Cegah Gangguan Kesehatan, PPIH Embarkasi Surabaya Larang Jemaah Konsumsi Makanan dari Luar Asrama

METROTODAY, SURABAYA – PPIH Embarkasi Surabaya menetapkan aturan tegas yang melarang seluruh jemaah mengonsumsi makanan yang dibeli atau dibawa dari luar kawasan asrama.

Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipasi agar jemaah tidak terjangkit penyakit atau gangguan kesehatan yang bisa mengganggu proses keberangkatan.

Meski demikian, masih ada sebagian jemaah yang terlihat menyantap makanan yang dibeli dari luar. Salah satunya adalah Musliha, jemaah asal Pasuruan.

Ia tampak menikmati semangkok bakso bersama keluarga dengan duduk lesehan, tepat saat sanak saudaranya datang berkunjung di balik pagar pembatas asrama.

Menurut Musliha, hanya sekadar ingin menikmati makanan kesukaan sebelum berangkat ke Tanah Suci. Apalagi, ia mendengar kabar bahwa harga makanan serupa di Arab Saudi cukup mahal.

“Pingin nyamil bakso, karena kan habis hujan juga enak makan yang berkuah. Saya dengar di Arab harga bakso mahal, jadi pengen nikmatin dulu bareng suami dan keluarga di sini sambil nunggu waktu berangkat,” ujarnya, Jumat (24/4).

Ia mengaku tidak merasa khawatir terkena sakit meski menyantap makanan dari luar.

Menurutnya, asalkan dimakan dalam jumlah wajar, tidak akan menimbulkan masalah kesehatan.

Di asrama sendiri, menyediakan makan utama sebanyak tiga kali sehari dan dua kali jatah camilan atau snack.

“Gak apa-apa, insyaallah tetap sehat. Soalnya cuma pingin saja, makannya juga secukupnya,” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua PPIH Embarkasi Surabaya, Mohammad As’adul Anam, menegaskan kembali bahwa aturan ini tidak dibuat tanpa alasan.

Seluruh makanan yang dikonsumsi jemaah harus memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan oleh Balai Besar Karantina Kesehatan (BBKK).

“Jadi gak boleh makan di luar karena sudah ada standar atau kualifikasi yang sudah ditentukan oleh BBKK. Artinya, semua makanan yang beredar di dalam asrama sudah diawasi dan terverifikasi keamanannya. Makanya di dalam sini tidak dibuka warung atau rumah makan, karena seluruh pasokan makanan harus berada di bawah pengawasan ketat,” jelasnya.

Anam menegaskan bahwa larangan ini berlaku, baik makanan yang dibeli sendiri oleh jemaah maupun yang diberikan atau dibawakan oleh keluarga yang berkunjung. “Enggak boleh, tetap tidak boleh,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan PPIH Embarkasi Surabaya, Rosidi Roslan, menjelaskan bahwa kawasan asrama haji merupakan tempat karantina.

Oleh karena itu, pengaturan asupan makanan menjadi bagian penting dalam melindungi kesehatan seluruh calon jemaah.

“Yang penting disadari, embarkasi ini adalah tempat karantina. Tugas BBKK dan panitia adalah memberikan perlindungan maksimal kepada jemaah. Makanya kita mengajak agar hanya mengonsumsi makanan yang disediakan di sini. Kalau dari luar, kita tidak tahu kondisi kebersihannya, apakah masih segar, atau penyimpanannya sudah tidak baik. Kalau tidak terkontrol, makanan itu bisa memicu diare, keracunan, dan dampak terparahnya bisa membuat keberangkatan jemaah tertunda,” ungkap Rosidi.

Selain mengawasi konsumsi jemaah, pihaknya juga terus memantau kualitas makanan yang disediakan oleh pihak katering. Pengecekan dilakukan secara intensif setiap hari mulai pagi, siang, hingga malam.

“Kita pastikan makanannya juga tidak terlalu pedas, tidak mengandung zat yang memicu asam lambung atau gangguan pencernaan lainnya. Semua harus disesuaikan dengan kondisi fisik jemaah yang dalam waktu dekat akan melakukan perjalanan jauh ke Tanah Suci,” pungkasnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – PPIH Embarkasi Surabaya menetapkan aturan tegas yang melarang seluruh jemaah mengonsumsi makanan yang dibeli atau dibawa dari luar kawasan asrama.

Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipasi agar jemaah tidak terjangkit penyakit atau gangguan kesehatan yang bisa mengganggu proses keberangkatan.

Meski demikian, masih ada sebagian jemaah yang terlihat menyantap makanan yang dibeli dari luar. Salah satunya adalah Musliha, jemaah asal Pasuruan.

Ia tampak menikmati semangkok bakso bersama keluarga dengan duduk lesehan, tepat saat sanak saudaranya datang berkunjung di balik pagar pembatas asrama.

Menurut Musliha, hanya sekadar ingin menikmati makanan kesukaan sebelum berangkat ke Tanah Suci. Apalagi, ia mendengar kabar bahwa harga makanan serupa di Arab Saudi cukup mahal.

“Pingin nyamil bakso, karena kan habis hujan juga enak makan yang berkuah. Saya dengar di Arab harga bakso mahal, jadi pengen nikmatin dulu bareng suami dan keluarga di sini sambil nunggu waktu berangkat,” ujarnya, Jumat (24/4).

Ia mengaku tidak merasa khawatir terkena sakit meski menyantap makanan dari luar.

Menurutnya, asalkan dimakan dalam jumlah wajar, tidak akan menimbulkan masalah kesehatan.

Di asrama sendiri, menyediakan makan utama sebanyak tiga kali sehari dan dua kali jatah camilan atau snack.

“Gak apa-apa, insyaallah tetap sehat. Soalnya cuma pingin saja, makannya juga secukupnya,” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua PPIH Embarkasi Surabaya, Mohammad As’adul Anam, menegaskan kembali bahwa aturan ini tidak dibuat tanpa alasan.

Seluruh makanan yang dikonsumsi jemaah harus memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan oleh Balai Besar Karantina Kesehatan (BBKK).

“Jadi gak boleh makan di luar karena sudah ada standar atau kualifikasi yang sudah ditentukan oleh BBKK. Artinya, semua makanan yang beredar di dalam asrama sudah diawasi dan terverifikasi keamanannya. Makanya di dalam sini tidak dibuka warung atau rumah makan, karena seluruh pasokan makanan harus berada di bawah pengawasan ketat,” jelasnya.

Anam menegaskan bahwa larangan ini berlaku, baik makanan yang dibeli sendiri oleh jemaah maupun yang diberikan atau dibawakan oleh keluarga yang berkunjung. “Enggak boleh, tetap tidak boleh,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan PPIH Embarkasi Surabaya, Rosidi Roslan, menjelaskan bahwa kawasan asrama haji merupakan tempat karantina.

Oleh karena itu, pengaturan asupan makanan menjadi bagian penting dalam melindungi kesehatan seluruh calon jemaah.

“Yang penting disadari, embarkasi ini adalah tempat karantina. Tugas BBKK dan panitia adalah memberikan perlindungan maksimal kepada jemaah. Makanya kita mengajak agar hanya mengonsumsi makanan yang disediakan di sini. Kalau dari luar, kita tidak tahu kondisi kebersihannya, apakah masih segar, atau penyimpanannya sudah tidak baik. Kalau tidak terkontrol, makanan itu bisa memicu diare, keracunan, dan dampak terparahnya bisa membuat keberangkatan jemaah tertunda,” ungkap Rosidi.

Selain mengawasi konsumsi jemaah, pihaknya juga terus memantau kualitas makanan yang disediakan oleh pihak katering. Pengecekan dilakukan secara intensif setiap hari mulai pagi, siang, hingga malam.

“Kita pastikan makanannya juga tidak terlalu pedas, tidak mengandung zat yang memicu asam lambung atau gangguan pencernaan lainnya. Semua harus disesuaikan dengan kondisi fisik jemaah yang dalam waktu dekat akan melakukan perjalanan jauh ke Tanah Suci,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait