METROTODAY, SURABAYA – Enam hari proses kepulangan jemaah haji ke tanah air, sebanyak 52 jemaah haji Debarkasi Surabaya dilaporkan telah wafat di tanah suci. Faktor kelelahan menjadi penyebab utama jemaah, terutama pasca puncak ibadah haji.
Tak hanya itu, 3 jemaah haji juga wafat saat kepulangan ke tanah air dengan kondisi satu orang wafat di dalam pesawat saat 30 menit hendak landing di Bandara Internasional Juanda, satu jemaah wafat di dalam bus saat tiba di Asrama Haji Debarkasi Surabaya, dan satu lagi wafat di RS Haji Surabaya setelah dilakukan tindakan medis usai turun dari pesawat terbang yang sebelumnya dirujuk di RS terdekat di Sidoarjo. Ketiga jemaah haji yang wafat dikarenakan cardiogenic shock atau gangguan jantung.
Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Surabaya, Mohammad As’adul Anam mengatakan, faktor kelelahan jemaah usai menjalani puncak ibadah haji menjadi penyebab utama terbanyak jemaah wafat. Bahkan, jemaah paling banyak wafat di Makkah.
Karena itu, Anam mengaku jumlah jemaah wafat karena kelelahan ini akan menjadi bahan evaluasi penting bagi PPIH untuk perbaikan di masa haji tahun depan.
“Yang paling banyak teridentifikasi adalah kelelahan, terutama setelah melaksanakan ibadah di Armuzna. Pemicu utamanya adalah gangguan fungsi jantung akibat kelelahan. Oleh karena itu, ini akan menjadi bahan evaluasi kami, bagaimana ke depannya penanganan terhadap kondisi fisik jemaah agar lebih maksimal, terutama dalam mengantisipasi dampak kelelahan,” tutur Anam, Sabtu (6/6).
Kepulangan jemaah haji dari tanah suci juga dilakukan pemeriksaan secara ketat. Setibanya di Asrama Haji Surabaya, proses skrining kesehatan akan diperketat.
Di gedung penerimaan seperti Gedung Muzdalifah dan Mina, seluruh jemaah akan menjalani pemeriksaan menggunakan thermal scanner serta pengamatan visual gejala klinis untuk mendeteksi potensi penyakit menular.
Jemaah yang menunjukkan gejala klinis akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Swab juga dilakukan sebagai upaya preventif jemaah agar tidak tertular penyakit menular dari Arab Saudi seperti Ebola, Hantavirus, hingga MERS-CoV.
Karena semua pelaku perjalanan luar negeri termasuk saat menjalankan ibadah haji berpotensi membawa penyakit menular. Karena itu jemaah harus waspada selama 21 hari ke depan. Jemaah yang mengalami gejala disarankan mengunjungi puskesmas terdekat dan menunjukkan barcode Satu Sehat Health Pass (SSHP).
Hingga Sabtu, sebanyak 20 kloter telah tiba di Asrama Haji Surabaya dengan jumlah jemaah dan petugas haji sebanyak 7.581 orang. Jemaah haji yang masih tertinggal karena harus mendapatkan perawatan di RS Jeddah, RS Bandara Taif dan RS King Faisal tercatat sebanyak tiga orang. (ahm)

