Dari Ruang Kelas Sederhana, Menumbuhkan Generasi Patriot Papua Masa Depan

Jika 3.000 buku benar-benar dibaca, maka sesungguhnya 3.000 jendela dunia sedang dibuka bagi masa depan Papua. Lantaran itulah ungkapan “buku adalah jendela dunia” memperoleh makna yang sangat nyata.

Namun pekerjaan tidak boleh berhenti pada seremoni penyerahan buku. Pertanyaan terpenting justru siapa yang memastikan 3.000 buku itu dibaca? Literasi bukan sekadar distribusi buku, melainkan membangun ekosistem membaca yang mempertemukan buku, anak, guru, keluarga, dan kebiasaan belajar.

Untuk memperkaya proses pembelajaran, Tim Ekspedisi Patriot ITS juga menyusun buku “Eksplorasi STEM: 25 Proyek Sains dan Rekayasa Sederhana untuk Pembelajaran Kreatif.” Buku tersebut disusun oleh Prof. Subchan, M.Sc., Ph.D., bersama Nabiilah Lailiyah, S.Mat.; Herliana Ersa Nurisanti, S.T.; Sry Mulyani, S.T.; Yustiana Puspasari, S.Sos.; dan Siti Nur’azizah, M.Si.

Kehadirannya diharapkan menjadi jembatan antara kemampuan membaca dengan pengenalan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika melalui persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebab membangun Papua bukan hanya membangun apa yang terlihat dari udara, tetapi juga apa yang tumbuh di dalam kepala anak-anaknya.

Mengenal Huruf dan Angka

Jendela dunia tidak akan benar-benar terbuka tanpa kemampuan untuk membacanya. Lantaran itu, transformasi pendidikan tidak dapat langsung meloncat kepada teknologi dan rekayasa apabila kemampuan literasi dan numerasi dasar belum kuat. Pendampingan dimulai dari sesuatu yang paling mendasar, yakni mengenal huruf dan angka.

Anak perlu mengenal huruf, bunyi, kata, dan kalimat. Demikian pula angka, penjumlahan, pengurangan, ukuran, dan pola. Sekilas, proses tersebut tampak sederhana. Namun justru dari kesederhanaan itulah fondasi pendidikan dibangun. Seorang anak yang mampu membaca memperoleh pintu menuju pengetahuan. Anak yang memahami angka memperoleh alat untuk mengenali jumlah, ukuran, pola, dan perubahan.

Dalam konteks inilah urutan menjadi penting, yakni mengenal huruf, membaca kata, memahami dunia. Lalu, mengenal angka, belajar berhitung, kemudian memecahkan masalah. Literasi dan numerasi bukan tujuan akhir. Keduanya merupakan bahasa dasar untuk membaca kehidupan.

Memahami Pendekatan STEM

Setelah mampu membaca dunia, anak perlu diajak memahami bagaimana dunia bekerja. Di sinilah pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) menjadi relevan.

STEM tidak harus dimulai dari laboratorium modern, robot, atau komputer canggih. STEM dapat turun ke kampung, berangkat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan anak. Misalnya, Mengapa air harus bersih? Mengapa lingkungan kotor menyebabkan penyakit? Bagaimana tanaman tumbuh? Dari mana energi berasal? Bagaimana limbah dapat dimanfaatkan?

Jika 3.000 buku benar-benar dibaca, maka sesungguhnya 3.000 jendela dunia sedang dibuka bagi masa depan Papua. Lantaran itulah ungkapan “buku adalah jendela dunia” memperoleh makna yang sangat nyata.

Namun pekerjaan tidak boleh berhenti pada seremoni penyerahan buku. Pertanyaan terpenting justru siapa yang memastikan 3.000 buku itu dibaca? Literasi bukan sekadar distribusi buku, melainkan membangun ekosistem membaca yang mempertemukan buku, anak, guru, keluarga, dan kebiasaan belajar.

Untuk memperkaya proses pembelajaran, Tim Ekspedisi Patriot ITS juga menyusun buku “Eksplorasi STEM: 25 Proyek Sains dan Rekayasa Sederhana untuk Pembelajaran Kreatif.” Buku tersebut disusun oleh Prof. Subchan, M.Sc., Ph.D., bersama Nabiilah Lailiyah, S.Mat.; Herliana Ersa Nurisanti, S.T.; Sry Mulyani, S.T.; Yustiana Puspasari, S.Sos.; dan Siti Nur’azizah, M.Si.

Kehadirannya diharapkan menjadi jembatan antara kemampuan membaca dengan pengenalan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika melalui persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebab membangun Papua bukan hanya membangun apa yang terlihat dari udara, tetapi juga apa yang tumbuh di dalam kepala anak-anaknya.

Mengenal Huruf dan Angka

Jendela dunia tidak akan benar-benar terbuka tanpa kemampuan untuk membacanya. Lantaran itu, transformasi pendidikan tidak dapat langsung meloncat kepada teknologi dan rekayasa apabila kemampuan literasi dan numerasi dasar belum kuat. Pendampingan dimulai dari sesuatu yang paling mendasar, yakni mengenal huruf dan angka.

Anak perlu mengenal huruf, bunyi, kata, dan kalimat. Demikian pula angka, penjumlahan, pengurangan, ukuran, dan pola. Sekilas, proses tersebut tampak sederhana. Namun justru dari kesederhanaan itulah fondasi pendidikan dibangun. Seorang anak yang mampu membaca memperoleh pintu menuju pengetahuan. Anak yang memahami angka memperoleh alat untuk mengenali jumlah, ukuran, pola, dan perubahan.

Dalam konteks inilah urutan menjadi penting, yakni mengenal huruf, membaca kata, memahami dunia. Lalu, mengenal angka, belajar berhitung, kemudian memecahkan masalah. Literasi dan numerasi bukan tujuan akhir. Keduanya merupakan bahasa dasar untuk membaca kehidupan.

Memahami Pendekatan STEM

Setelah mampu membaca dunia, anak perlu diajak memahami bagaimana dunia bekerja. Di sinilah pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) menjadi relevan.

STEM tidak harus dimulai dari laboratorium modern, robot, atau komputer canggih. STEM dapat turun ke kampung, berangkat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan anak. Misalnya, Mengapa air harus bersih? Mengapa lingkungan kotor menyebabkan penyakit? Bagaimana tanaman tumbuh? Dari mana energi berasal? Bagaimana limbah dapat dimanfaatkan?

Ikuti Kami Untuk mendapatkan Berita menarik MetroToday
Google News

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait