Categories: Akal Sehat

81 Tahun Pancasila: Dari Kolonialisme ke Algoritmisme

OLEH: Machsus, Akademisi Institut Teknologi Sepuluh Nopember; Anggota Komunitas S36A

SETIAP 1 Juni, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Lahir Pancasila. Namun, sebagaimana banyak peristiwa besar dalam sejarah, pertanyaan tentang kapan sesungguhnya Pancasila lahir tidak pernah benar-benar selesai.

Sebagian menunjuk 1 Juni 1945 ketika Soekarno memperkenalkan istilah Pancasila dalam sidang BPUPKI.

Sebagian mengingat 22 Juni 1945 saat Piagam Jakarta dirumuskan sebagai hasil kompromi kebangsaan.

Sebagian lainnya berpegang pada 18 Agustus 1945 ketika Pancasila disahkan dalam Pembukaan UUD 1945.

Sesungguhnya, perbedaan pandangan itu justru mengajarkan satu hal penting, bahwa Pancasila tidak lahir dalam semalam.

Delapan puluh satu tahun lalu, ketika Indonesia masih berada di bawah bayang-bayang kolonialisme, para pendiri bangsa sedang berikhtiar menjawab sebuah pertanyaan mendasar, yakni bagaimana menyatukan keberagaman menjadi sebuah bangsa. Dari pergulatan pemikiran itulah Pancasila lahir.

Ia bukan produk satu pidato, satu tokoh, atau satu kelompok. Ia juga bukan hasil kemenangan satu gagasan atas gagasan lain, melainkan buah dari kearifan para pendiri bangsa untuk mencari titik temu demi Indonesia.

Akhirnya melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016, pemerintah menetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila.

Keputusan ini bukan untuk mengakhiri perdebatan kesejarahan Pancasila, melainkan menghadirkan satu titik pijak bersama agar bangsa terus merawat nilai-nilai yang diwariskan para pendiri negara.

Jika pada tahun 1945 Pancasila lahir untuk melawan kolonialisme, maka pada usia ke-81 tahun ini, Pancasila berhadapan dengan tantangan yang berbeda.

Kini, kekuasaan tidak lagi selalu datang melalui pendudukan wilayah atau laras senjata. Ia bergerak melalui penetrasi data, dominasi platform digital, artificial intelligence (AI), dan algoritma yang perlahan membentuk cara manusia melihat dunia, menentukan pilihan, bahkan memahami kebenaran.

Page: 1 2 3 4 5

Jay Wijayanto

Recent Posts

Sidoarjo Jadi Kabupaten STBM 5 Pilar, Bukti Budaya Hidup Bersih di Masyarakat

Upaya panjang Pemkab Sidoarjo membangun budaya hidup bersih dan sehat akhirnya membuahkan hasil. Resmi menyandang…

9 hours ago

Harkopnas ke-79, Momentum Serukan Kebangkitan Koperasi sebagai Pilar Ekonomi Nasional

Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN) sukses menyelenggarakan acara Puncak Peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 Tingkat…

11 hours ago

Isu HIV di Kalangan Pelajar Merupakan Akumulasi Kasus, Dinkes Sidoarjo: Edukasi dan Pendampingan Harus Jadi Prioritas

Isu yang menyebut ratusan pelajar di Kabupaten Sidoarjo terjangkit HIV sempat memicu keresahan masyarakat. Bahkan…

19 hours ago

70 Persen Wabah Baru dari Hewan, Surabaya Perkuat Pencegahan Zoonosis Termasuk Leptospirosis dan Rabies

Sekitar 70 persen penyakit menular baru yang berpotensi wabah berasal dari hewan. Menjawab ancaman itu,…

22 hours ago

Mentan Amran Janji Bayar Rp 100 Miliar Jika Benih Jagung ITS Hasilkan 10 Ton per Hektare

Kementerian Pertanian RI memberikan dukungan nyata hilirisasi riset perguruan tinggi dengan membeli sejumlah alat pertanian…

24 hours ago

Muatan Berat dan Jalan Miring, Tossa Tercebur ke Sungai di Kenjeran Surabaya, Pengemudi Selamat

Sebuah kendaraan roda tiga atau tossa bernomor polisi L 3539 EX yang mengangkut material bangunan…

1 day ago

This website uses cookies.