METROTODAY, SURABAYA – Keberhasilan panitia mengamankan seorang joki pada pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di hari pertama membuat pihak penyelenggara UPN Veteran Jawa Timur segera melakukan berbagai peningkatan sistem pengawasan.
Berbagai langkah antisipatif diterapkan guna memastikan pelaksanaan ujian berjalan jujur, adil, dan bebas dari segala bentuk kecurangan.
Rektor UPN Veteran Jawa Timur, Prof. Akhmad Fauzi, menjelaskan bahwa pihaknya terus menambah indikator pengawasan secara ketat.
Selain pemeriksaan fisik dan pengecekan seluruh barang bawaan peserta, panitia juga menerapkan sistem verifikasi dokumen yang disertai pertanyaan acak untuk memastikan keaslian identitas peserta.
Tak hanya mengawasi peserta, pihaknya juga melakukan langkah pencegahan terhadap potensi kecurangan yang mungkin dilakukan dari pihak internal panitia.
“Kami juga lakukan antisipasi untuk mencegah kecurangan dari internal. Setiap pengawas kami berikan kesempatan bertugas maksimal dua kali, dan setiap penugasan berikutnya akan ditempatkan di ruangan yang berbeda. Hal ini untuk meminimalisir potensi kerja sama atau kolusi yang tidak diinginkan,” ungkap Prof. Fauzi, Senin (27/4).

Langkah-langkah preventif yang dilakukan kampus ini turut mendapatkan apresiasi tinggi dari Tim Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) Pusat. Penilaian ini disampaikan saat tim melakukan monitoring dan evaluasi langsung di lokasi ujian.
Anggota Tim Penanggungjawab SNPMB, Prof. Tjitjik Srie Tjahjandarie, menyatakan bahwa seluruh upaya yang dilakukan UPN Veteran Jawa Timur telah sesuai dengan standar prosedur yang ditetapkan panitia pusat.
Ia bahkan memuji ketelitian panitia lokal yang berhasil mengidentifikasi dan membuktikan kasus kecurangan hingga ke akar permasalahannya.
“Proses persiapan UTBK di UPN Veteran Jawa Timur berjalan sangat baik. Mulai dari pemberian pengarahan tata tertib kepada peserta hingga tahap pemeriksaan sebelum masuk ruangan, semuanya dilaksanakan sesuai prosedur secara benar. Apalagi pihak kampus telah berhasil mengidentifikasi, mendeteksi, bahkan menggali informasi hingga terbukti bahwa yang bersangkutan adalah joki,” ujar Prof. Tjitjik.
Ia juga menyampaikan data bahwa kasus kecurangan paling banyak terjadi pada hari pertama dan kedua pelaksanaan ujian. Hingga hari ketiga saja, tercatat sudah ada 39 kasus kecurangan yang berhasil diidentifikasi dengan berbagai modus operandi.
“Modusnya beragam, mulai dari penggunaan alat bantu digital, penggunaan joki yang menggantikan identitas peserta asli, hingga tindakan memfoto soal ujian yang sedang berlangsung,” jelasnya.
Sebagai tindak lanjut, seluruh pelaku dan pihak yang terlibat dalam kasus kecurangan tersebut akan diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Selain dipastikan didiskualifikasi dan dicoret dari daftar peserta SNPMB, para pelaku juga berpotensi diproses melalui jalur hukum sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Sebelumnya, pada hari pertama pelaksanaan ujian, panitia berhasil mengamankan seorang perempuan yang terbukti bertindak sebagai joki dengan modus yang dinilai baru.
Pelaku berusaha masuk ke ruang ujian di Fakultas Kedokteran (FK) dengan memanfaatkan kelengahan petugas. Ia sengaja datang terlambat dan terlihat sangat tergesa-gesa saat waktu ujian hampir dimulai, dengan harapan petugas akan melewatkan prosedur pemeriksaan ketat.
Meski sempat lolos pemeriksaan awal dan masuk ke dalam ruangan, aksinya terbongkar saat dilakukan verifikasi mendalam. Kecurigaan muncul karena wajah peserta berbeda dengan foto dalam data terdaftar. Setelah pengecekan silang hingga ke sekolah asal, diketahui pelaku adalah perempuan berinisial HZ asal Sumatera. (ahm)

