Tanpa Melihat Tetap Presisi, Mahasiswa di Surabaya Ciptakan Timbangan untuk Barista Tunanetra

METROTODAY, SURABAYA – Tim Rasena dari Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (Unair) merancang AURIS (Auditory Responsive Intelligent Scale), sebuah timbangan pintar bersuara yang dikembangkan khusus untuk mendukung kemandirian barista tunanetra di Komunitas Mata Hati (KMH) Surabaya.

Inovasi ini lahir dari fokus tim pada isu disabilitas sebagai salah satu prioritas program SustainAction tahun ini. Awalnya tim berencana mengembangkan tongkat pintar, namun diskusi dengan KMH mengarahkan pada kebutuhan yang lebih spesifik alat bantu takar kopi yang dapat memberikan umpan balik suara.

“Setelah berdiskusi dengan KMH, kami mengetahui bahwa mereka lebih membutuhkan timbangan yang dapat mengeluarkan suara untuk membantu barista tunanetra mereka di UMKM KopiCék dalam proses pembuatan kopi. Dari kebutuhan tersebut, kami kemudian mengembangkan AURIS,” ungkap perwakilan tim, Jessica Rahma Valerie Satyo, Rabu (19/8).

Jessica menjelaskan bahwa AURIS bekerja mengubah data berat dari sensor load cell menjadi informasi suara secara langsung. Pengguna dapat menetapkan target takaran terlebih dahulu.

Saat menuangkan bubuk kopi, buzzer akan berbunyi terus dan berhenti tepat ketika berat yang diinginkan tercapai. Kombinasi umpan balik suara dan tombol fisik ini memungkinkan barista bekerja presisi tanpa bergantung pada penglihatan.

Pengembangan alat yang ramah pengguna ini tidak mudah. Tim bahkan melakukan uji coba hingga dini hari di markas KMH untuk menyempurnakan sistem.

“Kesan yang kami dapatkan sangat positif. Para barista merasa senang dan kagum karena alat ini membantu mereka. Kami bahkan pernah melakukan uji coba dari pukul 19.00 hingga 02.00 dini hari di basecamp KMH untuk memperbaiki berbagai error sebelum sosialisasi,” tutur mahasiswi Teknik Elektro FTMM angkatan 2024 ini.

Kendala sempat muncul terkait kejernihan suara dan tingkat presisi yang sempat menunda jadwal sosialisasi. Namun masukan dari pengguna justru menjadi bahan penyempurnaan, termasuk desain bodi hasil pencetakan 3D yang kini lebih mudah dibuka untuk perawatan.

“Masukan tersebut justru membantu kami mengembangkan AURIS menjadi lebih baik. Termasuk menyesuaikan desain bodi 3D printing agar lebih fleksibel saat dibuka untuk proses perbaikan,” ungkapnya.

Ke depannya, Tim Rasena berkomitmen terus menyempurnakan AURIS agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh penyandang disabilitas netra. Satu unit alat juga akan diserahkan kepada Airlangga Inclusive Learning (AIL) Unair untuk pengembangan dan pengujian lanjut.

“Ke depannya, kami ingin terus mengembangkan AURIS agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi penyandang disabilitas netra dan meningkatkan kemandirian mereka. Kami juga berencana memberikan satu unit AURIS kepada Airlangga Inclusive Learning (AIL) Unair sebagai bagian dari pengembangan dan uji lanjut alat,” pungkasnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Tim Rasena dari Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (Unair) merancang AURIS (Auditory Responsive Intelligent Scale), sebuah timbangan pintar bersuara yang dikembangkan khusus untuk mendukung kemandirian barista tunanetra di Komunitas Mata Hati (KMH) Surabaya.

Inovasi ini lahir dari fokus tim pada isu disabilitas sebagai salah satu prioritas program SustainAction tahun ini. Awalnya tim berencana mengembangkan tongkat pintar, namun diskusi dengan KMH mengarahkan pada kebutuhan yang lebih spesifik alat bantu takar kopi yang dapat memberikan umpan balik suara.

“Setelah berdiskusi dengan KMH, kami mengetahui bahwa mereka lebih membutuhkan timbangan yang dapat mengeluarkan suara untuk membantu barista tunanetra mereka di UMKM KopiCék dalam proses pembuatan kopi. Dari kebutuhan tersebut, kami kemudian mengembangkan AURIS,” ungkap perwakilan tim, Jessica Rahma Valerie Satyo, Rabu (19/8).

Jessica menjelaskan bahwa AURIS bekerja mengubah data berat dari sensor load cell menjadi informasi suara secara langsung. Pengguna dapat menetapkan target takaran terlebih dahulu.

Saat menuangkan bubuk kopi, buzzer akan berbunyi terus dan berhenti tepat ketika berat yang diinginkan tercapai. Kombinasi umpan balik suara dan tombol fisik ini memungkinkan barista bekerja presisi tanpa bergantung pada penglihatan.

Pengembangan alat yang ramah pengguna ini tidak mudah. Tim bahkan melakukan uji coba hingga dini hari di markas KMH untuk menyempurnakan sistem.

“Kesan yang kami dapatkan sangat positif. Para barista merasa senang dan kagum karena alat ini membantu mereka. Kami bahkan pernah melakukan uji coba dari pukul 19.00 hingga 02.00 dini hari di basecamp KMH untuk memperbaiki berbagai error sebelum sosialisasi,” tutur mahasiswi Teknik Elektro FTMM angkatan 2024 ini.

Kendala sempat muncul terkait kejernihan suara dan tingkat presisi yang sempat menunda jadwal sosialisasi. Namun masukan dari pengguna justru menjadi bahan penyempurnaan, termasuk desain bodi hasil pencetakan 3D yang kini lebih mudah dibuka untuk perawatan.

“Masukan tersebut justru membantu kami mengembangkan AURIS menjadi lebih baik. Termasuk menyesuaikan desain bodi 3D printing agar lebih fleksibel saat dibuka untuk proses perbaikan,” ungkapnya.

Ke depannya, Tim Rasena berkomitmen terus menyempurnakan AURIS agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh penyandang disabilitas netra. Satu unit alat juga akan diserahkan kepada Airlangga Inclusive Learning (AIL) Unair untuk pengembangan dan pengujian lanjut.

“Ke depannya, kami ingin terus mengembangkan AURIS agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi penyandang disabilitas netra dan meningkatkan kemandirian mereka. Kami juga berencana memberikan satu unit AURIS kepada Airlangga Inclusive Learning (AIL) Unair sebagai bagian dari pengembangan dan uji lanjut alat,” pungkasnya. (ahm)

Ikuti Kami Untuk mendapatkan Berita menarik MetroToday
Google News

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait