Categories: Akal Sehat

81 Tahun Pancasila: Dari Kolonialisme ke Algoritmisme

Kolonialisme klasik memang telah berakhir, tetapi pertarungan untuk menjaga kedaulatan bangsa belum pernah benar-benar selesai.

Di sinilah Pancasila kembali menemukan relevansinya. Lantaran pada akhirnya, setiap zaman selalu melahirkan bentuk kekuasaannya sendiri.

Kolonialisme pernah menjadi ujian abad ke-20. Algoritmisme mungkin menjadi ujian abad ke-21.

Dari kolonialisme ke algoritmisme, tantangan boleh berganti rupa, tetapi tugas kebangsaan tetap sama, yakni menjaga kedaulatan, merawat persatuan, dan memastikan bahwa teknologi tetap menjadi alat bagi kemanusiaan, bukan sebaliknya.

Melawan Kolonialisme

Delapan puluh satu tahun lalu, ketika gagasan Pancasila mulai dirumuskan, Indonesia masih berada dalam bayang-bayang kolonialisme.

Selama berabad-abad, penjajahan tidak hanya menguras sumber daya alam, tetapi juga membatasi kebebasan, merendahkan martabat manusia, dan memecah-belah kehidupan kebangsaan.

Kemerdekaan pada saat itu bukan sekadar cita-cita politik, melainkan ikhtiar untuk mengembalikan harkat dan martabat bangsa yang lama terpasung.

Dalam konteks kesejarahan itulah Pancasila lahir. Ia tidak hadir di ruang hampa, melainkan sebagai jawaban atas realitas zamannya.

Pancasila menjadi titik temu dari berbagai gagasan, identitas, dan kepentingan yang kemudian dipersatukan oleh satu tujuan bersama, yakni membangun Indonesia yang merdeka, berdaulat, dan berkeadilan.

Lantaran itu, Pancasila sesungguhnya dapat dibaca sebagai manifesto pembebasan bangsa.

Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menolak dehumanisasi kolonialisme. Sila Persatuan Indonesia menegaskan perlawanan terhadap politik pecah belah.

Sementara sila Keadilan Sosial mengandung cita-cita untuk mengoreksi ketimpangan ekonomi yang diwariskan sistem kolonial.

Memahami Pancasila dengan demikian tidak cukup hanya sebagai rangkaian lima sila dalam konstitusi.

Ia adalah refleksi dari pengalaman sejarah bangsa sekaligus kompas moral yang lahir dari perjuangan melawan ketidakadilan.

Page: 1 2 3 4 5

Jay Wijayanto

Recent Posts

Kemenag Terapkan Manajemen Talenta, Promosi Jabatan ASN Kini Berdasarkan Kompetensi

Kementerian Agama menerapkan manajemen talenta sebagai fondasi sistem merit yang lebih transparan, objektif, dan inklusif.…

2 days ago

Mantan Dirut KBS Ditahan Kejati Jatim, Korupsi Pakan Satwa Rp10 M, Rp7, 4 M Dipakai Kepentingan Pribadi

Kejati Jatim resmi menetapkan mantan Direktur Utama Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (PD…

2 days ago

Wabup Mimik Idayana Sidak Sentra Kuliner Gajah Mada, Penataan Lapak dan Revitalisasi Jadi Prioritas

Kondisi Sentra Kuliner Gajah Mada mendapat perhatian serius Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Wakil Bupati Sidoarjo Hj.…

2 days ago

Kecamatan Gedangan Juara Umum MTQ Ke-32 Kabupaten Sidoarjo, Pemkab Siapkan 2 Tiket Umrah

Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-32 Tingkat Kabupaten Sidoarjo Tahun 2026 tuntas pada Senin (20/7/2026) malam.…

2 days ago

Sidoarjo Kejar STBM Paripurna, Tim Provinsi Verifikasi Sanitasi di 12 Desa

Komitmen mewujudkan lingkungan sehat dan bebas pencemaran di Kabupatan Sidoarjo terus digeber. Salah satunya melalui…

2 days ago

Tangis Tango Membasahi Pipi, Duo Lionel Menepi, Argentina Kini Bersiap Berbenah Diri

Laga final lawan Spanyol diperkirakan menjadi panggung Piala Dunia terakhir bagi Lionel Messi dan sejumlah…

2 days ago

This website uses cookies.