda, kawasan tempat Yamal dibesarkan, atmosfer menjelang final juga dipenuhi rasa bangga. Warga setempat menganggap perjalanan Yamal sebagai bukti bahwa mimpi anak-anak dari lingkungan sederhana dapat menembus panggung terbesar dunia. Reuters melaporkan keluarga, tetangga, hingga teman masa kecil Yamal bersiap menggelar nonton bareng untuk mendukung sang putra daerah menghadapi idolanya sendiri.
New York Post menilai duel ini menjadi salah satu narasi paling kuat sepanjang sejarah Piala Dunia. Olympics menyebut kisah Messi dan Yamal “terasa seperti skenario film”, sementara sejumlah media Inggris menggambarkannya sebagai salah satu kebetulan paling luar biasa dalam sejarah olahraga modern. Dari sebuah bak mandi kecil di Barcelona hingga panggung megah final Piala Dunia di Amerika Serikat, perjalanan keduanya menjadi bukti bahwa sepak bola selalu menyimpan kisah yang tak pernah habis ditulis.
Kini, hanya tinggal hitungan waktu sebelum peluit kick-off dibunyikan. Dua dekade lalu, Lionel Messi menggenggam seorang bayi tanpa mengetahui masa depan yang menantinya. Besok lusa, bayi itu akan berdiri di seberang lapangan sebagai lawan yang berusaha merebut mahkota dunia dari tangan sang legenda. Jika sepak bola adalah panggung drama teatrikal, maka final Argentina kontra Spanyol mungkin menjadi adegan paling puitis yang pernah disuguhkan olahraga ini di abad ke-20. (Ezaar)

