Pakar: Pengelolaan Budaya Surabaya Dinilai Masih Fase Transisi

METROTODAY, SURABAYA – Penyediaan ruang publik serta transformasi lembaga kesenian menjadi lembaga kebudayaan dinilai sebagai langkah positif menuju pengelolaan yang lebih kolaboratif.

Pegiat budaya dari Sanggar Omah Ndhuwur, Probo Darono Yakti, menilai sejauh ini fasilitas yang disediakan Pemkot sudah cukup representatif.

Pemanfaatan ruang seperti Balai Pemuda dan taman kota dinilai berhasil menghidupkan suasana seni di tengah masyarakat.

“Sebenarnya sejauh ini sudah cukup representatif. Pemkot sudah membuka ruang-ruang publik untuk berkebudayaan. Ini sejalan dengan peran pemerintah sebagai enabler, yang menjadikan yang tidak ada menjadi ada, dan membisa-kan yang tidak bisa,” ujar Probo, Selasa (5/5).

Namun, dosen FISIP Universitas Airlangga ini menekankan bahwa penyediaan fasilitas perlu diimbangi dengan tata kelola yang partisipatif.

METROTODAY, SURABAYA – Penyediaan ruang publik serta transformasi lembaga kesenian menjadi lembaga kebudayaan dinilai sebagai langkah positif menuju pengelolaan yang lebih kolaboratif.

Pegiat budaya dari Sanggar Omah Ndhuwur, Probo Darono Yakti, menilai sejauh ini fasilitas yang disediakan Pemkot sudah cukup representatif.

Pemanfaatan ruang seperti Balai Pemuda dan taman kota dinilai berhasil menghidupkan suasana seni di tengah masyarakat.

“Sebenarnya sejauh ini sudah cukup representatif. Pemkot sudah membuka ruang-ruang publik untuk berkebudayaan. Ini sejalan dengan peran pemerintah sebagai enabler, yang menjadikan yang tidak ada menjadi ada, dan membisa-kan yang tidak bisa,” ujar Probo, Selasa (5/5).

Namun, dosen FISIP Universitas Airlangga ini menekankan bahwa penyediaan fasilitas perlu diimbangi dengan tata kelola yang partisipatif.

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait