15 March 2026, 3:01 AM WIB

Berumrah di Tengah Perang di Timur Tengah (4): Memasuki Lingkaran Makna Kehidupan, Dari Ihram hingga Tahallul

spot_img

Umrah sebuah perjalanan ibadah ke tanah suci yang dirindukan umat muslim sedunia. Namun, berumrah di tengah situasi konflik perang di Timur Tengah saat ini tentu perjalanan yang tidak mudah. Berikut catatan Dr. Machsus, ST. MT., Wakil Rektor II ITS dan anggota Komunitas S36A, yang sedang berumrah ke tanah Suci. 

———–

PERJALANAN menuju Tanah Suci sering kali dimulai dari hal-hal yang sangat praktis: koper yang disiapkan, tiket yang dicetak, antrean di bandara, dan jadwal penerbangan yang tak boleh terlewat. Ketika tiba di tanah haram pun, para jamaah masih harus bersabar menembus kemacetan yang luar biasa pada musim umrah Ramadhan.

Namun bagi seorang peziarah, umrah sejatinya tidak pernah benar-benar dimulai dari bandara. Ia dimulai dari sebuah panggilan yang lebih sunyi. Sebuah panggilan batin yang perlahan mengajak manusia meninggalkan hiruk-pikuk dunia menuju pusat kesadaran spiritualnya.

Di dalam ibadah umrah terdapat rangkaian rukun yang tampak sederhana, mulai dari ihram, tawaf, sa’i, dan tahallul. Tidak panjang, tidak rumit. Namun sebagaimana banyak simbol dalam tradisi Islam, kesederhanaan justru menyimpan kedalaman makna.

Setiap ritual itu seperti bahasa yang tidak diucapkan. Ia berbicara melalui gerakan, melalui perjalanan, melalui pengalaman yang hanya benar-benar dipahami ketika seseorang menjalaninya dengan hati. Umrah, dengan cara yang sangat halus, mengajak manusia untuk menata ulang dirinya sendiri.

Ihram: Menanggalkan Dunia

Segalanya dimulai dari ihram. Di titik miqat, seorang jamaah mengenakan dua helai kain putih yang sangat sederhana. Tidak ada jahitan. Tidak ada atribut. Tidak ada tanda yang menunjukkan siapa seseorang di dunia.

Dalam beberapa menit saja, identitas yang selama ini terasa begitu penting seakan luruh perlahan. Jabatan yang dulu dibanggakan, kekayaan yang dulu menjadi ukuran keberhasilan, bahkan status sosial yang sering dijadikan pembeda, semuanya tertinggal.

Di hadapan Ka’bah nanti, semua manusia berdiri dalam kesederhanaan yang sama. Ihram menghadirkan sebuah pelajaran yang sangat mendasar bahwa manusia pada akhirnya hanyalah seorang musafir. Ia datang menghadap Tuhannya tanpa membawa apa pun selain amal yang pernah ia lakukan.

Di dunia modern yang sering mengukur manusia dari prestasi dan simbol-simbol keberhasilan, ihram seperti menghadirkan sebuah jeda yang menenangkan. Ia mengingatkan bahwa di hadapan Tuhan, manusia kembali kepada hakikatnya yang paling sederhana: seorang hamba.

Tawaf: Menemukan Pusat Kehidupan

Ketika langkah pertama memasuki Masjidil Haram dan mata menatap Ka’bah untuk pertama kalinya, banyak jamaah merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Ada keharuan yang tiba-tiba datang. Ada rasa kecil yang muncul di dalam diri. Seolah-olah jiwa sedang diingatkan tentang sesuatu yang sangat lama ia rindukan.

Lalu dimulailah tawaf, mengelilingi Ka’bah bersama jutaan manusia dari berbagai bangsa, bahasa, dan latar belakang kehidupan.

Sekilas, tawaf hanyalah berjalan mengitari bangunan yang sama. Namun dalam kedalaman simboliknya, ia menyimpan pelajaran yang sangat besar.

Ka’bah menjadi pusat orientasi spiritual. Sebuah poros yang mengingatkan bahwa hidup manusia seharusnya memiliki titik pusat yang jelas.

Alam semesta bergerak dalam orbitnya. Planet mengelilingi matahari. Elektron berputar mengitari inti atom. Ada keteraturan kosmik yang menjaga keseimbangan alam.

WhatsApp Image 2026-03-13 at 04.17.34
Kepadatan warga di Makkah yang seolah tak terganggu dengan situasi perang di Timur Tengah. (Foto: Machsus for Metrotoday)

Tawaf seakan menghadirkan gambaran kecil dari keteraturan itu. Ia mengajarkan bahwa hidup manusia akan menemukan keseimbangan ketika ia berputar di sekitar pusat yang benar. Bukan ego. Bukan ambisi. Bukan sekadar kesibukan dunia yang tak pernah selesai. Tetapi nilai-nilai ilahiah yang memberi arah pada setiap langkah kehidupan.

Namun dunia modern sering berjalan dengan logika yang berbeda. Politik global kerap menjadikan kekuasaan sebagai pusat orbitnya. Ketika ego kekuasaan menjadi poros keputusan, konflik pun mudah meledak.

Seandainya para pengambil keputusan dunia memahami filosofi sederhana dari tawaf, bahwa kehidupan harus berputar pada nilai ketundukan kepada Tuhan dan kemaslahatan manusia. Barangkali sejarah geopolitik tidak akan sesering ini dipenuhi luka, terutama akibat konflik global.

Dalam renungan yang lebih jauh, kadang terlintas bayangan sederhana. Seandainya para pemimpin dunia seperti Donald Trump dan Benjamin Netanyahu memahami lingkaran makna dari rukun-rukun umrah, mungkin mereka akan lebih berhati-hati sebelum mengambil langkah-langkah agresif terhadap Iran yang berisiko merugikan banyak pihak dan menyeret dunia ke pusaran konflik yang lebih luas, yang perang dunia ketiga.

Ironisnya, di tengah ketegangan global seperti itu, sikap banyak negara sering kali juga tidak sepenuhnya jernih. Bahkan negara-negara yang sejak awal berdiri dengan semangat non-blok dan perdamaian dunia pun kadang terlihat gamang.

Indonesia, misalnya, sejak awal kemerdekaannya dikenal sebagai bangsa yang berdiri di atas prinsip keberpihakan pada kemerdekaan dan keadilan global. Namun dalam beberapa forum internasional yang berbicara tentang perdamaian, yang sering disebut sebagai Board of Peace (BoP), sikap kita kadang terasa tidak setegas nilai yang kita warisi dari Konferensi Asia-Afria (KAA) tahun 1955 di Bandung.

Padahal, semangat politik luar negeri yang bebas dan aktif sejatinya mengajarkan satu hal sederhana bahwa membela yang lemah, bukan mendukung yang kuat; membela yang benar, bukan mengikuti yang berkuasa maupun adikuasa.

Seperti tawaf yang selalu berputar pada satu pusat yang jelas, moralitas dalam politik global pun semestinya memiliki poros yang tegas. Tanpa itu, diplomasi mudah terseret dalam orbit kepentingan yang bukan miliknya.

Dan dari sanalah banyak konflik dunia berawal. Ketika manusia kehilangan pusat orientasinya.

Sa’i: Ikhtiar yang Tak Pernah Putus

Dari Ka’bah, perjalanan berlanjut menuju Shafa dan Marwah. Di antara dua bukit inilah seorang jamaah menapaktilasi kisah seorang ibu yang luar biasa dalam sejarah spiritual umat manusia: Siti Hajar.

Di tengah padang pasir yang sunyi dan tandus, ia berlari mencari air untuk putranya, Ismail. Tidak sekali. Tidak dua kali. Tetapi berulang kali, dalam kelelahan, dalam kegelisahan, dalam ketidakpastian yang sangat besar.

Namun, ia tidak berhenti. Hingga akhirnya, dari tempat yang tak pernah disangka, memancar air Zamzam. Sebuah mata air yang terus mengalir hingga hari ini, dan dinikmati jutaan umat manusia, termasuk yang sedang umrah.

Sa’i bukan sekadar berjalan bolak-balik di antara dua bukit. Ia adalah simbol tentang ikhtiar yang tak pernah putus.

Di antara Shafa dan Marwah, manusia belajar bahwa harapan sering kali lahir dari ketekunan. Bahwa usaha tidak selalu langsung memperlihatkan hasilnya. Namun justru dalam ketekunan itulah pertolongan Tuhan sering datang, dengan cara yang tak pernah kita duga sebelumnya.

Tahallul: Pulang dengan Jiwa Baru

Rangkaian umrah kemudian ditutup dengan tahallul, berupa memotong sebagian rambut sebagai tanda berakhirnya ritual.

Secara lahiriah, tindakan ini tampak sederhana. Namun dalam makna spiritualnya, tahallul menghadirkan simbol pembaruan. Ia seperti sebuah tanda bahwa perjalanan ini tidak hanya terjadi di luar diri, tetapi juga di dalam hati.

Seolah-olah seorang jamaah dilahirkan kembali dengan kesadaran yang lebih jernih. Dengan hati yang lebih ringan. Dengan pandangan hidup yang lebih tenang.

Karena umrah sejatinya bukan sekadar perjalanan yang selesai di Tanah Suci. Ia adalah proses pembaruan diri yang seharusnya terus hidup setelah seseorang kembali ke rumahnya.

Lingkaran Makna

Jika direnungkan lebih dalam, rukun-rukun umrah membentuk sebuah lingkaran makna yang utuh. Ia dimulai dari pelepasan diri melalui ihram. Menemukan orientasi hidup melalui tawaf. Belajar tentang ketekunan melalui sa’i. Dan berakhir dengan pembaruan diri melalui tahallul.

Namun lingkaran itu sebenarnya tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan Mekah.

Justru ketika kembali ke kehidupan sehari-hari, pertanyaan yang lebih penting muncul dalam diri, apakah pusat kehidupan kita masih sama seperti sebelum berangkat? Apakah hati kita masih mengingat arah yang sama seperti ketika mengelilingi Ka’bah?

Umrah, pada akhirnya, bukan sekadar perjalanan menuju Tanah Suci. Ia adalah perjalanan untuk menemukan kembali pusat kehidupan, agar manusia tidak lagi berjalan tanpa arah, tetapi hidup dengan kesadaran yang lebih jernih.

Mungkin di situlah pelajaran terbesar dari umrah yang sering luput kita sadari. Ka’bah tidak hanya menjadi pusat orientasi ibadah, tetapi juga mengajarkan sebuah metafora moral bagi kehidupan manusia.

Dunia yang damai hanya mungkin lahir jika manusia, termasuk para pemimpinnya, memiliki pusat orientasi yang benar, yakni keadilan, kemanusiaan, dan ketundukan kepada Tuhan. Tanpa pusat itu, politik global mudah terjebak dalam orbit ego, ambisi, dan dominasi kekuasaan.

Bagi bangsa seperti Indonesia yang sejak awal memilih jalan politik luar negeri bebas dan aktif, pesan ini terasa semakin relevan. Seperti tawaf yang selalu kembali pada satu pusat yang sama, diplomasi kita pun seharusnya kembali pada poros moral yang sama: membela yang lemah, bukan sekadar mendukung yang kuat; membela yang benar, bukan mengikuti yang berkuasa.

Karena pada akhirnya, sebagaimana manusia berputar mengelilingi Ka’bah untuk mengingat Tuhannya, dunia pun hanya akan menemukan kedamaian jika ia kembali berputar pada pusat kemanusiaannya.

Dan mungkin di situlah makna terdalamnya: bahwa hidup, seperti tawaf, adalah perjalanan melingkar yang terus mengingatkan manusia untuk kembali kepada pusatnya, yakni kepada Tuhan, yang menjadi tujuan akhir dari setiap langkah manusia. (*/bersambung)

spot_img

Umrah sebuah perjalanan ibadah ke tanah suci yang dirindukan umat muslim sedunia. Namun, berumrah di tengah situasi konflik perang di Timur Tengah saat ini tentu perjalanan yang tidak mudah. Berikut catatan Dr. Machsus, ST. MT., Wakil Rektor II ITS dan anggota Komunitas S36A, yang sedang berumrah ke tanah Suci. 

———–

PERJALANAN menuju Tanah Suci sering kali dimulai dari hal-hal yang sangat praktis: koper yang disiapkan, tiket yang dicetak, antrean di bandara, dan jadwal penerbangan yang tak boleh terlewat. Ketika tiba di tanah haram pun, para jamaah masih harus bersabar menembus kemacetan yang luar biasa pada musim umrah Ramadhan.

Namun bagi seorang peziarah, umrah sejatinya tidak pernah benar-benar dimulai dari bandara. Ia dimulai dari sebuah panggilan yang lebih sunyi. Sebuah panggilan batin yang perlahan mengajak manusia meninggalkan hiruk-pikuk dunia menuju pusat kesadaran spiritualnya.

Di dalam ibadah umrah terdapat rangkaian rukun yang tampak sederhana, mulai dari ihram, tawaf, sa’i, dan tahallul. Tidak panjang, tidak rumit. Namun sebagaimana banyak simbol dalam tradisi Islam, kesederhanaan justru menyimpan kedalaman makna.

Setiap ritual itu seperti bahasa yang tidak diucapkan. Ia berbicara melalui gerakan, melalui perjalanan, melalui pengalaman yang hanya benar-benar dipahami ketika seseorang menjalaninya dengan hati. Umrah, dengan cara yang sangat halus, mengajak manusia untuk menata ulang dirinya sendiri.

Ihram: Menanggalkan Dunia

Segalanya dimulai dari ihram. Di titik miqat, seorang jamaah mengenakan dua helai kain putih yang sangat sederhana. Tidak ada jahitan. Tidak ada atribut. Tidak ada tanda yang menunjukkan siapa seseorang di dunia.

Dalam beberapa menit saja, identitas yang selama ini terasa begitu penting seakan luruh perlahan. Jabatan yang dulu dibanggakan, kekayaan yang dulu menjadi ukuran keberhasilan, bahkan status sosial yang sering dijadikan pembeda, semuanya tertinggal.

Di hadapan Ka’bah nanti, semua manusia berdiri dalam kesederhanaan yang sama. Ihram menghadirkan sebuah pelajaran yang sangat mendasar bahwa manusia pada akhirnya hanyalah seorang musafir. Ia datang menghadap Tuhannya tanpa membawa apa pun selain amal yang pernah ia lakukan.

Di dunia modern yang sering mengukur manusia dari prestasi dan simbol-simbol keberhasilan, ihram seperti menghadirkan sebuah jeda yang menenangkan. Ia mengingatkan bahwa di hadapan Tuhan, manusia kembali kepada hakikatnya yang paling sederhana: seorang hamba.

Tawaf: Menemukan Pusat Kehidupan

Ketika langkah pertama memasuki Masjidil Haram dan mata menatap Ka’bah untuk pertama kalinya, banyak jamaah merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Ada keharuan yang tiba-tiba datang. Ada rasa kecil yang muncul di dalam diri. Seolah-olah jiwa sedang diingatkan tentang sesuatu yang sangat lama ia rindukan.

Lalu dimulailah tawaf, mengelilingi Ka’bah bersama jutaan manusia dari berbagai bangsa, bahasa, dan latar belakang kehidupan.

Sekilas, tawaf hanyalah berjalan mengitari bangunan yang sama. Namun dalam kedalaman simboliknya, ia menyimpan pelajaran yang sangat besar.

Ka’bah menjadi pusat orientasi spiritual. Sebuah poros yang mengingatkan bahwa hidup manusia seharusnya memiliki titik pusat yang jelas.

Alam semesta bergerak dalam orbitnya. Planet mengelilingi matahari. Elektron berputar mengitari inti atom. Ada keteraturan kosmik yang menjaga keseimbangan alam.

WhatsApp Image 2026-03-13 at 04.17.34
Kepadatan warga di Makkah yang seolah tak terganggu dengan situasi perang di Timur Tengah. (Foto: Machsus for Metrotoday)

Tawaf seakan menghadirkan gambaran kecil dari keteraturan itu. Ia mengajarkan bahwa hidup manusia akan menemukan keseimbangan ketika ia berputar di sekitar pusat yang benar. Bukan ego. Bukan ambisi. Bukan sekadar kesibukan dunia yang tak pernah selesai. Tetapi nilai-nilai ilahiah yang memberi arah pada setiap langkah kehidupan.

Namun dunia modern sering berjalan dengan logika yang berbeda. Politik global kerap menjadikan kekuasaan sebagai pusat orbitnya. Ketika ego kekuasaan menjadi poros keputusan, konflik pun mudah meledak.

Seandainya para pengambil keputusan dunia memahami filosofi sederhana dari tawaf, bahwa kehidupan harus berputar pada nilai ketundukan kepada Tuhan dan kemaslahatan manusia. Barangkali sejarah geopolitik tidak akan sesering ini dipenuhi luka, terutama akibat konflik global.

Dalam renungan yang lebih jauh, kadang terlintas bayangan sederhana. Seandainya para pemimpin dunia seperti Donald Trump dan Benjamin Netanyahu memahami lingkaran makna dari rukun-rukun umrah, mungkin mereka akan lebih berhati-hati sebelum mengambil langkah-langkah agresif terhadap Iran yang berisiko merugikan banyak pihak dan menyeret dunia ke pusaran konflik yang lebih luas, yang perang dunia ketiga.

Ironisnya, di tengah ketegangan global seperti itu, sikap banyak negara sering kali juga tidak sepenuhnya jernih. Bahkan negara-negara yang sejak awal berdiri dengan semangat non-blok dan perdamaian dunia pun kadang terlihat gamang.

Indonesia, misalnya, sejak awal kemerdekaannya dikenal sebagai bangsa yang berdiri di atas prinsip keberpihakan pada kemerdekaan dan keadilan global. Namun dalam beberapa forum internasional yang berbicara tentang perdamaian, yang sering disebut sebagai Board of Peace (BoP), sikap kita kadang terasa tidak setegas nilai yang kita warisi dari Konferensi Asia-Afria (KAA) tahun 1955 di Bandung.

Padahal, semangat politik luar negeri yang bebas dan aktif sejatinya mengajarkan satu hal sederhana bahwa membela yang lemah, bukan mendukung yang kuat; membela yang benar, bukan mengikuti yang berkuasa maupun adikuasa.

Seperti tawaf yang selalu berputar pada satu pusat yang jelas, moralitas dalam politik global pun semestinya memiliki poros yang tegas. Tanpa itu, diplomasi mudah terseret dalam orbit kepentingan yang bukan miliknya.

Dan dari sanalah banyak konflik dunia berawal. Ketika manusia kehilangan pusat orientasinya.

Sa’i: Ikhtiar yang Tak Pernah Putus

Dari Ka’bah, perjalanan berlanjut menuju Shafa dan Marwah. Di antara dua bukit inilah seorang jamaah menapaktilasi kisah seorang ibu yang luar biasa dalam sejarah spiritual umat manusia: Siti Hajar.

Di tengah padang pasir yang sunyi dan tandus, ia berlari mencari air untuk putranya, Ismail. Tidak sekali. Tidak dua kali. Tetapi berulang kali, dalam kelelahan, dalam kegelisahan, dalam ketidakpastian yang sangat besar.

Namun, ia tidak berhenti. Hingga akhirnya, dari tempat yang tak pernah disangka, memancar air Zamzam. Sebuah mata air yang terus mengalir hingga hari ini, dan dinikmati jutaan umat manusia, termasuk yang sedang umrah.

Sa’i bukan sekadar berjalan bolak-balik di antara dua bukit. Ia adalah simbol tentang ikhtiar yang tak pernah putus.

Di antara Shafa dan Marwah, manusia belajar bahwa harapan sering kali lahir dari ketekunan. Bahwa usaha tidak selalu langsung memperlihatkan hasilnya. Namun justru dalam ketekunan itulah pertolongan Tuhan sering datang, dengan cara yang tak pernah kita duga sebelumnya.

Tahallul: Pulang dengan Jiwa Baru

Rangkaian umrah kemudian ditutup dengan tahallul, berupa memotong sebagian rambut sebagai tanda berakhirnya ritual.

Secara lahiriah, tindakan ini tampak sederhana. Namun dalam makna spiritualnya, tahallul menghadirkan simbol pembaruan. Ia seperti sebuah tanda bahwa perjalanan ini tidak hanya terjadi di luar diri, tetapi juga di dalam hati.

Seolah-olah seorang jamaah dilahirkan kembali dengan kesadaran yang lebih jernih. Dengan hati yang lebih ringan. Dengan pandangan hidup yang lebih tenang.

Karena umrah sejatinya bukan sekadar perjalanan yang selesai di Tanah Suci. Ia adalah proses pembaruan diri yang seharusnya terus hidup setelah seseorang kembali ke rumahnya.

Lingkaran Makna

Jika direnungkan lebih dalam, rukun-rukun umrah membentuk sebuah lingkaran makna yang utuh. Ia dimulai dari pelepasan diri melalui ihram. Menemukan orientasi hidup melalui tawaf. Belajar tentang ketekunan melalui sa’i. Dan berakhir dengan pembaruan diri melalui tahallul.

Namun lingkaran itu sebenarnya tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan Mekah.

Justru ketika kembali ke kehidupan sehari-hari, pertanyaan yang lebih penting muncul dalam diri, apakah pusat kehidupan kita masih sama seperti sebelum berangkat? Apakah hati kita masih mengingat arah yang sama seperti ketika mengelilingi Ka’bah?

Umrah, pada akhirnya, bukan sekadar perjalanan menuju Tanah Suci. Ia adalah perjalanan untuk menemukan kembali pusat kehidupan, agar manusia tidak lagi berjalan tanpa arah, tetapi hidup dengan kesadaran yang lebih jernih.

Mungkin di situlah pelajaran terbesar dari umrah yang sering luput kita sadari. Ka’bah tidak hanya menjadi pusat orientasi ibadah, tetapi juga mengajarkan sebuah metafora moral bagi kehidupan manusia.

Dunia yang damai hanya mungkin lahir jika manusia, termasuk para pemimpinnya, memiliki pusat orientasi yang benar, yakni keadilan, kemanusiaan, dan ketundukan kepada Tuhan. Tanpa pusat itu, politik global mudah terjebak dalam orbit ego, ambisi, dan dominasi kekuasaan.

Bagi bangsa seperti Indonesia yang sejak awal memilih jalan politik luar negeri bebas dan aktif, pesan ini terasa semakin relevan. Seperti tawaf yang selalu kembali pada satu pusat yang sama, diplomasi kita pun seharusnya kembali pada poros moral yang sama: membela yang lemah, bukan sekadar mendukung yang kuat; membela yang benar, bukan mengikuti yang berkuasa.

Karena pada akhirnya, sebagaimana manusia berputar mengelilingi Ka’bah untuk mengingat Tuhannya, dunia pun hanya akan menemukan kedamaian jika ia kembali berputar pada pusat kemanusiaannya.

Dan mungkin di situlah makna terdalamnya: bahwa hidup, seperti tawaf, adalah perjalanan melingkar yang terus mengingatkan manusia untuk kembali kepada pusatnya, yakni kepada Tuhan, yang menjadi tujuan akhir dari setiap langkah manusia. (*/bersambung)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait