Sementara itu, melalui WhatsApp, hoaks juga efektif disebarkan. Sebab, hoaks di WhatsApp menyebar di grup-grup keluarga yang isinya adalah orang-orang sejalan satu sama lain. ”Hoaks biasanya menyebar di grup keluarga. Kalau yang memberi informasi keluarga terdekat, masak kita tidak percaya,” kata Anggit lagi.
Hoaks juga efektif disebarkan di X. Pasalnya, X sangat aktif memberikan update. ”Jadi mereka memanfaatkan X agar penyebaran informasi palsu lebih cepat. Bahkan, melalui X bisa update,” katanya.
Karenanya, Anggit meminta siswa menjadi netizen yang cerdas dan elegan. Siswa harus menjadi agen penangkal hoaks yang efektif. Sebab, selama ini siswa adalah kalangan terdidik yang melek teknologi informasi.
Pahami Jejak Digital
Dalam paparannya, Anggit juga menjelaskan perbedaan misinformasi dan disinformasi. Misinformasi adalah informasi salah yang disebarkan tanpa sengaja. Sedangkan disinformasi memang sengaja dibuat untuk menipu atau memengaruhi opini publik.
Selain hoaks, siswa juga diajak memahami bahaya ujaran kebencian di media sosial. Menurutnya, komentar negatif bisa berdampak serius bagi korban.
”Kata-kata di internet bisa melukai orang lain. Bahkan, dampaknya bisa lebih berat daripada yang dibayangkan,” jelasnya.
Gelar juara Piala Presiden 2026 resmi milik Persebaya Surabaya! Bajol Ijo sukses menaklukkan Persib Bandung…
Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya membongkar modus pencurian aset milik Pemerintah Kota…
Kebakaran rumah terjadi di Jalan Sambi Arum Lor II, Blok 53-D No. 2, Kelurahan Sambikerep,…
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menghadiri langsung kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) di Sekolah…
Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Surabaya berhasil menggagalkan peredaran hampir 100 ribu…
Jalur pendakian Gunung Piramid di Bondowoso yang sudah resmi ditutup dan dinyatakan ilegal, kembali mencatatkan…
This website uses cookies.