Peringatan 30 Tahun Kudatuli di Surabaya: Refleksi Sejarah, Demokrasi dan Ingatan Kolektif Bangsa

METROTODAY, SURABAYA – Peringatan 30 tahun Peristiwa 27 Juli 1996 atau yang dikenal sebagai Kudatuli yang digelar di Posko Pandegiling, Surabaya, Jumat (24/7) malam, tak sekadar menjadi ruang mengenang masa lalu. Momentum ini sekaligus menjadi panggung refleksi bersama terhadap perjalanan dan kondisi demokrasi Indonesia saat ini serta ke depan.

Cucu Presiden pertama RI Soekarno, Puti Guntur Soekarno, hadir dalam kegiatan tersebut dan mengingatkan seluruh elemen bangsa agar tidak melupakan peristiwa Kudatuli yang menjadi salah satu titik balik penting dalam sejarah perjuangan demokrasi nasional.

Menurutnya, tragedi ini menjadi bukti nyata bagaimana demokrasi pernah dibungkam secara paksa melalui penyalahgunaan kekuasaan negara.

“Peristiwa Kudatuli adalah bagian dari torehan sejarah demokrasi Indonesia ketika demokrasi dibungkam menggunakan alat kekuasaan. Ini juga menjadi salah satu bentuk pelanggaran hak asasi manusia yang berat dalam sejarah Indonesia,” ujar Puti.

Ia menambahkan, peristiwa kelam tersebut kemudian menjadi pemicu lahirnya gerakan reformasi yang pada akhirnya mengubah arah perjalanan bangsa Indonesia. Khusus di wilayah Jawa Timur dan Surabaya, Posko Pandegiling memiliki makna historis yang sangat dalam karena menjadi pusat konsolidasi pendukung Megawati Soekarnoputri dan para pejuang demokrasi pada masa itu.

“Pandegiling menjadi bagian dari konsolidasi para pejuang demokrasi dan pendukung Pro Mega. Dari sinilah arus perlawanan terhadap rezim saat itu tumbuh dan menjadi bagian dari rangkaian sejarah menuju reformasi,” jelasnya.

Puti menegaskan, peringatan ini tidak boleh berhenti pada sekadar mengenang peristiwa masa lalu. Lebih dari itu, Kudatuli harus menjadi cermin bagi bangsa untuk terus mencermati berbagai dinamika demokrasi yang terjadi saat ini, agar kebebasan berekspresi dan hak menyampaikan kritik tidak lagi dibatasi oleh kekuasaan.

“Kita memperingati bukan hanya untuk mengingat masa lalu, tetapi juga merefleksikan hari ini dan masa depan. Jangan sampai suasana ketika demokrasi dibungkam dan kekuasaan berjalan secara otoriter terulang kembali,” tegasnya.

Kepada generasi muda, Puti menitipkan pesan agar senantiasa memiliki keberanian dan keteguhan dalam menjaga nilai-nilai demokrasi yang beretika, berkeadaban, serta bermoral.

METROTODAY, SURABAYA – Peringatan 30 tahun Peristiwa 27 Juli 1996 atau yang dikenal sebagai Kudatuli yang digelar di Posko Pandegiling, Surabaya, Jumat (24/7) malam, tak sekadar menjadi ruang mengenang masa lalu. Momentum ini sekaligus menjadi panggung refleksi bersama terhadap perjalanan dan kondisi demokrasi Indonesia saat ini serta ke depan.

Cucu Presiden pertama RI Soekarno, Puti Guntur Soekarno, hadir dalam kegiatan tersebut dan mengingatkan seluruh elemen bangsa agar tidak melupakan peristiwa Kudatuli yang menjadi salah satu titik balik penting dalam sejarah perjuangan demokrasi nasional.

Menurutnya, tragedi ini menjadi bukti nyata bagaimana demokrasi pernah dibungkam secara paksa melalui penyalahgunaan kekuasaan negara.

“Peristiwa Kudatuli adalah bagian dari torehan sejarah demokrasi Indonesia ketika demokrasi dibungkam menggunakan alat kekuasaan. Ini juga menjadi salah satu bentuk pelanggaran hak asasi manusia yang berat dalam sejarah Indonesia,” ujar Puti.

Ia menambahkan, peristiwa kelam tersebut kemudian menjadi pemicu lahirnya gerakan reformasi yang pada akhirnya mengubah arah perjalanan bangsa Indonesia. Khusus di wilayah Jawa Timur dan Surabaya, Posko Pandegiling memiliki makna historis yang sangat dalam karena menjadi pusat konsolidasi pendukung Megawati Soekarnoputri dan para pejuang demokrasi pada masa itu.

“Pandegiling menjadi bagian dari konsolidasi para pejuang demokrasi dan pendukung Pro Mega. Dari sinilah arus perlawanan terhadap rezim saat itu tumbuh dan menjadi bagian dari rangkaian sejarah menuju reformasi,” jelasnya.

Puti menegaskan, peringatan ini tidak boleh berhenti pada sekadar mengenang peristiwa masa lalu. Lebih dari itu, Kudatuli harus menjadi cermin bagi bangsa untuk terus mencermati berbagai dinamika demokrasi yang terjadi saat ini, agar kebebasan berekspresi dan hak menyampaikan kritik tidak lagi dibatasi oleh kekuasaan.

“Kita memperingati bukan hanya untuk mengingat masa lalu, tetapi juga merefleksikan hari ini dan masa depan. Jangan sampai suasana ketika demokrasi dibungkam dan kekuasaan berjalan secara otoriter terulang kembali,” tegasnya.

Kepada generasi muda, Puti menitipkan pesan agar senantiasa memiliki keberanian dan keteguhan dalam menjaga nilai-nilai demokrasi yang beretika, berkeadaban, serta bermoral.

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait