“Satu grup 15 orang mengelola 200 hektar. Alat pertanian bernilai miliaran rupiah diberikan gratis. Brigade Pangan bertujuan meningkatkan indeks tanam hingga dua–tiga kali lipat, produktivitas naik, dan biaya turun hingga 60 persen,” jelasnya.
Pemberian alat seperti pemanen kombine juga ditujukan untuk memberdayakan kelompok kurang mampu, dengan potensi pendapatan minimal Rp 2 juta per hari. “Dibina dan diawasi terus. Tujuannya agar mereka menjadi pengusaha yang mandiri,” jelasnya.
Amran juga memberikan hadiah berupa traktor kepada Hasan Rido Abdillah, 23 tahun, lulusan Sosiologi FISIPOL Unesa. Saat ditanya cita-citanya, Hasan menyatakan ingin menjadi pengusaha sehingga Menteri menawari alat tersebut sekaligus peluang berkontribusi di sektor pertanian.
“Saya awalnya bimbang. Saya bilang belum bisa mengoperasikan alat itu. Pak Menteri bilang, ‘Nggak apa-apa, nanti kita bimbing,’” ungkap Rido.
Meski baru saja menandatangani kontrak kerja, Hasan bertekad mempelajari dan mengembangkan alat tersebut di daerah asalnya.
“InsyaAllah saya pelajari, saya kembangkan di desa. Meski belum punya sawah, daerah saya banyak sektor pertanian. Saya juga sedang mengurus PTSL, jadi harapannya bisa terhubung dengan warga,” pungkasnya. (ahm)
“Satu grup 15 orang mengelola 200 hektar. Alat pertanian bernilai miliaran rupiah diberikan gratis. Brigade Pangan bertujuan meningkatkan indeks tanam hingga dua–tiga kali lipat, produktivitas naik, dan biaya turun hingga 60 persen,” jelasnya.
Pemberian alat seperti pemanen kombine juga ditujukan untuk memberdayakan kelompok kurang mampu, dengan potensi pendapatan minimal Rp 2 juta per hari. “Dibina dan diawasi terus. Tujuannya agar mereka menjadi pengusaha yang mandiri,” jelasnya.
Amran juga memberikan hadiah berupa traktor kepada Hasan Rido Abdillah, 23 tahun, lulusan Sosiologi FISIPOL Unesa. Saat ditanya cita-citanya, Hasan menyatakan ingin menjadi pengusaha sehingga Menteri menawari alat tersebut sekaligus peluang berkontribusi di sektor pertanian.
“Saya awalnya bimbang. Saya bilang belum bisa mengoperasikan alat itu. Pak Menteri bilang, ‘Nggak apa-apa, nanti kita bimbing,’” ungkap Rido.
Meski baru saja menandatangani kontrak kerja, Hasan bertekad mempelajari dan mengembangkan alat tersebut di daerah asalnya.
“InsyaAllah saya pelajari, saya kembangkan di desa. Meski belum punya sawah, daerah saya banyak sektor pertanian. Saya juga sedang mengurus PTSL, jadi harapannya bisa terhubung dengan warga,” pungkasnya. (ahm)