Categories: Akal Sehat

81 Tahun Pancasila: Dari Kolonialisme ke Algoritmisme

Lantaran itulah, selama delapan puluh satu tahun terakhir, Pancasila tidak pernah kehilangan relevansinya. Ketika satu isme meredup dan isme lain muncul menggantikannya, Pancasila tetap menjadi kompas yang menjaga arah perjalanan Indonesia.

Tantangan zaman boleh berganti wajah, tetapi kebutuhan akan nilai-nilai yang mempersatukan bangsa tetaplah sama.

Tantangan Algoritmisme

Setiap zaman melahirkan isme-nya sendiri. Jika abad ke-20 diwarnai oleh pergulatan dengan kolonialisme, komunisme, otoritarianisme, liberalisme, dan kapitalisme, maka abad ke-21 menghadirkan tantangan baru yang lebih halus namun tidak kalah berpengaruh, yakni algoritmisme.

Dalam tulisan ini, istilah algoritmisme sengaja digunakan untuk menggambarkan semakin besarnya pengaruh algoritma dalam membentuk kehidupan sosial, ekonomi, dan politik masyarakat.

Berbeda dengan isme terdahulu yang hadir melalui negara, partai politik, atau kekuatan ekonomi, algoritmisme bekerja melalui teknologi yang telah menyatu dalam kehidupan sehari-hari.

Apa yang kita lihat, baca, tonton, beli, bahkan percayai, semakin banyak dipengaruhi oleh algoritma yang bekerja di balik layar. Apalagi hari ini, sebagian besar aktivitas manusia berlangsung di ruang digital.

Media sosial menyaring informasi, platform digital mempelajari preferensi, bahkan kecenderungan psikologis penggunanya, sementara artificial intelligence (AI) mulai mengambil peran dalam berbagai proses pengambilan keputusan manusia.

Dalam konteks inilah algoritmisme dapat dipahami sebagai situasi ketika algoritma tidak lagi sekadar alat, melainkan kekuatan yang turut membentuk perilaku sosial, preferensi politik, pola konsumsi, hingga cara manusia memahami realitas.

Pengaruhnya bekerja tanpa paksaan, tetapi perlahan membentuk pilihan, persepsi, dan perilaku sosial.

Perkembangan teknologi algoritma tentu membawa manfaat besar bagi kemajuan peradaban. Ia mempercepat akses informasi, meningkatkan efisiensi, dan membuka peluang inovasi yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Namun sebagaimana setiap isme, termasuk algoritmisme, ibarat pisau bermata dua, yang juga menghadirkan risiko.

Disinformasi menyebar lebih cepat, polarisasi sosial semakin tajam, dan privasi berubah menjadi komoditas ekonomi.

Jika kolonialisme dahulu berusaha menguasai wilayah dan kapitalisme berusaha menguasai pasar, maka algoritmisme berpotensi menguasai cara manusia berpikir. Pengaruhnya bekerja lebih halus, tetapi tidak selalu lebih kecil.

Page: 1 2 3 4 5

Jay Wijayanto

Recent Posts

Santri Ini Datangi Damkar Surabaya Minta Bantuan Lepas Cincin yang Bikin Jari Bengkak

Seorang santri pondok pesantren didampingi pengurus datang bukan untuk laporan kebakaran, melainkan meminta bantuan melepas…

3 days ago

Ribuan Warga Padati Nobar Final Piala Dunia 2026 di Alun-Alun Sidoarjo, Bupati Subandi Ajak Jaga Kebersamaan

Euforia Final Piala Dunia FIFA 2026 terasa begitu kental di Kabupaten Sidoarjo. Ribuan warga memadati…

3 days ago

Hadapi Tantangan Kenaikan Biaya Tahun Depan, Wamenhaj Minta Layanan Haji Berbeda dan Berbenah

Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan bahwa Kementerian Haji dan…

3 days ago

Panasi Mesin Politik, PAN Sidoarjo Satukan Kekuatan Jajaki Pemilu 2029

Partai Amanat Nasional (PAN) mulai menyusun strategi dan memperkuat barisan menghadapi Pemilu 2029 mendatang. Dewan…

4 days ago

Sapuangin Speed 8 Karya ITS Siap Berlaga di Formula SAE Jepang dengan Mesin 250 cc

Tim otomotif Sapuangin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) resmi meluncurkan mobil formula teranyar bernama Sapuangin…

4 days ago

Tim Matador Menggelegar dan Matikan Messi di New York, Sikat Trofi, Trump Nimbrung Bagi-bagi Rejeki!

Panggung puncak Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium resmi bergulir dramatis setelah Timnas Spanyol sukses…

4 days ago

This website uses cookies.