Di sinilah Pancasila menemukan relevansi barunya. Ketika algoritma berpotensi mengendalikan perhatian manusia, Pancasila mengingatkan pentingnya nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.
Ketika ruang digital cenderung memecah-belah, Pancasila meneguhkan persatuan. Pancasila mengajarkan keniscayaan bermusyawarah di tengah kebisingan ruang digital.
Dan ketika data serta teknologi terkonsentrasi pada segelintir pihak, Pancasila kembali mengingatkan cita-cita keadilan sosial.
Dari kolonialisme hingga algoritmisme, zaman terus berganti wajah. Namun Pancasila tetap berdiri sebagai jangkar yang menautkan Indonesia pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan sosial.
Lantaran itu, Pancasila bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan cahaya yang terus menerangi perjalanan bangsa menuju masa depan. (*)
Tidak ada yang membayangkan Como 1907 akan duduk sejajar dengan berbagai klub elite Eropa di…
Di tengah padatnya pembeli hewan kurban, ada fenomena unik yang kian diminati masyarakat, yaitu jasa…
Tradisi toron atau pulang kampung yang dilakukan masyarakat Madura perantau menjelang Hari Raya Idul Adha…
Sapi kurban berukuran jumbo sumbangan Presiden Prabowo Subianto mengamuk dan berlari tak terkendali saat baru…
Berbeda dengan jenis yoga lain yang lebih luwes dan bervariasi, Yoga Ashtanga memiliki ciri khas…
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan pentingnya diversifikasi sumber pendanaan baru di luar sektor perbankan demi…
This website uses cookies.