METROTODAY, SURABAYA – Mewujudkan pembangunan yang adil dan merata bagi seluruh lapisan masyarakat menjadi urgensi utama agar setiap warga memperoleh kesempatan setara.
Berangkat dari semangat itu, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) menyelenggarakan lokakarya bertema “Sinergi Pentahelix: Optimalisasi Kolaborasi Pemda, KemenPPPA, dan Perguruan Tinggi dalam Akselerasi SDGs Poin 1, 4, dan 5”. Kegiatan berlangsung Kamis (10/9) di Hall A Gedung Soetandyo, Kampus Dharmawangsa-B Unair.
Lokakarya ini mempertemukan beragam pemangku kepentingan, seperti perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AK) Provinsi Jawa Timur, akademisi, Pusat Studi Gender, organisasi masyarakat sipil, hingga kalangan mahasiswa. Hadir pula Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia, Arifatul Choiri Fauzi.
Menteri PPPA Arifatul menegaskan bahwa tiga agenda utama Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yaitu Poin 1 (Pengentasan Kemiskinan), Poin 4 (Pendidikan Berkualitas), dan Poin 5 (Kesetaraan Gender) tidak bisa dijalankan secara terpisah. Ketiganya saling berkaitan dan harus berjalan beriringan agar hasilnya benar-benar terasa sampai ke akar rumput.
“Pendidikan yang berkualitas untuk membuka pengetahuan dan pilihan hidup. Kesetaraan gender memastikan bahwa kesempatan tersebut dapat diakses secara adil oleh perempuan dan laki-laki. Sementara pemberdayaan ekonomi memberikan kemampuan bagi keluarga untuk memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pemberdayaan perempuan harus ditempatkan sebagai strategi utama pembangunan nasional. Ketika perempuan diberi ruang berpartisipasi, berkarya, dan terlibat dalam pengambilan keputusan, dampak positifnya tidak hanya dirasakan secara pribadi, tetapi berimbas luas dengan memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, meningkatkan kualitas pengasuhan, hingga mendukung pendidikan anak yang lebih baik.
Namun di sisi lain, masih terlihat lebarnya kesenjangan partisipasi perempuan dalam dunia kerja.
Arifatul menjelaskan hal ini bukan semata-mata soal kemampuan, melainkan berkaitan erat dengan beban pekerjaan rumah tangga yang belum seimbang, keterbatasan akses pada pekerjaan layak, serta minimnya keterlibatan dalam pengambilan keputusan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pendekatan Pentahelix kolaborasi antarpemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan media menjadi kunci utama. Setiap pihak memiliki kekuatan dan sumber daya yang berbeda, yang jika disatukan akan menjadi kekuatan besar bagi kemajuan bersama.


