Di sinilah Pancasila menemukan relevansi barunya. Ketika algoritma berpotensi mengendalikan perhatian manusia, Pancasila mengingatkan pentingnya nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.
Ketika ruang digital cenderung memecah-belah, Pancasila meneguhkan persatuan. Pancasila mengajarkan keniscayaan bermusyawarah di tengah kebisingan ruang digital.
Dan ketika data serta teknologi terkonsentrasi pada segelintir pihak, Pancasila kembali mengingatkan cita-cita keadilan sosial.
Dari kolonialisme hingga algoritmisme, zaman terus berganti wajah. Namun Pancasila tetap berdiri sebagai jangkar yang menautkan Indonesia pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan sosial.
Lantaran itu, Pancasila bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan cahaya yang terus menerangi perjalanan bangsa menuju masa depan. (*)
Dominasi mutlak Spanyol akhirnya berbuah manis. La Roja (julukan Spanyol) sukses menumbangkan Argentina 1-0 setelah…
Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sedang mendalami dugaan…
Alumni Brawijaya Golf (ABG) Jawa Timur kembali menggelar turnamen golf tahunan di Finna Golf &…
Jika Toronto menawarkan wajah metropolitan Kanada, maka Vancouver menyuguhkan sisi lain yang luar biasa. Kota…
Persebaya Surabaya harus puas berbagi angka dengan skor 2-2 saat menjamu PSIS Semarang dalam laga…
Final Piala Dunia 2026 bukan sekadar mempertemukan dua raksasa sepak bola dunia, Spanyol dan Argentina.…
This website uses cookies.