METROTODAY, SURABAYA – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi berkoordinasi dengan pengelola mal di Kota Pahlawan agar tidak membangun pagar yang terlalu tinggi. Langkah ini diambil demi menjaga estetika, keterbukaan ruang, serta memastikan masyarakat tidak merasa khawatir atau takut saat melintas di sekitar kawasan mal.
Eri menegaskan, Pemkot tidak meminta pembongkaran pagar, melainkan hanya menyarankan penyesuaian ketinggian agar tidak menimbulkan kesan tertutup atau mengancam keamanan.
“Jadi insyaallah nanti kami koordinasikan, yang saya ingin ketika ada pagar itu ada, orang jalan itu semakin terang, tidak terlalu tinggi yang mencerminkan orang itu merasa takut gitu. Padahal kota Surabaya ini aman,” kata Eri, Senin (3/8).

Ia menjelaskan, pagar yang dibangun pihak pengelola sejatinya bertujuan untuk keamanan dan mengatur arus pengunjung, bukan untuk mengantisipasi aksi massa.
Sebagai contoh, di kawasan Tunjungan Plaza, pagar dipasang untuk mencegah pejalan kaki menyeberang jalan secara sembarangan di Jalan Basuki Rahmat yang justru membahayakan keselamatan.
“Kalau orang menyeberang kan langsung di depan itu, jadi orang lompat menyeberangi. Kami juga sering tegur, agar orang tidak menyebrang di depan Tunjungan Plaza, karena sudah ada JPO. Mereka (pemilik mal) menyampaikan, diberi pagar sehingga bisa keluar ke kanan atau kiri dan bisa dipantau. Tapi saya bilang pagarnya jangan terlalu tinggi, dipikir nanti ada apa-apa atau rasa kekhawatiran, padahal tidak seperti itu,” papar Eri.
Selain pagar mal, Pemkot juga telah memasang pembatas beton di Jalan Basuki Rahmat menggantikan pembatas plastik yang kerap digeser dan membahayakan pengendara.

