METROTODAY, SURABAYA – Mimpi untuk menunaikan ibadah haji akhirnya menjadi kenyataan bagi Mukarromah Basyar.
Perempuan 57 tahun asal Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, ini berangkat menuju Tanah Suci pada Rabu (29/4) siang bersama rombongan jemaah haji Embarkasi Surabaya kloter 28.
Pekerjaannya sehari-hari hanyalah berjualan mainan anak-anak di lingkungan sekolah. Dengan ketekunan dan kesabaran menyisihkan penghasilan sedikit demi sedikit, ia berhasil melunasi biaya perjalanan ibadah yang menjadi impiannya sejak lama.
Terlihat mengenakan seragam batik jemaah haji Indonesia dan membawa tas selempang haji, raut haru dan kebahagiaan tak mampu disembunyikan oleh Mukarromah.
“Sangat senang sekali bisa tercapai keinginan untuk berangkat haji, sampai terharu rasanya,” ujarnya.
Ia menceritakan, perjalanan mewujudkan mimpi ini dimulai dari kebiasaan sederhana. Setiap hari, dari hasil menjual mainan yang harganya rata-rata hanya Rp 7 – 10 ribu per mainan, ia selalu menyisihkan sebagian rezekinya untuk ditabung khusus biaya haji.
“Sehari-hari saya berjualan mainan di lingkungan sekolah. Kalau ada kelebihan penghasilan, kadang saya sisihkan Rp 10 ribu, kadang bisa sampai Rp20 ribu, tergantung hasil penjualannya. Tapi yang penting, setiap hari pasti saya sisihkan untuk tabungan ini,” ungkapnya.
Keinginan untuk berhaji sudah ada dalam hatinya sejak puluhan tahun silam. Bahkan setiap kali ada warga desanya yang akan berangkat ke Tanah Suci, ia selalu menyempatkan diri untuk mengantarkan dan mendoakan, meskipun keberangkatan itu dilakukan di tengah malam sekalipun.
“Sudah menjadi cita-cita sejak dulu, saya sangat menginginkannya. Kalau ada warga yang berangkat haji, meskipun tengah malam saya tetap berangkat mengantar mereka di Masjid Astana Jenu. Dari situlah selalu muncul harapan di hati saya, kapan ya saya bisa seperti mereka,” kenangnya.
Bahkan Ia tetap teguh dan yakin mampu mewujudkan keinginan tersebut melalui pertolongan Sang Pencipta.
“Yang membuat saya yakin itu karena saya percaya Allah Maha Kaya dan Maha Memberi Rezeki. Sejak awal sudah saya niatkan dengan ikhlas, dan saya berusaha dengan kemampuan yang saya miliki. Alhamdulillah, sekarang semuanya sudah terwujud. Semoga ibadah saya nanti menjadi haji yang mabrur, doakan saya semuanya,” tegasnya.
Kehadiran Mukarromah sebagai calon jemaah haji yang telah menunggu antrean haji selama 14 tahun ini pun menjadi kejutan bagi banyak orang di lingkungannya.
Baik keluarga, kerabat, tetangga, maupun warga sekolah tempat ia berjualan sama sekali tidak mengetahui bahwa ia telah mempersiapkan diri dan melunasi biaya keberangkatan.
“Banyak yang kaget, ya. Waktu saya berangkat dari Masjid Astana Jenu, banyak yang bertanya ‘Kok bisa sampai berangkat haji?’. Memang saya tidak pernah menceritakan keinginan kepada siapa-siapa untuk berangkat haji. Mereka baru mengetahuinya saat acara pelepasan, bahkan warga sekolah pun baru tahu saat saya mengadakan syukuran dan memberi santapan kepada para guru dan ustadz di sana,” jelasnya.
Mukarromah sudah mempersiapkan diri untuk melaksanakan ibadah fisik ini mulai dari olahraga jalan kaki setiap setengah jam hingga meminum madu sebagai daya tahan tubuh.
“Sudah olahraga tiap pagi, olahraga jalan kaki setengah jam gitu. Terus minum-minuman madu kalau sore mau tidur, bangun tidur. Terus obat-obat untuk darah tinggi sama kolesterolnya itu ya rutin, dibawa juga,” ujarnya.
Menjelang keberangkatannya, Mukarromah pun menyampaikan doa dan harapan yang ingin ia panjatkan kelak di hadapan Baitullah.
“Doa saya yang pertama tentunya memohon kesehatan agar bisa menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan baik. Kedua, saya memohon kepada Allah agar diberikan keturunan yang sholeh dan sholehah, yang selalu menyejukkan hati serta menjadi keluarga yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat,” pungkasnya. (ahm)

