24 March 2026, 16:37 PM WIB

Berumrah di Tengah Perang (14): Saat Langit Terasa Lebih Dekat dari Dada Sendiri

spot_img

Umrah adalah perjalanan spiritual ke tanah suci yang dirindukan umat muslim sedunia. Namun, berumrah di tengah situasi konflik perang di Timur Tengah saat ini tentu perjalanan yang tidak mudah. Berikut catatan Dr. Machsus, ST. MT., Wakil Rektor II ITS dan anggota Komunitas S36A, yang sedang berumrah ke tanah suci. 

______

TIDAK semua perjalanan meninggalkan jejak yang kasat mata. Ada yang justru bekerja dalam diam, meresap perlahan ke dalam hati, lalu menggeser cara kita memandang hidup tanpa banyak kata.

Perjalanan spiritual, khususnya dalam ibadah, sering kali bukan tentang apa yang tampak di luar, melainkan tentang apa yang diam-diam berubah di dalam.

Tentang hati yang semula penuh, lalu perlahan menjadi lapang. Tentang doa yang dulu panjang dan terucap, kini berubah menjadi sunyi namun terasa sampai.

Proses itu tidak selalu dramatis, bahkan nyaris tak terasa. Tetapi dari sanalah arah rasa kita terhadap hidup pelan-pelan berubah.

Dan pada satu titik, kita mulai menyadari sesuatu yang sulit dijelaskan. Ada momen ketika langit tidak lagi terasa jauh, bahkan lebih dekat dari dada kita sendiri.

Ketika Jarak Kehilangan Makna

Ada saat dalam hidup ketika jarak tiba-tiba kehilangan maknanya. Langit yang selama ini kita bayangkan tinggi dan tak terjangkau, mendadak terasa begitu dekat. Bukan karena kita berpindah tempat, tetapi karena sesuatu di dalam diri kita yang bergeser.

Secara fisik, tidak ada yang berubah. Kita tetap manusia yang sama, yakni dengan daftar masalah yang belum selesai, deadline yang tetap menunggu, dan notifikasi yang sering muncul justru di saat kita ingin khusyuk.

Dunia berjalan seperti biasa. Namun ada satu hal yang tidak lagi sama, yakni jarak antara hati dan Tuhan.

Momen itu datang tanpa pengumuman. Ia tidak tercantum dalam jadwal, tidak masuk dalam rundown. Kadang ia hadir di sela langkah thawaf, di antara duduk sunyi selepas salat, atau di kamar sederhana saat kita berhenti menjadi “siapa-siapa” dan kembali menjadi diri yang sebenarnya.

Di titik itu, kata-kata terasa berlebihan. Kita tidak lagi merasa perlu menjelaskan apa pun, bahkan kepada Tuhan yang sejak awal sudah mengetahui segalanya. Dan di situlah, kita mulai mengerti bahwa doa tidak selalu harus terucap untuk sampai.

Doa Seremonial, Doa Substansial

Kita pernah belajar berdoa seperti menyusun proposal. Ada pembukaan, isi, dan penutup. Bahkan sering kali dilengkapi daftar permintaan yang panjang, seolah-olah semakin lengkap, semakin baik.

Dalam ruang-ruang formal, doa pun kerap menjadi bagian dari protokol. Ia tercantum dalam rundown, memiliki durasi, bahkan ada penanggung jawabnya.

Kita menundukkan kepala sesuai jadwal, mengangkat tangan sesuai alokasi waktu, lalu menutup dengan “aamiin” yang serempak.

Semua tampak rapi. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Namun diam-diam, ada yang hilang. Doa berubah menjadi seremonial, hadir sebagai pelengkap, bukan sebagai perjumpaan.

Jika boleh sedikit jujur, kadang yang paling menegangkan bukan isi doa, tetapi siapa yang diminta memimpin. Agar tidak terlalu panjang, tidak terlalu singkat, dan tetap “sesuai harapan pimpinan.”

Kita menjalankan doa dengan baik, tetapi belum tentu benar-benar menghadirkannya.

Dalam sebuah kisah sufi yang ringan namun mengena, diceritakan seorang murid berdoa dengan sangat panjang di hadapan gurunya, dengan penuh kalimat indah, runtut, dan terdengar sangat “sempurna.”

Setelah selesai, ia menoleh dengan sedikit bangga. Sang guru hanya tersenyum, lalu berkata pelan, “Jika engkau berbicara sepanjang itu kepada manusia, mungkin mereka akan terkesan. Tapi jika kepada Tuhan, apakah engkau yakin sedang berbicara, atau justru sedang menjelaskan hal yang sebenarnya sudah Dia ketahui?”

Murid itu terdiam. Lalu ia hanya berbisik singkat, “Ya Allah…”, dan untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar berdoa.

Dan kalau boleh sedikit “ditarik” ke dunia kita sehari-hari, kadang doa kita juga terasa seperti TOR kegiatan. Ada latar belakang, maksud dan tujuan, indikator keberhasilan, bahkan target output yang ingin segera “di-deliver”.

Seolah-olah kita sedang mengajukan proposal kepada Tuhan, lengkap dengan harapan bisa langsung disetujui tanpa revisi.

IMG_20260324_004745
Mihrab Masjid Quba tempat imam memimpin sholat berjamaah. (Foto: Machsus for Metrotoday)

Padahal, boleh jadi yang sedang Allah tunggu bukan proposal yang sempurna, tetapi hati yang sederhana. Bukan KPI yang jelas, tetapi kejujuran yang utuh. Bukan presentasi yang meyakinkan, tetapi kepasrahan yang diam-diam menenangkan.

Lalu perjalanan batin perlahan mengajarkan hal yang berbeda. Bahwa doa yang paling sampai bukan yang paling rapi, bukan yang paling panjang, dan bukan yang paling sesuai protokol, melainkan yang paling jujur.

Doa substansial tidak sedang ditampilkan. Ia tidak menjadi bagian dari skenario. Bahkan sering kali tidak membutuhkan kata. Kadang cukup satu bisikan sederhana: “Ya Allah…”, tetapi terasa lebih utuh daripada seribu kalimat yang tersusun sempurna.

Perkataan Gugur, Hati Berbicara

Ada fase dalam perjalanan batin ketika kata-kata gugur dengan sendirinya. Bukan karena kita tidak ingin berdoa, tetapi karena kita tidak lagi tahu harus berkata apa.

Semua terasa terlalu besar untuk diucapkan. Terlalu dalam untuk diringkas dalam bahasa manusia. Di titik itu, kita berhenti menyusun kalimat, dan mulai belajar untuk hadir.

Kita tidak lagi berbicara kepada Allah dengan kata-kata, tetapi hadir di hadapan-Nya dengan segala keterbatasan. Tanpa agenda. Tanpa daftar permintaan. Tanpa strategi spiritual.

Dan justru di situlah, kita merasa paling didengar. Karena kita tidak lagi berusaha menjelaskan diri, melainkan membiarkan diri sepenuhnya diketahui.

Doa yang tidak terucap sering kali justru lebih sampai. Ia mengalir langsung dari kedalaman hati, dengan air mata sebagai bahasa, rasa sebagai medium, dan keheningan sebagai jalurnya. Tidak ada jeda. Tidak ada gangguan.

Dan, jawabannya pun tidak selalu berupa perubahan keadaan, tetapi berupa sesuatu yang jauh lebih halus, yakni hati yang tiba-tiba lapang, dan jiwa yang perlahan ditenangkan.

Ketulusan yang Mendekatkan

Masjid Quba mengajarkan satu hal yang sederhana namun dalam. Kedekatan dengan langit tidak dimulai dari sesuatu yang besar, melainkan dari ketulusan yang kecil.

Ia bukan sekadar bangunan pertama dalam sejarah Islam, tetapi simbol bahwa niat yang lurus dapat menjadi fondasi peradaban.

Dalam salah satu kesempatan, kami menyempatkan diri berziarah ke Masjid Quba. Jaraknya sekitar 3-4 kilometer dari Masjid Nabawi, tidak terlalu jauh, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa setiap langkah menuju kebaikan tetap membutuhkan ikhtiar.

IMG_20260324_004716
Buggy car atau shuttle car adalah kendaraan bermotor ringan dan umumnya beratap terbuka dengan roda besar/khusus yang dirancang untuk medan off-road atau mobilitas jarak dekat dari Masjid Nabawi ke Masjid Quba. (Machsus for Metrotoday)

Kami menempuhnya dengan buggy car sederhana, bertarif sekitar 10 riyal. Kendaraan kecil itu melaju perlahan, membelah jalanan Madinah yang hangat oleh matahari. Sesekali angin lembut menyapa, membawa debu tipis dan aroma kota yang terasa akrab, meski bukan tanah kelahiran.

Di sepanjang perjalanan, tidak banyak percakapan. Seolah-olah setiap orang sedang berbicara dengan dirinya sendiri, atau mungkin sedang belajar diam agar hati lebih mudah mendengar.

Perjalanan yang secara jarak terasa singkat, tetapi secara rasa terasa dalam. Bukan sekadar datang, kami mencoba meneladani satu amalan sunnah Rasulullah Saw, kebiasaan beliau yang rutin mengunjungi Masjid Quba, khususnya di hari Sabtu.

Sebuah kebiasaan yang tampak sederhana, tetapi sarat makna. Konsistensi dalam mendekat, bukan sekadar momentum sesaat.

Rasulullah Saw datang ke Quba bukan karena kewajiban, tetapi karena cinta. Setiap langkah menuju masjid itu bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan hati, yang tenang, sadar, dan penuh kehadiran.

Di sanalah, kita belajar bahwa mendekat kepada Allah bukan soal seberapa jauh kita melangkah, tetapi seberapa jujur kita melangkah.

Amalannya sederhana, yakni dua rakaat yang ringan, doa yang tidak panjang. Namun justru di situlah letak maknanya.

Ketika hati benar-benar hadir, yang kecil menjadi bernilai besar. Quba seolah mengingatkan kita bahwa langit terasa dekat bukan karena kita banyak berkata, tetapi karena kita akhirnya jujur.

IMG_20260324_065802
Lanskap di sekitar Masjid Quba sudah tak lagi gersang seperti dulu, sudah mulai hijau dengan pohon kurma dan rerumputan. (Foto: Machsus for Metrotoday)

Kedekatan Diuji dan Dirawat

Ketika langit terasa dekat, dunia tidak serta-merta menjadi ringan. Masalah tetap ada. Rutinitas tetap berjalan. Kehidupan tetap menuntut.

Namun ada satu hal yang berubah, kita tidak lagi merasa sendirian. Ada ketenangan yang tidak perlu dijelaskan. Ada keyakinan yang tidak perlu dibuktikan, bahwa kita sedang ditemani.

Tetapi seperti semua hal yang berharga, kedekatan ini tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dijaga. Dan di situlah ujian dimulai.

Ketika kita kembali ke rutinitas, rapat, target, dan grup WhatsApp yang kadang lebih aktif dari forum resmi, perlahan rasa itu memudar.

Notifikasi kembali menjadi “panggilan” yang paling cepat kita respons, bahkan kadang lebih sigap daripada panggilan adzan yang jelas-jelas tidak pernah pending.

Kita kembali sibuk. Kembali berbicara banyak. Kembali merasa harus mengendalikan segalanya. Tanpa sadar, kita kembali ke “mode seremonial”, termasuk dalam berdoa.

Kita berdoa, tetapi tidak hadir. Kita mengucap, tetapi tidak merasakan. Dan di situlah kita menyadari bahwa kedekatan bukanlah pencapaian sekali jadi, melainkan kondisi yang harus terus dirawat.

Saat Langit Mendekat

Pada akhirnya, kita sampai pada kesadaran yang sangat sederhana. Kita tidak perlu menjadi pandai berdoa. Kita hanya perlu menjadi hamba. Hamba yang hadir, bukan yang tampil. Hamba yang jujur, bukan yang sekadar formal.

Lantaran sering kali, rasa “pernah dekat” justru menjadi awal dari kejauhan yang tidak kita sadari. Maka mungkin yang perlu kita lakukan bukan menambah, tetapi mengurangi, yakni mengurangi klaim, mengurangi rasa bangga, dan mengurangi perasaan “pernah melakukan sesuatu”.

Bahkan jika perlu, kita belajar melupakan seluruh amal yang pernah kita lakukan, agar ia tidak berubah menjadi penghalang halus yang menjauhkan kita dari keikhlasan. Dan di titik itu, kita mulai memahami sesuatu yang selama ini terlewat.

Barangkali bukan kita yang sedang mendekat kepada langit. Tetapi langitlah, dengan kasih-Nya, yang berkenan mendekat kepada hati yang akhirnya berhenti berpura-pura, berhenti tampil, dan memilih untuk hadir apa adanya.

Mungkin selama ini kita sibuk mencari jalan menuju langit. Padahal yang diperlukan hanyalah berhenti, agar langit menemukan jalan menuju hati kita. (*/bersambung)

spot_img

Umrah adalah perjalanan spiritual ke tanah suci yang dirindukan umat muslim sedunia. Namun, berumrah di tengah situasi konflik perang di Timur Tengah saat ini tentu perjalanan yang tidak mudah. Berikut catatan Dr. Machsus, ST. MT., Wakil Rektor II ITS dan anggota Komunitas S36A, yang sedang berumrah ke tanah suci. 

______

TIDAK semua perjalanan meninggalkan jejak yang kasat mata. Ada yang justru bekerja dalam diam, meresap perlahan ke dalam hati, lalu menggeser cara kita memandang hidup tanpa banyak kata.

Perjalanan spiritual, khususnya dalam ibadah, sering kali bukan tentang apa yang tampak di luar, melainkan tentang apa yang diam-diam berubah di dalam.

Tentang hati yang semula penuh, lalu perlahan menjadi lapang. Tentang doa yang dulu panjang dan terucap, kini berubah menjadi sunyi namun terasa sampai.

Proses itu tidak selalu dramatis, bahkan nyaris tak terasa. Tetapi dari sanalah arah rasa kita terhadap hidup pelan-pelan berubah.

Dan pada satu titik, kita mulai menyadari sesuatu yang sulit dijelaskan. Ada momen ketika langit tidak lagi terasa jauh, bahkan lebih dekat dari dada kita sendiri.

Ketika Jarak Kehilangan Makna

Ada saat dalam hidup ketika jarak tiba-tiba kehilangan maknanya. Langit yang selama ini kita bayangkan tinggi dan tak terjangkau, mendadak terasa begitu dekat. Bukan karena kita berpindah tempat, tetapi karena sesuatu di dalam diri kita yang bergeser.

Secara fisik, tidak ada yang berubah. Kita tetap manusia yang sama, yakni dengan daftar masalah yang belum selesai, deadline yang tetap menunggu, dan notifikasi yang sering muncul justru di saat kita ingin khusyuk.

Dunia berjalan seperti biasa. Namun ada satu hal yang tidak lagi sama, yakni jarak antara hati dan Tuhan.

Momen itu datang tanpa pengumuman. Ia tidak tercantum dalam jadwal, tidak masuk dalam rundown. Kadang ia hadir di sela langkah thawaf, di antara duduk sunyi selepas salat, atau di kamar sederhana saat kita berhenti menjadi “siapa-siapa” dan kembali menjadi diri yang sebenarnya.

Di titik itu, kata-kata terasa berlebihan. Kita tidak lagi merasa perlu menjelaskan apa pun, bahkan kepada Tuhan yang sejak awal sudah mengetahui segalanya. Dan di situlah, kita mulai mengerti bahwa doa tidak selalu harus terucap untuk sampai.

Doa Seremonial, Doa Substansial

Kita pernah belajar berdoa seperti menyusun proposal. Ada pembukaan, isi, dan penutup. Bahkan sering kali dilengkapi daftar permintaan yang panjang, seolah-olah semakin lengkap, semakin baik.

Dalam ruang-ruang formal, doa pun kerap menjadi bagian dari protokol. Ia tercantum dalam rundown, memiliki durasi, bahkan ada penanggung jawabnya.

Kita menundukkan kepala sesuai jadwal, mengangkat tangan sesuai alokasi waktu, lalu menutup dengan “aamiin” yang serempak.

Semua tampak rapi. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Namun diam-diam, ada yang hilang. Doa berubah menjadi seremonial, hadir sebagai pelengkap, bukan sebagai perjumpaan.

Jika boleh sedikit jujur, kadang yang paling menegangkan bukan isi doa, tetapi siapa yang diminta memimpin. Agar tidak terlalu panjang, tidak terlalu singkat, dan tetap “sesuai harapan pimpinan.”

Kita menjalankan doa dengan baik, tetapi belum tentu benar-benar menghadirkannya.

Dalam sebuah kisah sufi yang ringan namun mengena, diceritakan seorang murid berdoa dengan sangat panjang di hadapan gurunya, dengan penuh kalimat indah, runtut, dan terdengar sangat “sempurna.”

Setelah selesai, ia menoleh dengan sedikit bangga. Sang guru hanya tersenyum, lalu berkata pelan, “Jika engkau berbicara sepanjang itu kepada manusia, mungkin mereka akan terkesan. Tapi jika kepada Tuhan, apakah engkau yakin sedang berbicara, atau justru sedang menjelaskan hal yang sebenarnya sudah Dia ketahui?”

Murid itu terdiam. Lalu ia hanya berbisik singkat, “Ya Allah…”, dan untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar berdoa.

Dan kalau boleh sedikit “ditarik” ke dunia kita sehari-hari, kadang doa kita juga terasa seperti TOR kegiatan. Ada latar belakang, maksud dan tujuan, indikator keberhasilan, bahkan target output yang ingin segera “di-deliver”.

Seolah-olah kita sedang mengajukan proposal kepada Tuhan, lengkap dengan harapan bisa langsung disetujui tanpa revisi.

IMG_20260324_004745
Mihrab Masjid Quba tempat imam memimpin sholat berjamaah. (Foto: Machsus for Metrotoday)

Padahal, boleh jadi yang sedang Allah tunggu bukan proposal yang sempurna, tetapi hati yang sederhana. Bukan KPI yang jelas, tetapi kejujuran yang utuh. Bukan presentasi yang meyakinkan, tetapi kepasrahan yang diam-diam menenangkan.

Lalu perjalanan batin perlahan mengajarkan hal yang berbeda. Bahwa doa yang paling sampai bukan yang paling rapi, bukan yang paling panjang, dan bukan yang paling sesuai protokol, melainkan yang paling jujur.

Doa substansial tidak sedang ditampilkan. Ia tidak menjadi bagian dari skenario. Bahkan sering kali tidak membutuhkan kata. Kadang cukup satu bisikan sederhana: “Ya Allah…”, tetapi terasa lebih utuh daripada seribu kalimat yang tersusun sempurna.

Perkataan Gugur, Hati Berbicara

Ada fase dalam perjalanan batin ketika kata-kata gugur dengan sendirinya. Bukan karena kita tidak ingin berdoa, tetapi karena kita tidak lagi tahu harus berkata apa.

Semua terasa terlalu besar untuk diucapkan. Terlalu dalam untuk diringkas dalam bahasa manusia. Di titik itu, kita berhenti menyusun kalimat, dan mulai belajar untuk hadir.

Kita tidak lagi berbicara kepada Allah dengan kata-kata, tetapi hadir di hadapan-Nya dengan segala keterbatasan. Tanpa agenda. Tanpa daftar permintaan. Tanpa strategi spiritual.

Dan justru di situlah, kita merasa paling didengar. Karena kita tidak lagi berusaha menjelaskan diri, melainkan membiarkan diri sepenuhnya diketahui.

Doa yang tidak terucap sering kali justru lebih sampai. Ia mengalir langsung dari kedalaman hati, dengan air mata sebagai bahasa, rasa sebagai medium, dan keheningan sebagai jalurnya. Tidak ada jeda. Tidak ada gangguan.

Dan, jawabannya pun tidak selalu berupa perubahan keadaan, tetapi berupa sesuatu yang jauh lebih halus, yakni hati yang tiba-tiba lapang, dan jiwa yang perlahan ditenangkan.

Ketulusan yang Mendekatkan

Masjid Quba mengajarkan satu hal yang sederhana namun dalam. Kedekatan dengan langit tidak dimulai dari sesuatu yang besar, melainkan dari ketulusan yang kecil.

Ia bukan sekadar bangunan pertama dalam sejarah Islam, tetapi simbol bahwa niat yang lurus dapat menjadi fondasi peradaban.

Dalam salah satu kesempatan, kami menyempatkan diri berziarah ke Masjid Quba. Jaraknya sekitar 3-4 kilometer dari Masjid Nabawi, tidak terlalu jauh, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa setiap langkah menuju kebaikan tetap membutuhkan ikhtiar.

IMG_20260324_004716
Buggy car atau shuttle car adalah kendaraan bermotor ringan dan umumnya beratap terbuka dengan roda besar/khusus yang dirancang untuk medan off-road atau mobilitas jarak dekat dari Masjid Nabawi ke Masjid Quba. (Machsus for Metrotoday)

Kami menempuhnya dengan buggy car sederhana, bertarif sekitar 10 riyal. Kendaraan kecil itu melaju perlahan, membelah jalanan Madinah yang hangat oleh matahari. Sesekali angin lembut menyapa, membawa debu tipis dan aroma kota yang terasa akrab, meski bukan tanah kelahiran.

Di sepanjang perjalanan, tidak banyak percakapan. Seolah-olah setiap orang sedang berbicara dengan dirinya sendiri, atau mungkin sedang belajar diam agar hati lebih mudah mendengar.

Perjalanan yang secara jarak terasa singkat, tetapi secara rasa terasa dalam. Bukan sekadar datang, kami mencoba meneladani satu amalan sunnah Rasulullah Saw, kebiasaan beliau yang rutin mengunjungi Masjid Quba, khususnya di hari Sabtu.

Sebuah kebiasaan yang tampak sederhana, tetapi sarat makna. Konsistensi dalam mendekat, bukan sekadar momentum sesaat.

Rasulullah Saw datang ke Quba bukan karena kewajiban, tetapi karena cinta. Setiap langkah menuju masjid itu bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan hati, yang tenang, sadar, dan penuh kehadiran.

Di sanalah, kita belajar bahwa mendekat kepada Allah bukan soal seberapa jauh kita melangkah, tetapi seberapa jujur kita melangkah.

Amalannya sederhana, yakni dua rakaat yang ringan, doa yang tidak panjang. Namun justru di situlah letak maknanya.

Ketika hati benar-benar hadir, yang kecil menjadi bernilai besar. Quba seolah mengingatkan kita bahwa langit terasa dekat bukan karena kita banyak berkata, tetapi karena kita akhirnya jujur.

IMG_20260324_065802
Lanskap di sekitar Masjid Quba sudah tak lagi gersang seperti dulu, sudah mulai hijau dengan pohon kurma dan rerumputan. (Foto: Machsus for Metrotoday)

Kedekatan Diuji dan Dirawat

Ketika langit terasa dekat, dunia tidak serta-merta menjadi ringan. Masalah tetap ada. Rutinitas tetap berjalan. Kehidupan tetap menuntut.

Namun ada satu hal yang berubah, kita tidak lagi merasa sendirian. Ada ketenangan yang tidak perlu dijelaskan. Ada keyakinan yang tidak perlu dibuktikan, bahwa kita sedang ditemani.

Tetapi seperti semua hal yang berharga, kedekatan ini tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dijaga. Dan di situlah ujian dimulai.

Ketika kita kembali ke rutinitas, rapat, target, dan grup WhatsApp yang kadang lebih aktif dari forum resmi, perlahan rasa itu memudar.

Notifikasi kembali menjadi “panggilan” yang paling cepat kita respons, bahkan kadang lebih sigap daripada panggilan adzan yang jelas-jelas tidak pernah pending.

Kita kembali sibuk. Kembali berbicara banyak. Kembali merasa harus mengendalikan segalanya. Tanpa sadar, kita kembali ke “mode seremonial”, termasuk dalam berdoa.

Kita berdoa, tetapi tidak hadir. Kita mengucap, tetapi tidak merasakan. Dan di situlah kita menyadari bahwa kedekatan bukanlah pencapaian sekali jadi, melainkan kondisi yang harus terus dirawat.

Saat Langit Mendekat

Pada akhirnya, kita sampai pada kesadaran yang sangat sederhana. Kita tidak perlu menjadi pandai berdoa. Kita hanya perlu menjadi hamba. Hamba yang hadir, bukan yang tampil. Hamba yang jujur, bukan yang sekadar formal.

Lantaran sering kali, rasa “pernah dekat” justru menjadi awal dari kejauhan yang tidak kita sadari. Maka mungkin yang perlu kita lakukan bukan menambah, tetapi mengurangi, yakni mengurangi klaim, mengurangi rasa bangga, dan mengurangi perasaan “pernah melakukan sesuatu”.

Bahkan jika perlu, kita belajar melupakan seluruh amal yang pernah kita lakukan, agar ia tidak berubah menjadi penghalang halus yang menjauhkan kita dari keikhlasan. Dan di titik itu, kita mulai memahami sesuatu yang selama ini terlewat.

Barangkali bukan kita yang sedang mendekat kepada langit. Tetapi langitlah, dengan kasih-Nya, yang berkenan mendekat kepada hati yang akhirnya berhenti berpura-pura, berhenti tampil, dan memilih untuk hadir apa adanya.

Mungkin selama ini kita sibuk mencari jalan menuju langit. Padahal yang diperlukan hanyalah berhenti, agar langit menemukan jalan menuju hati kita. (*/bersambung)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait