METROTODAY, WASHINGTON – Publik Amerika Serikat dikejutkan oleh insiden penembakan yang terjadi di tengah kemeriahan jamuan makan malam tahunan koresponden Gedung Putih (White House Correspondents’ Dinner) di Hotel Hilton Washington, Sabtu malam (25/4).
Meski nyawanya sempat terancam, Presiden Donald Trump menegaskan dirinya tidak takut dan sama sekali tak gentar menghadapi teror tersebut.
“Saya tidak khawatir. Saya paham dengan kehidupan. Kita hidup di dunia yang gila,” kata Trump dengan nada tenang dalam wawancara eksklusif di acara 60 Minutes CBS News, Minggu malam atau Senin WIB.
Acara yang dihadiri sekitar 2.000 tamu, termasuk jajaran menteri kabinet, Wakil Presiden, dan insan media tersebut berubah menjadi mencekam saat suara tembakan tiba-tiba menggema di dalam ruangan.
Sesuai protokol darurat, agen Secret Service (Dinas Rahasia) langsung bergerak cepat mengevakuasi Trump beserta istrinya, Melania, keluar dari lokasi kejadian.
Dalam kekacauan tersebut, seorang agen Secret Service dilaporkan mengalami luka-luka akibat mencoba melumpuhkan pelaku.
Petugas berhasil mengamankan tersangka di lokasi kejadian. Identitas pelaku diketahui bernama Cole Allen, seorang pria yang dikenal vokal mengkritik kebijakan pemerintah AS, terutama terkait penolakan pemberian bantuan tambahan bagi Ukraina.
Pasca-insiden yang nyaris menjadi tragedi nasional ini, Direktur Biro Investigasi Federal (FBI), Kash Patel, menyatakan akan melakukan perombakan besar-besaran terhadap standar operasional prosedur (SOP) pengamanan presiden.
“Postur keamanannya, saya pikir, akan jadi benar-benar berbeda mulai saat ini,” tegas Patel dalam wawancaranya dengan Fox News, Senin (27/4).
Patel menekankan betapa besarnya risiko yang ada dalam acara tersebut, mengingat hampir seluruh elemen penting pemerintahan berkumpul di satu titik. Ia menyebut respons cepat penegak hukum adalah satu-satunya hal yang mencegah jatuhnya korban jiwa lebih banyak.
“Ada presiden, wakil presiden, hampir seluruh kabinet, dan ribuan jurnalis. Ini bukan skenario film; ini tragedi nyata. Kami akan bekerja sama dengan Departemen Keamanan Dalam Negeri, Dinas Rahasia, dan kepolisian setempat untuk memastikan ini tidak terulang,” tambahnya.
Meski trauma menyelimuti para tamu undangan, Donald Trump memastikan bahwa tradisi tahunan ini tidak akan mati karena aksi kekerasan. Ia mengonfirmasi bahwa jamuan makan malam bersama para jurnalis tersebut akan dijadwalkan ulang dalam 30 hari ke depan dengan pengamanan yang jauh lebih ketat.
Insiden ini kembali memicu perdebatan panas di Amerika Serikat mengenai polarisasi politik yang semakin ekstrem dan tantangan keamanan bagi pejabat tinggi negara di tengah situasi global yang tidak menentu. Hingga saat ini, pihak kepolisian masih mendalami motif lebih lanjut dari Cole Allen dan kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain. (red/MT)

