METROTODAY, SURABAYA – Pencemaran mikroplastik di Kali Surabaya semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan sensus ikan yang dilakukan pada 12–13 September lalu menemukan lima jenis ikan yang tertangkap semuanya mengandung partikel plastik berukuran sangat kecil di dalam lambungnya. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu pemicu menurunnya populasi hingga kepunahan ikan di sungai tersebut.
Peneliti Sungai Ecoton, Prigi Arisandi, menjelaskan mikroplastik berperan sebagai pengganggu hormon yang dapat mengubah keseimbangan kelamin ikan.
“Mikroplastik masuk kategori senyawa pengganggu hormon. Keberadaannya di air sungai akan berpengaruh pada terbentuknya kelamin ikan dan bila masuk ke dalam organ tubuh akan mempengaruhi pertumbuhan ikan,” ungkap Prigi, Minggu (4/10).
Pembuahan ikan terjadi di luar tubuh, sehingga paparan mikroplastik yang diserap sebagai hormon estrogen mendorong lebih banyak calon ikan berkelamin betina. Hasil sensus menunjukkan 80 persen ikan yang tertangkap berjenis kelamin betina, ketimpangan yang mengancam kelestarian populasi.

Dari 71 ekor ikan yang tertangkap mencakup tujuh jenis yakni Jendil paling banyak dengan 44 ekor, lima jenis yang diperiksa isinya tercatat mengandung total 159 partikel mikroplastik: Palung (18 partikel), Bader Merah (27), Bader Putih (24), Rengkik (40), dan Jendil (50). Sebanyak 78,61 persen berupa serpihan plastik, 20,12 persen serat, dan 1,25 persen lembaran tipis.
Koordinator Pendidikan Lingkungan Ecoton, Erica Damayanti, menegaskan buruknya pengelolaan sampah dan pengawasan limbah industri sebagai akar masalah.
Partikel mikroplastik berasal dari pelapukan plastik, limbah cair pabrik daur ulang, pembakaran sampah, gesekan ban kendaraan, hingga serat pakaian sintetis yang terbuang saat dicuci. Partikel-partikel ini terbawa angin, debu, dan air hujan masuk ke sungai.
“Buruknya pengelolaan sampah dan pengawasan limbah industri memicu peningkatan pencemaran mikroplastik di air sungai,” jelas Erica.
Konsentrasi tertinggi tercatat di limbah cair pabrik daur ulang plastik di aliran Sungai Brantas mencapai 4,46–9,18 partikel per liter. Di udara sekitar pabrik di Balongbendo dan tempat penimbunan sampah Kedunganyar tercatat 630,5 partikel per jam. Di perairan Kali Surabaya sendiri berkisar 0,73–3,6 partikel per liter air.
Riset Veryl Hasan dari Universitas Airlangga menyebut sedikitnya 12 spesies ikan di Kali Surabaya telah dinyatakan punah, tersisa kini hanya 35 spesies. Prigi menegaskan perubahan ini tidak bisa dibiarkan dan meminta langkah serius segera diambil.
“Untuk pelestarian ikan di Kali Surabaya dibutuhkan langkah serius pengelolaan sampah dan pemantauan limbah cair di Daerah Aliran Sungai,” tegasnya.
Ecoton mendorong masyarakat berhenti membakar sampah di tempat terbuka, memperluas pengangkutan dan pemilahan sampah hingga ke tingkat desa, melibatkan warga mengawasi limbah industri, serta memasukkan parameter mikroplastik ke dalam pemantauan rutin kualitas air sungai. (ahm)


