Ahmad Dhani Kunjungi DPRD Surabaya: Akui Perubahan Nyata Kota Pahlawan di Masa Risma

METROTODAY, SURABAYA – Anggota Komisi X DPR RI sekaligus pentolan Dewa 19 Ahmad Dhani Prasetyo mengunjungi Gedung DPRD Kota Surabaya, Selasa (11/8).

Dalam kunjungannya, ia memaparkan bahwa wajah Surabaya telah berubah drastis dalam lebih dari tiga dekade terakhir perubahan itu tidak hanya terlihat dari pembangunan fisik, melainkan juga dari citra dan pandangan orang terhadap kota serta warganya.

Dhani menuturkan perubahan tersebut terlihat jelas sejak dirinya mulai berkarier di dunia musik pada awal 1990-an. Sejumlah wilayah yang dulu belum berkembang kini bertransformasi menjadi kawasan perkotaan yang tertata.

“Surabaya itu tidak kalah maju. Banyak daerah yang dulu kosong, tiba-tiba sekarang menjadi sebuah kota yang maju, penuh dengan gedung-gedung,” ujar Dhani.

Perkembangan fisik itu turut mengubah citra masyarakatnya. Sekitar 35 tahun lalu, warga Surabaya masih kerap dipandang sebagai anak daerah di kota lain kini hal itu telah berbalik.

“Dulu ada semacam anggapan bahwa anak Surabaya itu anak daerah. Sekarang mungkin tidak seperti itu. Surabaya sudah menjadi identitas yang menarik,” katanya.

Bahkan karakter khas yang dulu dianggap terlalu kental dengan budaya Jawa, kini justru menjadi daya tarik tersendiri.

“Dulu kalau ada perempuan Surabaya yang cantik tetapi logatnya Jawa, cowok-cowok Jakarta bisa mundur. Sekarang malah rebutan. Sekarang itu menjadi menarik,” tuturnya.

Dhani menilai perubahan wajah kota turut dipengaruhi kepemimpinan sejumlah wali kota, secara khusus menyebut masa pemerintahan Tri Rismaharini yang dinilainya membawa perubahan nyata.

“Saya harus mengakui bahwa Kota Surabaya ketika Bu Risma menjadi wali kota mengalami perubahan yang nyata. Dulu Surabaya itu panas. Zaman saya memang panas. Sekarang jauh berbeda,” kata Dhani.

Kesan positif tersebut juga dirasakan orang yang baru pertama kali berkunjung.

“Beberapa teman saya yang belum pernah ke Surabaya, ketika pertama kali datang ke Surabaya, suka. Mereka bilang, Ini memang Surabaya sekarang jauh berbeda dengan Surabaya di zaman saya,” imbuhnya.

Meski demikian, Dhani mengingatkan pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur. Perkembangan perlu diimbangi penyediaan ruang bagi seni, musik, budaya, dan kreativitas anak muda.

“Saya berharap fasilitas-fasilitas untuk dunia seni, musik, dan budaya tetap ada. Jangan sampai pembangunan kota justru membuat ruang kreativitas semakin jauh,” tegasnya.

Ia juga menilai karakter warga Surabaya yang terbuka dan langsung dalam menyampaikan pendapat merupakan modal penting.

“Kalau mengkritisi dan menyampaikan saran, mereka selalu to the point. Tidak bela-bela atau bagaimana. Saya yakin ini juga menjadi nilai tambah,” ujarnya.

Dhani yang memulai karier musik dari Surabaya sebelum melangkah ke Jakarta dan terjun ke politik, berharap kemajuan kota tidak menghapus identitas budaya.

“Identitas sebuah kota tidak hanya dibentuk oleh gedung dan jalan, tetapi juga oleh kreativitas masyarakatnya,” pungkasnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Anggota Komisi X DPR RI sekaligus pentolan Dewa 19 Ahmad Dhani Prasetyo mengunjungi Gedung DPRD Kota Surabaya, Selasa (11/8).

Dalam kunjungannya, ia memaparkan bahwa wajah Surabaya telah berubah drastis dalam lebih dari tiga dekade terakhir perubahan itu tidak hanya terlihat dari pembangunan fisik, melainkan juga dari citra dan pandangan orang terhadap kota serta warganya.

Dhani menuturkan perubahan tersebut terlihat jelas sejak dirinya mulai berkarier di dunia musik pada awal 1990-an. Sejumlah wilayah yang dulu belum berkembang kini bertransformasi menjadi kawasan perkotaan yang tertata.

“Surabaya itu tidak kalah maju. Banyak daerah yang dulu kosong, tiba-tiba sekarang menjadi sebuah kota yang maju, penuh dengan gedung-gedung,” ujar Dhani.

Perkembangan fisik itu turut mengubah citra masyarakatnya. Sekitar 35 tahun lalu, warga Surabaya masih kerap dipandang sebagai anak daerah di kota lain kini hal itu telah berbalik.

“Dulu ada semacam anggapan bahwa anak Surabaya itu anak daerah. Sekarang mungkin tidak seperti itu. Surabaya sudah menjadi identitas yang menarik,” katanya.

Bahkan karakter khas yang dulu dianggap terlalu kental dengan budaya Jawa, kini justru menjadi daya tarik tersendiri.

“Dulu kalau ada perempuan Surabaya yang cantik tetapi logatnya Jawa, cowok-cowok Jakarta bisa mundur. Sekarang malah rebutan. Sekarang itu menjadi menarik,” tuturnya.

Dhani menilai perubahan wajah kota turut dipengaruhi kepemimpinan sejumlah wali kota, secara khusus menyebut masa pemerintahan Tri Rismaharini yang dinilainya membawa perubahan nyata.

“Saya harus mengakui bahwa Kota Surabaya ketika Bu Risma menjadi wali kota mengalami perubahan yang nyata. Dulu Surabaya itu panas. Zaman saya memang panas. Sekarang jauh berbeda,” kata Dhani.

Kesan positif tersebut juga dirasakan orang yang baru pertama kali berkunjung.

“Beberapa teman saya yang belum pernah ke Surabaya, ketika pertama kali datang ke Surabaya, suka. Mereka bilang, Ini memang Surabaya sekarang jauh berbeda dengan Surabaya di zaman saya,” imbuhnya.

Meski demikian, Dhani mengingatkan pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur. Perkembangan perlu diimbangi penyediaan ruang bagi seni, musik, budaya, dan kreativitas anak muda.

“Saya berharap fasilitas-fasilitas untuk dunia seni, musik, dan budaya tetap ada. Jangan sampai pembangunan kota justru membuat ruang kreativitas semakin jauh,” tegasnya.

Ia juga menilai karakter warga Surabaya yang terbuka dan langsung dalam menyampaikan pendapat merupakan modal penting.

“Kalau mengkritisi dan menyampaikan saran, mereka selalu to the point. Tidak bela-bela atau bagaimana. Saya yakin ini juga menjadi nilai tambah,” ujarnya.

Dhani yang memulai karier musik dari Surabaya sebelum melangkah ke Jakarta dan terjun ke politik, berharap kemajuan kota tidak menghapus identitas budaya.

“Identitas sebuah kota tidak hanya dibentuk oleh gedung dan jalan, tetapi juga oleh kreativitas masyarakatnya,” pungkasnya. (ahm)

Ikuti Kami Untuk mendapatkan Berita menarik MetroToday
Google News

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait