METROTODAY, SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama DPRD Kota Surabaya resmi menyepakati kebijakan umum APBD serta prioritas dan plafon anggaran sementara (KUA–PPAS) Tahun Anggaran 2027 dalam Rapat Paripurna Persetujuan Bersama di Gedung DPRD, Jumat (14/8).
Penanganan genangan air menempati urutan teratas prioritas pembangunan, diikuti pengaspalan jalan dan penerangan jalan umum. Proyeksi besaran APBD diperkirakan sekitar Rp 15 triliun, masih menunggu kepastian Transfer ke Daerah dan Dana Bagi Hasil dari pemerintah pusat.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjelaskan perhitungan anggaran disesuaikan dengan indikasi aliran dana pusat.
“Jadi kita masih merencanakan dengan kembalinya TKD, termasuk dengan dana bagi hasil yang akan diturunkan tahun ini. Jadi kita menghitung dengan tahun yang ini, sekaligus dengan perhitungan sebelumnya, maka kita sekitar Rp 15 triliun,” ujarnya.
Anggaran difokuskan pada sejumlah persoalan yang paling mendesak agar penanganan lebih terarah dan optimal. “Jadi 2027 terkait pengaspalan jalan. Yang kedua terkait penerangan jalan umum. Yang ketiga, penanganan genangan air. Jadi prioritas kita itu, maka kita lakukan hal itu,” jelasnya.
Dari total sekitar 450 titik genangan yang masih tercatat, Pemkot menargetkan menangani sekitar 200 titik pada tahun mendatang. Jumlah ini merupakan penurunan signifikan dari sekitar 700 titik pada tahun-tahun sebelumnya menjadi sekitar 400 titik saat ini. “Jadi dari tahun sebelumnya 700 titik, turun jadi 400 titik. Jadi 200 titik perkiraan kita yang akan kita sentuh,” jelasnya.
Kawasan yang masuk daftar prioritas mencakup Simo Kalangan, Tanjungsari, Margorejo, Jemursari, Medokan Semampir, hingga sekitar Jalan Raya Tenggilis Mejoyo tepatnya di epan SMA Negeri 14 Surabaya.
Untuk mendukung pelaksanaan tersebut, dialokasikan anggaran lebih dari Rp 1 triliun. “Insyaallah Rp 1 triliun lebih. Jadi ada titik-titiknya nanti kita sepakati. Tidak bisa menyentuh semuanya, maka kita pastikan genangan airnya itu di mana, titik yang berkurang mana saja,” ujar Cak Eri sapaan akrabnya.
Penentuan titik secara rinci juga diperlukan untuk memudahkan evaluasi pasca-penanganan. “Maka harus kita tentukan titik-titiknya, sehingga nanti ke depannya ada evaluasi benar-benar titik itu terlepas dari genangan atau tidak,” jelasnya.
Selain penanganan banjir lokal, infrastruktur jalan juga tetap menjadi perhatian. Eri memastikan proyek strategis Jalan Lingkar Luar Barat (JLLB) tetap masuk dalam perencanaan. “JLLB ada yang kita tembuskan jalan,” pungkasnya. (ahm)


