METROTODAY, SURABAYA – Rangkaian operasional ibadah haji tahun 2026 secara resmi selesai. Meskipun seluruh jemaah sudah kembali ke tanah air, masih terdapat sejumlah orang yang menjalani perawatan medis, baik di rumah sakit Arab Saudi maupun di fasilitas kesehatan dalam negeri.
Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Surabaya, Rosidi Roslan, mengatakan bahwa kondisi kesehatan jemaah haji tahun ini menunjukkan perkembangan yang lebih baik dibandingkan periode sebelumnya. Salah satu indikatornya adalah penurunan angka kematian.
“Sampai saat ini tercatat ada penurunan kematian sekitar 20,6 persen jika dibandingkan tahun 2025. Jika tahun lalu mencapai sekitar 107 orang, maka tahun ini jumlahnya berkurang menjadi sekitar 85 orang saja. Rinciannya, satu orang meninggal saat di embarkasi, 6 orang di debarkasi, dan sekitar 78 orang meninggal dunia saat berada di Arab Saudi,” jelasnya, Sabtu (4/7).
Rosidi juga menyebut kondisi jemaah yang masih dalam perawatan sebanyak 16 orang masih menjalani pengobatan di rumah sakit Arab Saudi dengan rincian 7 orang mengalami gangguan saluran pernapasan, enam orang menderita penyakit jantung, dan satu orang lainnya mengalami keluhan kesehatan lain.
“Di dalam negeri sendiri, masih ada tiga orang jemaah yang terus dirawat di Rumah Sakit Haji. Sebelumnya ada lebih dari sepuluh orang yang dirujuk, namun sebagian besar sudah dinyatakan membaik dan dapat kembali ke daerah asal masing-masing,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar penyakit yang diderita jemaah dipicu oleh kondisi fisik dan lingkungan. Sebagian besar jemaah yang sakit adalah kelompok usia lanjut dengan rata-rata di atas 65 tahun. Ibadah haji yang membutuhkan tenaga fisik besar ditambah cuaca yang ekstrem serta perjalanan yang panjang menjadi faktor pemicu utama.
“Kebanyakan keluhan berkaitan dengan saluran pernapasan dan jantung. Kelelahan fisik setelah melaksanakan rangkaian ibadah, ditambah suhu udara yang panas, membuat kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya kambuh atau memburuk. Namun, sampai saat ini belum ada kasus yang tercatat sebagai serangan panas atau heatstroke,” tegasnya.
Menyikapi kondisi tersebut, pihaknya bersama jajaran penyelenggara telah melakukan evaluasi guna meningkatkan kualitas pelayanan dan kesehatan jemaah pada masa mendatang. Salah satu fokus utamanya adalah memperketat persyaratan kesehatan atau istithaah.

