Categories: Akal Sehat

State Capture dan Kebisuan Mimbar Akademik

OLEH: Machsus (Akademisi Institut Teknologi Sepuluh Nopember; Komunitas S36A)

SARASEHAN Kebangsaan KSTI 2026 yang berlangsung pada 26–28 Juni 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) memberi pesan keras kepada dunia kampus. Forum yang menghadirkan sekitar 2.600 rektor, dekan, dosen PTN dan PTS se-Indonesia itu menjadi ruang penting untuk menimbang kembali peran perguruan tinggi dalam kehidupan kebangsaan. Saya turut hadir sebagai bagian dari delegasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Dalam forum itu, Presiden menempatkan guru besar, ilmuwan, peneliti, dan civitas akademika sebagai kekuatan penting bangsa. Mereka diminta membantu negara membaca persoalan secara jernih, berbasis data, dan berpihak pada kemaslahatan rakyat.

Artinya, kampus tidak cukup menjadi menara ilmu. Kampus harus menjadi mercusuar moral dalam menjaga akal sehat, merawat nurani publik, dan memastikan ilmu pengetahuan tidak menjauh dari persoalan rakyat. Singkatnya, kampus tidak boleh puas menjadi pabrik gelar, publikasi, akreditasi, dan pemeringkatan.

Di situlah pembicaraan tentang state capture menjadi relevan. Istilah ini tidak perlu dibaca secara sensasional. State capture dapat dipahami sebagai keadaan ketika kebijakan publik, regulasi, anggaran, sumber daya, atau keputusan strategis negara mulai dibelokkan oleh kepentingan sempit. Negara tampak tetap bekerja, lantaran regulasi terbit, proyek berjalan, anggaran dibelanjakan. Tetapi ruh keadilan perlahan hilang. Negara hadir secara administratif, tetapi absen secara etis.

State Capture dan Oligarki

Istilah state capture dipopulerkan antara lain oleh Joel S. Hellman, Geraint Jones, dan Daniel Kaufmann dalam kajian Bank Dunia, “Seize the State, Seize the Day”: State Capture, Corruption, and Influence in Transition (2000). Di sana, state capture dipahami sebagai keadaan ketika aktor ekonomi-politik tertentu mampu membentuk hukum, regulasi, dan kebijakan negara untuk keuntungan mereka sendiri.

Berbeda dari korupsi biasa yang bekerja di hilir, melalui suap, gratifikasi, mark-up, atau penyimpangan anggaran, sementara state capture bekerja di hulu. Ia hadir sejak regulasi dirancang, prioritas pembangunan ditentukan, izin diberikan, anggaran dialokasikan, bahkan ketika opini publik dibentuk.

Di ruang hulu itulah oligarki menemukan tempat bersemayam. Ia tidak selalu datang dengan wajah kasar. Ia justru acapkali tampil melalui bahasa yang tampak mulia, seperti investasi, efisiensi, deregulasi, pertumbuhan, hilirisasi, atau stabilitas. Semua itu tentu penting. Tetapi semuanya harus diuji dengan pertanyaan etis, apakah benar-benar untuk kemaslahatan rakyat, atau hanya memperluas ruang akumulasi segelintir elite?

Dalam konteks Indonesia, kewaspadaan terhadap state capture harus dibaca sebagai bagian dari menjaga mandat konstitusi. Negara tidak boleh menjadi alat segelintir orang. Kebijakan tidak boleh menjadi karpet merah bagi kepentingan sempit. Anggaran tidak boleh menjadi ruang perburuan rente. Regulasi tidak boleh berubah menjadi pagar hukum bagi ketimpangan.

Page: 1 2 3

Jay Wijayanto

Recent Posts

Tanpa Melihat Tetap Presisi, Mahasiswa di Surabaya Ciptakan Timbangan untuk Barista Tunanetra

Tim Rasena dari Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (Unair) merancang AURIS (Auditory…

2 hours ago

Teken Kontrak Kinerja dan Surat Siap Mundur, Pejabat Surabaya Komitmen Capai Target

Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) terus diperketat untuk mengawal kinerja perangkat daerah sekaligus mencegah risiko…

3 hours ago

BRI Region 12 Surabaya Salurkan Paket Sembako ke Panti Asuhan dan Gereja, Kepedulian Sambut HUT RI

BRI menyalurkan bantuan paket sembako kepada sembilan panti asuhan, lembaga kesejahteraan sosial anak, dan gereja…

4 hours ago

Perda 4/2026 Berlaku, Penghuni Kos di Surabaya Kini Bisa Pakai Alamat Tempat Tinggal di KK dan KTP

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Surabaya menyiapkan sistem informasi khusus untuk mendata dan…

9 hours ago

Bertemu Bupati Subandi, HMI Sidoarjo Dukung Pemberantasan Miras dan Penanggulangan HIV/AIDS

Perwakilan pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sidoarjo menemui Bupati Sidoarjo H. Subandi SH MKn…

18 hours ago

Pimpin DPAC PKB Sedati, Rafi Wibisono Bawa Misi “Naik Kelas”

Regenerasi kepemimpinan mulai menjadi warna baru di tubuh PKB Sidoarjo. M. Rafi Wibisono dipercaya menjadi…

1 day ago

This website uses cookies.