Umrah sebuah perjalanan ibadah ke tanah suci yang dirindukan umat muslim sedunia. Namun berumrah di tengah situasi konflik perang di Timur Tengah saat ini tentu perjalanan yang tidak mudah. Berikut catatan Dr. Machsus, ST. MT., Wakil Rektor II ITS dan anggota Komunitas S36A, yang sedang berumrah ke tanah Suci.
————
ADA perjalanan yang direncanakan dengan rapi, namun tetap saja berjalan di luar skenario manusia. Niat telah dipasang, tiket sudah di tangan, koper telah disiapkan, dan doa-doa keberangkatan telah mengiringi langkah. Namun pada saat harapan itu hampir mencapai puncaknya, perjalanan justru tertahan di gerbang keberangkatan.
Di situlah manusia belajar bahwa menuju rumah Tuhan tidak selalu melalui jalan yang lurus. Kadang langkah harus tertunda, rencana harus diubah, dan ikhtiar harus mencari jalannya sendiri.
Justru melalui peristiwa-peristiwa seperti itulah perjalanan spiritual menemukan maknanya yang paling dalam. Takdir tidak selalu hadir sebagai jalan yang terbuka lebar.
Takdir Berhenti di Bandara
Ada perjalanan yang dimulai dari langkah kaki, tetapi ada pula yang berawal dari keteguhan hati. Kegagalan keberangkatan di bandara meninggalkan ruang hening yang panjang dalam batin.
Tiket sudah di tangan, jadwal penerbangan terpampang di papan informasi, dan pesawat dijadwalkan berangkat tepat waktu.
Namun, langkah kami terhenti oleh satu hal sederhana yang ternyata sangat menentukan: visa umrah yang tak kunjung ada. Pesawat pun akhirnya berangkat tanpa kami.
Situasi seperti itu mudah menyeret manusia ke dalam rasa kecewa. Rencana yang telah dipersiapkan dengan matang tiba-tiba berhenti di satu titik yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
Namun, perjalanan menuju Tanah Suci perlahan mengajarkan bahwa kegagalan pun dapat menjadi ruang pembelajaran spiritual yang tidak kalah bermakna.
Kami mencoba merajut kembali energi batin yang sempat terurai, yakni menguatkan niat, menata kesabaran, dan meneguhkan keyakinan bahwa perjalanan ini bukan sekadar perpindahan menuju Makkah dan Madinah.
Kadang-kadang Tuhan tidak langsung membuka jalan yang kita rencanakan, karena Ia terlebih dahulu mengajarkan manusia untuk menata hatinya sebelum benar-benar melangkah menuju rumah-Nya.
Takdir Tak Menutup Ikhtiar
Setelah menenangkan diri, kami menyadari bahwa perjalanan spiritual tidak boleh berhenti hanya karena satu kegagalan teknis. Niat sudah ditanamkan, maka ikhtiar harus tetap dilanjutkan. Kami teringat firman Allah: “Janganlah berputus asa dari rahmat Allah” (Az-Zumar: 53). Sebuah pengingat bahwa harapan selalu terbuka bagi mereka yang terus berusaha.
Kami pun mulai mencari jalan lain. Salah satu jemaah mencoba menghubungi biro travel kenalannya, lalu telepon demi telepon dilakukan untuk mencari kemungkinan pengurusan visa yang lebih pasti dan cepat.
Setiap percakapan menjadi pintu kecil menuju harapan baru, dan setiap informasi dipertimbangkan dengan penuh kehati-hatian.
Di situlah kami kembali memahami bahwa ikhtiar adalah bagian dari ibadah. Manusia tidak diminta hanya menunggu takdir turun dari langit, tetapi juga bergerak menjemputnya.
Takdir memang memiliki jalannya sendiri, tetapi manusia tetap diminta untuk berjalan, karena kadang tujuan yang sama harus dicapai melalui pintu yang berbeda.
Pulang ke Rumah, Menata Hati
Setelah hiruk-pikuk bandara perlahan mereda, langkah kami justru kembali ke tempat yang paling sederhana: rumah. Perjalanan yang semula diniatkan menuju Tanah Suci untuk sementara berubah menjadi perjalanan pulang.
Di dalam mobil, suasana terasa lebih hening dari biasanya, seolah perjalanan singkat itu memberi ruang bagi hati untuk mencerna apa yang baru saja terjadi.
Ada perasaan yang sulit dijelaskan. Langkah kaki memang kembali ke titik awal, tetapi batin terasa sudah berjalan cukup jauh.
Kekecewaan tentu ada, namun perlahan ia tidak lagi menjadi pusat cerita. Di baliknya muncul kesadaran pelan bahwa mungkin inilah bagian dari skenario takdir yang belum selesai dituliskan. Sebuah jeda kecil sebelum halaman berikutnya dibuka.
Rumah pun menjadi tempat untuk menenangkan diri dan menata ulang rencana. Di sanalah kami menunggu kabar tentang kepastian visa dari biro travel, sambil menerima bahwa perjalanan spiritual tidak selalu berjalan lurus seperti yang kita bayangkan. Kadang ia dimulai dari langkah yang tertunda, dari kesabaran yang diuji, dan dari keheningan yang justru menumbuhkan keyakinan.
Masuk Kantor Meski Cuti
Memasuki hari kerja setelah akhir pekan, meskipun secara administratif masih dalam masa cuti, saya tetap datang ke kantor.
Bukan karena kewajiban formal, melainkan untuk menjaga ritme hidup tetap normal sekaligus menunaikan amanah jabatan yang masih melekat. Sempat terlintas untuk tetap “bersemedi” di rumah sambil menatap koper yang siap berangkat.
Rutinitas sederhana ternyata cukup membantu menstabilkan perasaan. Duduk di ruang kerja, menyapa rekan-rekan, dan melihat aktivitas kantor berjalan seperti biasa perlahan meneguhkan mental. Kadang hidup memang perlu kembali ke ritme sehari-hari agar hati tidak terlalu larut dalam sesuatu yang tertunda.
Namun kehadiran saya di kantor langsung memancing tanda tanya. “Lho, bukannya sudah berangkat umrah?” tanya beberapa rekan.
Saya menjawab dengan senyum, “Mohon maaf, umrahnya masih pending. Ditunda dulu oleh takdir.”
Untuk mencairkan suasana, saya menambahkan candaan ringan bahwa ini mungkin “umrah kilat.” Paketnya baru sampai Terminal F Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Tawa pun pecah, dan suasana kembali cair.
Takdir Membuka Pintu
Dari berbagai diskusi dengan travel alternatif, satu kesimpulan menjadi jelas, yakni kuncinya visa. Tanpa visa, semua rencana perjalanan hanyalah bayangan di atas kertas. Maka fokus dipersempit menjadi visa dulu, urusan lain menyusul.
Dokumen disiapkan ulang, komunikasi dengan travel dilakukan intensif, dan setiap kabar kecil ditunggu dengan penuh harap.
Ketika kabar visa akhirnya terbit, rasanya seperti pintu yang lama terkunci tiba-tiba terbuka. Namun tantangan baru segera muncul karena tiket penerbangan harus diamankan di tengah kursi yang terbatas dan harga yang melonjak tajam. Keputusan harus diambil cepat sebelum tiket “menghilang” dari layar.
Situasi makin menantang karena dana umrah yang sudah dibayarkan ke travel lama masih “nyantol” dan belum jelas kapan di-refund. Sementara harga tiket dan hotel sudah berlipat-lipat. Kami harus mencari suntikan dana segar agar perjalanan tetap berlanjut.
Setelah tiket berhasil didapat, urusan hotel pun disusul. Di Madinah masih relatif wajar, tetapi di Makkah menjelang sepuluh hari terakhir Ramadhan tarifnya seperti lepas dari gravitasi.
Namun akhirnya satu per satu kepingan perjalanan tersusun kembali: visa beres, tiket aman, hotel didapat. Puzzle yang sempat berantakan perlahan menemukan bentuknya.
Bismillah, Jalan Ditemukan
Ketika seluruh urusan akhirnya terselesaikan, visa telah terbit, tiket berhasil diamankan, dan hotel sudah dipastikan, perasaan yang muncul bukan sekadar lega. Ada rasa syukur yang lebih dalam, seolah setiap kesulitan yang dilalui menjadi bagian dari pelajaran yang sengaja dihadirkan dalam perjalanan ini.
Proses yang berliku itu mengajarkan tentang kesabaran dalam menunggu, keteguhan dalam berikhtiar, dan keyakinan bahwa takdir Tuhan sering kali bekerja dengan cara yang melampaui rencana manusia.
Jalan yang semula tampak tertutup ternyata hanya sedang mencari arah yang berbeda, yang tak selalu lurus dan mulus. Kadang harus melewati tikungan tak terduga, bahkan sempat berhenti di persimpangan.
Pada akhirnya kami memahami bahwa perjalanan menuju rumah Tuhan tidak selalu melalui jalan yang lurus. Namun ketika niat tetap dijaga dan ikhtiar tidak berhenti, takdir akan menemukan jalannya sendiri. Dan ketika semua akhirnya siap, kalimat sederhana itu terasa cukup untuk merangkum seluruh perjalanan ini: Bismillah, berangkat! (*/bersambung)


