METROTODAY, SIDOARJO – Antusiasme pemuda membangun desa tampak nyata dalam agenda Kopilaborasi hasil kerja bareng DPRD Sidoarjo, Dinas Kominfo Sidoarjo dengan Forum Wartawan Sidoarjo (Forwas) di kafe Teras Manazela, Sidoarjo, Rabu (22/4) malam.
”Awalnya desa saya dicap ‘desa korak’ (preman), tapi saya ingin mengubah pandangan itu. Melalui apa saja yang saya bisa. Bisa lewat foto dan video. Di desa saya ada Pasar Legi, di sana bapak ibu semua bisa belanja makanan tradisional khas Sidoarjo yang sudah jarang dijumpai lagi. Ini yang ingin kami angkat sebagai keunggulan desa,” kata Ilyas menggebu.
Ya, malam itu, Ilyas, pemuda dari Desa Jogosatru, Kecamatan Sukodono, memamerkan geliat pemuda desanya. Ia memvideokan potensi yang ada di desanya. Harapannya, image desa berubah.

Perlahan tapi pasti, apa yang dilakukan Ilyas dan teman-temannya pun membuahkan hasil. Desa Jogosatru viral. Banyak orang yang ingin tahu seperti apa keunikan Pasar Legi.
”Pasar ini buka dari Subuh sampai Duhur. Jumat legi ini, bapak ibu bisa mampir ke sana,” lanjutnya berpromosi.
Itulah sekelumit hal menarik dari banyak yang tersaji di Teras Manazela, Desa Kloposepuluh, Kecamatan Sukodono, kemarin. Remaja dari berbagai desa di Sukodono berkumpul, meriung, mendiskusikan berbagai potensi desa yang bisa dimunculkan.
Diskusi berlangsung gayeng. Temanya pun menarik. Narasi Desa: Expose Potensi Lewat Cerita dan Karya.
Acara yang menggandeng Diskominfo Sidoarjo dan Komisi B DPRD Sidoarjo itu pun menjadi ruang hangat bagi pemuda membedah strategi memajukan desa di tengah gempuran disrupsi teknologi.

Sekretaris Komisi B DPRD Sidoarjo Sullamul Hadi Nurmawan, menantang para pemuda desa untuk kreatif. Apapun harus dilakukan agar desanya menjadi buah perbincangan.
”Asal tak melanggar syariat agama dan melanggar undang-undang negara, lakukan saja. Pemuda itu harus bergerak,” kata Mas Wawan, sapaan karib Sullamul Hadi Nurmawan.
Pemuda, lanjut dia, tak boleh berpangku tangan. Pemuda harus terbebas pikirannya untuk mengembangkan apa yang menarik di desa. ”Pemuda yang lemah itu kalau tak berbuat apa-apa untuk tempat tinggalnya,” terang politikus PKB itu.

Ia lantas mencontohkan sebuah kisah. ”Di Bandung, ada pemuda tanam hidroponik, diunggah di online, langsung diorder restoran tanpa perantara. Omzetnya bisa Rp 20–30 juta. Di desa saya sendiri, kami menciptakan ‘Pohon Jomblo’ yang akhirnya bisa masuk 50 foto terbaik se-Indonesia,” tambah pria 47 tahun itu.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadiskominfo) Sidoarjo, Eri Sudewo, yang juga hadir di tengah Kopilaborasi dengan para pemuda itu mengatakan bahwa pemuda desa harus bersiap secara digital.
Ia mengingatkan bahwa dalam 5 hingga 10 tahun ke depan, tenaga manusia akan banyak digantikan oleh Artificial Intelligence (AI).
”Industri mobil sudah pakai robot, taksi sudah ada yang tanpa sopir. Kita harus tingkatkan kompetensi diri agar tidak sekadar jadi penonton di negeri sendiri. Jangan hanya asyik main medsos dan game, tapi asahlah skill menghadapi disrupsi teknologi ini,” tegas Eri.
Eri memastikan Pemkab Sidoarjo tidak tinggal diam. Saat ini hampir seluruh desa di Sukodono dan Sidoarjo telah difasilitasi internet gratis. Ia juga mendorong pembentukan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM).
Ketua Forwas, H.M Taufik, mendorong agar pemuda desa tidak takut memulai langkah kecil, seperti membuat konten atau menulis narasi tentang keunggulan desa.

”Pemuda tidak boleh diam. Kalau bergerak lalu salah, tinggal minta maaf. Yang salah itu kalau tidak ngapa-ngapain. Intinya teman-teman muda harus bergerak, dan kami yang tua wajib memfasilitasi,” katanya.
Taufik mengusulkan agar lomba-lomba kreatif seperti penulisan cerpen (cerita pendek) atau pembuatan video profil desa rutin digelar untuk memantik perhatian publik terhadap keunikan lokal.
Semakin malam, para pemuda makin antusias membincangkan potensi desanya. Nita, peserta asal Suko, dengan percaya diri memamerkan prakarsa desanya.
Salah satunya dengan menceritakan keberhasilan Kelompok Tani (Gapoktan) di wilayahnya yang mengelola kebun pisang dan budidaya ikan secara swadaya.
”Kami merancang kebun hidroponik dan kolam lele-nila yang panen tiga bulan sekali. Di belakang perumahan Safira, kami siapkan tempat memancing dan rekreasi untuk warga,” tuturnya.
Dengan kemasan sajian yang santai ala anak muda, tanpa terasa diskusi potensi desa tersebut berlangsung gayeng hingga tiga jam. Untuk mewadahi antusiasme pemuda yang sangat tinggi tersebut, Kopilaborasi serupa akan digelar lagi pada 29 April mendatang. (git/MT)

