12 March 2026, 3:18 AM WIB

Perjalanan Spiritual yang Tertunda

spot_img

Catatan: PROF. MACHSUS, M.T. (Anggota Komunitas S36A; Akademisi ITS)

SETIAP perjalanan menuju tanah suci selalu membawa cerita yang berbeda. Ada yang berangkat dengan segala kemudahan, ada pula yang memulai langkahnya melalui jalan yang berliku. Umrah sering kali dipahami sebagai perjalanan fisik menuju Makkah dan Madinah, tetapi sesungguhnya ia juga merupakan perjalanan batin. Sebuah proses di mana manusia belajar tentang kesabaran, keikhlasan, dan penyerahan diri kepada takdir Tuhan.

Kami pun berangkat dengan niat yang sama, yakni memenuhi panggilan menuju Baitullah. Segala persiapan telah dilakukan sebagaimana mestinya. Tiket sudah dibeli, koper telah dipacking, dan hati telah dipenuhi harapan untuk segera menjejakkan kaki di tanah haram. Dalam bayangan kami, perjalanan ini akan menjadi awal dari rangkaian ibadah yang khusyuk.

Namun perjalanan itu ternyata tidak dimulai dengan keberangkatan. Ia justru dimulai dengan penantian yang panjang, bahkan dengan pengalaman pahit yang perlahan kami sadari sebagai kisah tentang ketika jamaah “dikerjain” oleh travel.

Perjalanan Sarat Ketidakpastian

Perjalanan ini sebenarnya dimulai dengan ketidakpastian. Sejak malam sebelumnya kami sudah bersiap penuh harap. Koper telah tertutup rapat, paspor berada di tangan, dan tiket penerbangan Garuda sudah tercetak rapi. Demi menghindari keterlambatan, kami bahkan memilih menginap di hotel bandara. Malam itu seharusnya menjadi malam terakhir sebelum langkah kami mendekat ke tanah haram.

Pagi hari datang dengan tenang. Setelah menunaikan shalat Subuh, rombongan kami segera merapat ke Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta, yang dikenal sebagai terminal keberangkatan jamaah umrah. Cahaya pagi menyelinap melalui kaca-kaca bandara, sementara di dalam hati kami telah terbayang Masjid Nabawi dan Ka’bah yang selama ini sering hadir dalam doa dan kerinduan spiritual.

Semua tampak berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada tanda bahwa hari itu akan berubah menjadi hari yang panjang secara batin. Kami datang dengan harapan, tetapi hari itu ternyata membawa kami kepada sebuah ujian kesabaran.

Tiket Tanpa Visa

Di papan pengumuman penerbangan, jadwal keberangkatan masih tertulis on schedule. Semua tampak normal. Kami duduk di ruang tunggu dengan hati berdebar-debar, menunggu panggilan boarding yang akan membawa kami menuju Madinah.

Tiket ada di tangan dan tersimpan di layar ponsel. Paspor siap digunakan. Jadwal penerbangan tercatat jelas di layar bandara. Namun satu hal yang paling menentukan justru belum ada: visa umrah. Di saat itulah kami mulai merasakan bahwa perjalanan ini ternyata belum benar-benar dibukakan jalannya.

Visa yang dijanjikan oleh pihak travel belum juga muncul. Jamaah mulai saling bertanya dengan nada pelan. Petugas travel justru terlambat datang, sementara pertugas dari travel lain terlihat sibuk mendampingi jamaah mereka.

Teman-teman rombongan mulai tampak bingung dan wajah-wajah yang semula penuh harap berubah menjadi tegang. Ada yang menelpon ke sana kemari mencari kepastian, tetapi tidak satu pun jawaban yang menenangkan.

Wajah-wajah yang semula penuh harap mulai berubah menjadi cemas. Saat itulah kami perlahan menyadari bahwa ini bukan sekadar keterlambatan biasa, melainkan kenyataan pahit ketika para jamaah harus menanggung akibat dari kelalaian pihak travel dalam mengurus perjalanan ibadah mereka. Entah disengaja atau tidak, entahlah!

Pesawat Take Off, Kami Landing

Akhirnya kenyataan itu datang juga. Kru pesawat Garuda terlihat bergegas menuju dan masuk ke pesawatnya. Pesawat yang seharusnya kami tumpangi perlahan bergerak menuju landasan, lalu take off meninggalkan bandara.

Sementara itu kami hanya bisa berdiri di ruang tunggu, sambi menatap layar informasi penerbangan yang tetap menampilkan jadwal keberangkatan, seolah justru “landing” pada kenyataan yang memilukan.

Tiket sudah di tangan dan juga tersimpan di ponsel kami. Jadwal penerbangan tercatat jelas. Namun kami tidak memegang visa umrah. Perjalanan yang telah kami siapkan dengan penuh harap tiba-tiba berhenti di ambang pintu, seakan mengingatkan kami bahwa tidak semua niat baik langsung menemukan jalannya.

Beberapa dari kami terdiam lama. Ada yang menunduk, ada pula yang memandang kosong ke arah landasan yang kini kembali sunyi.

Di saat seperti itu kami benar-benar merasakan pahitnya pengalaman ketika harapan para jamaah harus tertahan oleh kelalaian pengelolaan perjalanan. Ketika niat ibadah yang tulus harus berhadapan dengan kenyataan yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya.

Belajar Tentang Takdir

Di ruang tunggu bandara itu kami belajar sesuatu yang sederhana tetapi terasa begitu dalam. Manusia boleh merencanakan perjalanan dengan sebaik-baiknya, mempersiapkan waktu dan segala kebutuhan, bahkan membayangkan langkah yang akan dijalani.

Namun pada akhirnya, keputusan terakhir tetap berada di tangan Tuhan. Di kursi-kursi ruang tunggu itu kami menyadari bahwa tidak semua rencana manusia selalu berakhir pada keberangkatan.

Segala sesuatu sebenarnya sudah kami siapkan. Tiket telah ada di tangan, koper telah tertata rapi, dan hati telah lama berniat memenuhi panggilan menuju Baitullah. Namun jika izin itu belum datang, langkah manusia bisa saja tertahan di tempat yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya, di sebuah kursi ruang tunggu bandara. Saat itulah kami belajar menerima bahwa rencana manusia sering kali harus tunduk pada keputusan Tuhan.

Barangkali memang begitulah cara Tuhan mengajarkan kesabaran kepada para tamu-Nya. Perjalanan menuju tanah suci bukan semata soal jadwal penerbangan atau jarak yang harus ditempuh, melainkan juga tentang waktu yang telah ditetapkan oleh takdir.

Kadang seseorang dipanggil segera, kadang pula diminta menunggu lebih lama, agar hati menjadi lebih sabar dan lebih siap ketika akhirnya benar-benar sampai di hadapan rumah-Nya.

Bersenda Gurau, Menghibur Diri

Setelah keheningan yang cukup lama, suasana perlahan berubah. Percakapan kecil mulai muncul di antara kami, seolah menjadi cara sederhana untuk mencairkan rasa kecewa yang masih terasa. Beberapa dari kami mencoba saling menguatkan dengan obrolan ringan, karena dalam keadaan seperti itu kebersamaan terasa menjadi penopang yang menenangkan.

Sebagian rombongan kemudian mulai bersenda gurau. Ada yang berkata sambil tersenyum tipis, “Mungkin ini latihan sabar sebelum benar-benar sampai tanah haram.” Kalimat sederhana itu membuat kami tertawa pelan. Tawa yang tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk membuat suasana menjadi sedikit lebih hangat di tengah kekecewaan yang masih tersisa.

Kami bahkan sempat berfoto bersama. Kebetulan di dinding ruang tunggu terdapat latar bergambar Ka’bah. Di depan gambar itu kami berdiri berdampingan, mengabadikan momen yang tidak pernah kami rencanakan sebelumnya.

Senyum kami mungkin tidak sepenuhnya ceria, tetapi tetap hangat. Sebuah pengingat bahwa perjalanan menuju tanah suci pernah tertahan di ruang tunggu bandara.

Barangkali memang begitulah cara Tuhan memanggil para tamu-Nya. Kadang bukan dengan jalan yang mudah, melainkan melalui ujian yang membuat hati belajar lebih sabar.

Sebab pada akhirnya, perjalanan menuju Baitullah bukan hanya tentang sampai atau tidak sampai, melainkan tentang bagaimana manusia belajar menundukkan ego, menerima takdir, dan tetap menjaga harapan bahwa suatu hari nanti langkah ini benar-benar akan sampai di hadapan Ka’bah, dengan hati yang jauh lebih siap dan lebih ikhlas. (*)

spot_img

Catatan: PROF. MACHSUS, M.T. (Anggota Komunitas S36A; Akademisi ITS)

SETIAP perjalanan menuju tanah suci selalu membawa cerita yang berbeda. Ada yang berangkat dengan segala kemudahan, ada pula yang memulai langkahnya melalui jalan yang berliku. Umrah sering kali dipahami sebagai perjalanan fisik menuju Makkah dan Madinah, tetapi sesungguhnya ia juga merupakan perjalanan batin. Sebuah proses di mana manusia belajar tentang kesabaran, keikhlasan, dan penyerahan diri kepada takdir Tuhan.

Kami pun berangkat dengan niat yang sama, yakni memenuhi panggilan menuju Baitullah. Segala persiapan telah dilakukan sebagaimana mestinya. Tiket sudah dibeli, koper telah dipacking, dan hati telah dipenuhi harapan untuk segera menjejakkan kaki di tanah haram. Dalam bayangan kami, perjalanan ini akan menjadi awal dari rangkaian ibadah yang khusyuk.

Namun perjalanan itu ternyata tidak dimulai dengan keberangkatan. Ia justru dimulai dengan penantian yang panjang, bahkan dengan pengalaman pahit yang perlahan kami sadari sebagai kisah tentang ketika jamaah “dikerjain” oleh travel.

Perjalanan Sarat Ketidakpastian

Perjalanan ini sebenarnya dimulai dengan ketidakpastian. Sejak malam sebelumnya kami sudah bersiap penuh harap. Koper telah tertutup rapat, paspor berada di tangan, dan tiket penerbangan Garuda sudah tercetak rapi. Demi menghindari keterlambatan, kami bahkan memilih menginap di hotel bandara. Malam itu seharusnya menjadi malam terakhir sebelum langkah kami mendekat ke tanah haram.

Pagi hari datang dengan tenang. Setelah menunaikan shalat Subuh, rombongan kami segera merapat ke Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta, yang dikenal sebagai terminal keberangkatan jamaah umrah. Cahaya pagi menyelinap melalui kaca-kaca bandara, sementara di dalam hati kami telah terbayang Masjid Nabawi dan Ka’bah yang selama ini sering hadir dalam doa dan kerinduan spiritual.

Semua tampak berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada tanda bahwa hari itu akan berubah menjadi hari yang panjang secara batin. Kami datang dengan harapan, tetapi hari itu ternyata membawa kami kepada sebuah ujian kesabaran.

Tiket Tanpa Visa

Di papan pengumuman penerbangan, jadwal keberangkatan masih tertulis on schedule. Semua tampak normal. Kami duduk di ruang tunggu dengan hati berdebar-debar, menunggu panggilan boarding yang akan membawa kami menuju Madinah.

Tiket ada di tangan dan tersimpan di layar ponsel. Paspor siap digunakan. Jadwal penerbangan tercatat jelas di layar bandara. Namun satu hal yang paling menentukan justru belum ada: visa umrah. Di saat itulah kami mulai merasakan bahwa perjalanan ini ternyata belum benar-benar dibukakan jalannya.

Visa yang dijanjikan oleh pihak travel belum juga muncul. Jamaah mulai saling bertanya dengan nada pelan. Petugas travel justru terlambat datang, sementara pertugas dari travel lain terlihat sibuk mendampingi jamaah mereka.

Teman-teman rombongan mulai tampak bingung dan wajah-wajah yang semula penuh harap berubah menjadi tegang. Ada yang menelpon ke sana kemari mencari kepastian, tetapi tidak satu pun jawaban yang menenangkan.

Wajah-wajah yang semula penuh harap mulai berubah menjadi cemas. Saat itulah kami perlahan menyadari bahwa ini bukan sekadar keterlambatan biasa, melainkan kenyataan pahit ketika para jamaah harus menanggung akibat dari kelalaian pihak travel dalam mengurus perjalanan ibadah mereka. Entah disengaja atau tidak, entahlah!

Pesawat Take Off, Kami Landing

Akhirnya kenyataan itu datang juga. Kru pesawat Garuda terlihat bergegas menuju dan masuk ke pesawatnya. Pesawat yang seharusnya kami tumpangi perlahan bergerak menuju landasan, lalu take off meninggalkan bandara.

Sementara itu kami hanya bisa berdiri di ruang tunggu, sambi menatap layar informasi penerbangan yang tetap menampilkan jadwal keberangkatan, seolah justru “landing” pada kenyataan yang memilukan.

Tiket sudah di tangan dan juga tersimpan di ponsel kami. Jadwal penerbangan tercatat jelas. Namun kami tidak memegang visa umrah. Perjalanan yang telah kami siapkan dengan penuh harap tiba-tiba berhenti di ambang pintu, seakan mengingatkan kami bahwa tidak semua niat baik langsung menemukan jalannya.

Beberapa dari kami terdiam lama. Ada yang menunduk, ada pula yang memandang kosong ke arah landasan yang kini kembali sunyi.

Di saat seperti itu kami benar-benar merasakan pahitnya pengalaman ketika harapan para jamaah harus tertahan oleh kelalaian pengelolaan perjalanan. Ketika niat ibadah yang tulus harus berhadapan dengan kenyataan yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya.

Belajar Tentang Takdir

Di ruang tunggu bandara itu kami belajar sesuatu yang sederhana tetapi terasa begitu dalam. Manusia boleh merencanakan perjalanan dengan sebaik-baiknya, mempersiapkan waktu dan segala kebutuhan, bahkan membayangkan langkah yang akan dijalani.

Namun pada akhirnya, keputusan terakhir tetap berada di tangan Tuhan. Di kursi-kursi ruang tunggu itu kami menyadari bahwa tidak semua rencana manusia selalu berakhir pada keberangkatan.

Segala sesuatu sebenarnya sudah kami siapkan. Tiket telah ada di tangan, koper telah tertata rapi, dan hati telah lama berniat memenuhi panggilan menuju Baitullah. Namun jika izin itu belum datang, langkah manusia bisa saja tertahan di tempat yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya, di sebuah kursi ruang tunggu bandara. Saat itulah kami belajar menerima bahwa rencana manusia sering kali harus tunduk pada keputusan Tuhan.

Barangkali memang begitulah cara Tuhan mengajarkan kesabaran kepada para tamu-Nya. Perjalanan menuju tanah suci bukan semata soal jadwal penerbangan atau jarak yang harus ditempuh, melainkan juga tentang waktu yang telah ditetapkan oleh takdir.

Kadang seseorang dipanggil segera, kadang pula diminta menunggu lebih lama, agar hati menjadi lebih sabar dan lebih siap ketika akhirnya benar-benar sampai di hadapan rumah-Nya.

Bersenda Gurau, Menghibur Diri

Setelah keheningan yang cukup lama, suasana perlahan berubah. Percakapan kecil mulai muncul di antara kami, seolah menjadi cara sederhana untuk mencairkan rasa kecewa yang masih terasa. Beberapa dari kami mencoba saling menguatkan dengan obrolan ringan, karena dalam keadaan seperti itu kebersamaan terasa menjadi penopang yang menenangkan.

Sebagian rombongan kemudian mulai bersenda gurau. Ada yang berkata sambil tersenyum tipis, “Mungkin ini latihan sabar sebelum benar-benar sampai tanah haram.” Kalimat sederhana itu membuat kami tertawa pelan. Tawa yang tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk membuat suasana menjadi sedikit lebih hangat di tengah kekecewaan yang masih tersisa.

Kami bahkan sempat berfoto bersama. Kebetulan di dinding ruang tunggu terdapat latar bergambar Ka’bah. Di depan gambar itu kami berdiri berdampingan, mengabadikan momen yang tidak pernah kami rencanakan sebelumnya.

Senyum kami mungkin tidak sepenuhnya ceria, tetapi tetap hangat. Sebuah pengingat bahwa perjalanan menuju tanah suci pernah tertahan di ruang tunggu bandara.

Barangkali memang begitulah cara Tuhan memanggil para tamu-Nya. Kadang bukan dengan jalan yang mudah, melainkan melalui ujian yang membuat hati belajar lebih sabar.

Sebab pada akhirnya, perjalanan menuju Baitullah bukan hanya tentang sampai atau tidak sampai, melainkan tentang bagaimana manusia belajar menundukkan ego, menerima takdir, dan tetap menjaga harapan bahwa suatu hari nanti langkah ini benar-benar akan sampai di hadapan Ka’bah, dengan hati yang jauh lebih siap dan lebih ikhlas. (*)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait