METROTODAY, SURABAYA – Kasus dugaan pelecehan seksual berbasis kecerdasan buatan (AI) terjadi di lingkungan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur.
Seorang mahasiswa angkatan 2024 diduga merekayasa foto teman sesama mahasiswa dan menyebarkannya, bahkan menjualnya melalui media sosial. Kejadian sebenarnya sudah berlangsung sejak April 2026, namun baru terungkap dan viral belakangan ini.
Humas UPN Veteran Jatim, Nizwan Amin, membenarkan kasus tersebut dan menjelaskan penanganan masih berjalan di tingkat Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) bersama pihak fakultas.
“Penelusurannya ini kan masih dilakukan sama Satgas PPKS sama Fakultas. Jadi, sanksi dari pelaku itu masih belum bisa dipastikan karena masih tahap pendalaman,” ujar Nizwan, Kamis (20/8)
Kasus bermula dari unggahan di fitur Add Yours Instagram yang menyebar luas.
Sebelumnya, laporan juga masuk ke lembaga bantuan hukum. Pihak kampus langsung menelusuri identitas pelaku melalui data akademik dan memanggilnya dua kali pada Senin dan Rabu kemarin bersama orang tuanya.
“Dari screenshot akun Instagram-nya, langsung saya cari datanya di akademik. Setelah ketemu, langsung dilaporkan ke fakultas dan Satgas PPKS untuk diproses lebih lanjut. Anaknya sudah dipanggil, orang tuanya juga sudah dipanggil,” jelas Nizwan.
Namun hingga kini belum ada korban yang melapor secara langsung ke kampus. Pelapor resmi adalah BEM Fakultas Ekonomi bersama Himpunan Mahasiswa (Hima) Ekonomi yang melaporkan pelaku ke dekanat dan Satgas PPKS.
“Korbannya itu sebenarnya belum ada yang laporan ke UPN. Yang melapor itu BEM Fakultas Ekonomi sama Hima ke dekanat dan PPKS,” katanya.
Terungkap foto rekayasa itu tidak hanya disebarkan, tetapi juga dijual melalui Telegram. Meski pelaku mengaku hanya “iseng” dan tidak punya riwayat serupa, sudah ada pembeli.
Namun pelaku tidak mengaku menjual dan bukti sudah dihapus, sehingga menyulitkan penelusuran.
“Motifnya kalau ditanya ya cuma iseng. Isengnya ngawur tapi. Dia jual kontennya di Telegram, dan pembelinya sudah ada. Tapi dia tidak mengaku dan buktinya sudah dihapus, jadi susah dilacak,” pungkasnya. (ahm)


