Wamendiktisaintek: Vokasi Harus Sesuaikan Kompetensi Lulusan Menjawab Kebutuhan Industri

METROTODAY, SURABAYA – Pembukaan Olimpiade Vokasi Indonesia (OLIVIA) ke-11 resmi digelar di Lapangan Rektorat Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Kampus II Lidah Wetan.

Ajang bergengsi yang diinisiasi Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI) ini dibuka langsung oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Prof. Dr. Fauzan, M.Pd.

Tahun ini, Fakultas Vokasi Unesa dipercaya menjadi tuan rumah dengan mengusung tema “Synergizing for Sustainable Innovation: Transforming Ideas into Real-World Impact”. Kompetisi ini diikuti sekitar 1.500 tim dengan hampir 4.700 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Setelah melewati seleksi ketat, sebanyak 363 finalis dari 65 kampus melaju ke babak final dalam 26 tangkai lomba, didampingi 130 dosen pembimbing dan 78 juri profesional dari dunia industri maupun akademik.

Wamendiktisaintek Prof. Fauzan menekankan bahwa forum ini tidak boleh sekadar seremonial, melainkan harus melahirkan solusi nyata atas persoalan mendasar pendidikan vokasi, yaitu relevansi lulusan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.

“Forum Vokasi ini benar-benar harus merumuskan satu program yang saat ini menjadi perhatian negara, yaitu relevansi. Perguruan tinggi vokasi memiliki tanggung jawab besar untuk merealisasikan kesesuaian antara program studi, kompetensi mahasiswa, dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Ini tantangan besar dan tidak mudah,” ujarnya, Senin (3/8).

Wamendiktisaintek juga menyoroti ironi jumlah perguruan tinggi vokasi yang mencapai lebih dari 1.000 institusi, namun jumlah pengangguran berijazah vokasi masih tinggi.

Karena itu, Kementerian berencana segera mengumpulkan pengurus Forum Perguruan Tinggi Vokasi untuk menyusun ekosistem pendidikan yang lebih kuat dan terintegrasi.

“Di Indonesia pendidikan vokasi jumlahnya banyak, lebih dari 1.000. Satu sisi, pengangguran berijazah vokasi juga masih banyak. Tentu ini tidak boleh dibiarkan. Maka tujuannya adalah menguatkan relevansi. Saat ini kebersamaan baru pada tataran permukaan, belum menjawab persoalan riil di masyarakat. Perlu penguatan bersama,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Prof. Dr. Martadi, M.Sn., menjelaskan bahwa OLIVIA bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan ruang menyemai kolaborasi dan inovasi.

Pendidikan vokasi memiliki peran strategis melalui keahlian praktis, kedekatan dengan industri, serta kemampuan menerjemahkan teori menjadi karya terapan yang menjadi kunci pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

“OLIVIA bukanlah sekadar mencari siapa yang menang, tetapi merupakan ruang untuk menyemai benih kolaborasi, inovasi, dan talenta muda Indonesia yang kelak akan memimpin negeri ini. Kepada seluruh finalis, tunjukkan sportivitas dan karya terbaiknya. Junjung tinggi integritas dan semangat kebangsaan untuk merawat kebhinekaan,” pungkasnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Pembukaan Olimpiade Vokasi Indonesia (OLIVIA) ke-11 resmi digelar di Lapangan Rektorat Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Kampus II Lidah Wetan.

Ajang bergengsi yang diinisiasi Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI) ini dibuka langsung oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Prof. Dr. Fauzan, M.Pd.

Tahun ini, Fakultas Vokasi Unesa dipercaya menjadi tuan rumah dengan mengusung tema “Synergizing for Sustainable Innovation: Transforming Ideas into Real-World Impact”. Kompetisi ini diikuti sekitar 1.500 tim dengan hampir 4.700 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Setelah melewati seleksi ketat, sebanyak 363 finalis dari 65 kampus melaju ke babak final dalam 26 tangkai lomba, didampingi 130 dosen pembimbing dan 78 juri profesional dari dunia industri maupun akademik.

Wamendiktisaintek Prof. Fauzan menekankan bahwa forum ini tidak boleh sekadar seremonial, melainkan harus melahirkan solusi nyata atas persoalan mendasar pendidikan vokasi, yaitu relevansi lulusan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.

“Forum Vokasi ini benar-benar harus merumuskan satu program yang saat ini menjadi perhatian negara, yaitu relevansi. Perguruan tinggi vokasi memiliki tanggung jawab besar untuk merealisasikan kesesuaian antara program studi, kompetensi mahasiswa, dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Ini tantangan besar dan tidak mudah,” ujarnya, Senin (3/8).

Wamendiktisaintek juga menyoroti ironi jumlah perguruan tinggi vokasi yang mencapai lebih dari 1.000 institusi, namun jumlah pengangguran berijazah vokasi masih tinggi.

Karena itu, Kementerian berencana segera mengumpulkan pengurus Forum Perguruan Tinggi Vokasi untuk menyusun ekosistem pendidikan yang lebih kuat dan terintegrasi.

“Di Indonesia pendidikan vokasi jumlahnya banyak, lebih dari 1.000. Satu sisi, pengangguran berijazah vokasi juga masih banyak. Tentu ini tidak boleh dibiarkan. Maka tujuannya adalah menguatkan relevansi. Saat ini kebersamaan baru pada tataran permukaan, belum menjawab persoalan riil di masyarakat. Perlu penguatan bersama,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Prof. Dr. Martadi, M.Sn., menjelaskan bahwa OLIVIA bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan ruang menyemai kolaborasi dan inovasi.

Pendidikan vokasi memiliki peran strategis melalui keahlian praktis, kedekatan dengan industri, serta kemampuan menerjemahkan teori menjadi karya terapan yang menjadi kunci pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

“OLIVIA bukanlah sekadar mencari siapa yang menang, tetapi merupakan ruang untuk menyemai benih kolaborasi, inovasi, dan talenta muda Indonesia yang kelak akan memimpin negeri ini. Kepada seluruh finalis, tunjukkan sportivitas dan karya terbaiknya. Junjung tinggi integritas dan semangat kebangsaan untuk merawat kebhinekaan,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait