METROTODAY, SURABAYA – Munculnya klaster dugaan infeksi Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius yang saat ini sedang berlayar di Samudera Atlantik Utara memicu kekhawatiran global.
Sejumlah penumpang dilaporkan mengalami gangguan pernapasan berat selama pelayaran lintas negara.
Sebuah peristiwa yang menjadi peringatan keras akan risiko penyakit zoonosis di tengah tingginya mobilitas manusia.
Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair), Laura Navika Yamani, memberikan analisisnya terkait fenomena ini.
Menurutnya, Hantavirus tidak muncul begitu saja di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar, melainkan kemungkinan besar berasal dari paparan awal di wilayah reservoir hewan pengerat (tikus).
“Masa inkubasi Hantavirus dapat berlangsung beberapa minggu. Sehingga kasus baru dapat muncul ketika individu sudah berpindah lokasi,” jelas Laura, Jumat (8/5).
Ia menambahkan bahwa mobilitas lintas negara dalam perjalanan laut berpotensi memperluas jangkauan deteksi kasus, meski lokasi infeksi awalnya bukan berada di atas kapal.
Hantavirus dikenal menular melalui inhalasi partikel (urin, feses, atau air liur) dari hewan pengerat yang terinfeksi.
Meski mayoritas strain tidak menular antarmanusia, Laura mengingatkan adanya pengecualian pada strain tertentu seperti Andes virus.
“Aktivitas manusia di wilayah baru dan meningkatnya ekowisata memperbesar peluang kontak dengan sumber zoonosis yang sebelumnya terbatas di habitat tertentu,” ungkapnya.
Oleh karena itu, investigasi epidemiologi dan analisis genomik menjadi langkah krusial untuk memastikan apakah terjadi pola penularan antarmanusia dalam klaster tersebut.
Ia mengungkapkan, secara klinis, penyakit ini sulit dikenali di tahap awal karena gejalanya menyerupai flu biasa, seperti demam dan kelelahan.
Namun, kondisinya dapat memburuk dengan sangat cepat menjadi Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS).
“Pada kasus HPS, tingkat fatalitas dapat mencapai 30–50 persen, terutama jika penanganan tidak dilakukan secara cepat,” tegas Sekretaris Lembaga Penyakit Tropis (LPT) Unair tersebut.
Sebagai langkah antisipasi, Laura mendorong penguatan sistem surveilans kesehatan dan penerapan pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Kesiapsiagaan sistem kesehatan menjadi harga mati dalam menghadapi era mobilitas global.
“Dalam era mobilitas global yang semakin tinggi, kesiapsiagaan sistem kesehatan dan deteksi dini sangat diperlukan untuk mencegah eskalasi kasus serupa di masa depan,” pungkasnya. (ahm)

