METROTODAY, SURABAYA – Oval Atrium Ciputra World Surabaya menjadi panggung pagelaran Innofashion Show 8 yang digelar 14–16 Agustus. Mengusung tema Zerith Rise Beyond Zero, acara ini menampilkan 89 karya busana dari 21 hasil tugas akhir mahasiswa program studi (prodi) Desain Fashion dan Tekstil (DFT) Universitas Kristen (UK) Petra angkatan 2022.
Lebih dari sekadar pameran estetika, setiap koleksi membawa pesan mendalam mulai pelestarian budaya, kritik konsumerisme, isu deforestasi, hingga pemanfaatan bahan deadstock.
Ketua Panitia Innofashion Show 8, Cicillia Josephine Setiady, menjelaskan setiap karya mahasiswa lahir melalui riset mendalam. “Innofashion Show 8 ingin menunjukkan bahwa setiap karya memiliki cerita di balik proses penciptaannya,” tuturnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa dipilihnya tema zerith rise beyond zero sendiri untuk menggambarkan perjalanan dari ruang kosong menuju pencapaian tanpa batas, menghadirkan karya bernuansa distopia dan estetika futuristik yang tetap relevan dengan isu-isu masa kini.
Dengan penampilan karya mahasiswa yang merupakan desainer muda ini pihaknya berharap bisa menyampaikan pesan dan menginsipirasi masyarakat.
“Kami berharap, koleksi-koleksi yang ditampilkan tidak hanya dapat dinikmati dari sisi visual, tapi juga mampu menyampaikan pesan dan menginspirasi masyarakat,” harapnya.
Salah satu koleksi yang menonjol adalah BEMAUR karya Febe Maureen Purwanto, yang mengusung konsep ready to wear deluxe. Febe merancang koleksi ini dengan tujuan menghadirkan warisan budaya Indonesia dalam perspektif yang lebih dekat dengan generasi masa kini.
Terinspirasi dari kekayaan seni tari tradisional khususnya tarian dari Jawa Tengah Febe mengolah esensi, karakter, serta elemen visualnya menjadi motif-motif kontemporer yang selaras dengan gaya hidup modern.
“Dalam koleksi perdana ini, saya mengambil inspirasi dari tari tradisional Jawa Tengah yang kemudian diolah menjadi visual yang modern dan relevan,” kata Febe.
Selain BEMAUR, karya-karya lain juga membawa berbagai isu penting mulai dari kerusakan hutan, dampak konsumerisme berlebih, hingga inovasi memanfaatkan bahan sisa produksi agar tidak terbuang. Melalui bahasa visual kain dan warna, para desainer muda berharap dapat membuka wawasan sekaligus mengajak masyarakat berpikir lebih kritis tentang dunia di sekitar mereka. (ahm)


