Sementara itu, melalui WhatsApp, hoaks juga efektif disebarkan. Sebab, hoaks di WhatsApp menyebar di grup-grup keluarga yang isinya adalah orang-orang sejalan satu sama lain. ”Hoaks biasanya menyebar di grup keluarga. Kalau yang memberi informasi keluarga terdekat, masak kita tidak percaya,” kata Anggit lagi.
Hoaks juga efektif disebarkan di X. Pasalnya, X sangat aktif memberikan update. ”Jadi mereka memanfaatkan X agar penyebaran informasi palsu lebih cepat. Bahkan, melalui X bisa update,” katanya.
Karenanya, Anggit meminta siswa menjadi netizen yang cerdas dan elegan. Siswa harus menjadi agen penangkal hoaks yang efektif. Sebab, selama ini siswa adalah kalangan terdidik yang melek teknologi informasi.
Pahami Jejak Digital
Dalam paparannya, Anggit juga menjelaskan perbedaan misinformasi dan disinformasi. Misinformasi adalah informasi salah yang disebarkan tanpa sengaja. Sedangkan disinformasi memang sengaja dibuat untuk menipu atau memengaruhi opini publik.
Selain hoaks, siswa juga diajak memahami bahaya ujaran kebencian di media sosial. Menurutnya, komentar negatif bisa berdampak serius bagi korban.
”Kata-kata di internet bisa melukai orang lain. Bahkan, dampaknya bisa lebih berat daripada yang dibayangkan,” jelasnya.
Nasib apes tampaknya sedang memeluk tim nasional Skotlandia. Baru saja peluit pertama dibunyikan di Boston…
Sebanyak 25 karya seni rupa kontemporer hasil kreasi tiga seniman visual Indonesia, yaitu XGO, Anas…
Amerika Serikat memastikan langkah ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Australia dengan…
Masa depan Marcus Rashford menjadi salah satu “kisah cinta” paling dramatis di bursa transfer Eropa.…
Kepercayaan yang diberikan justru berujung ke terali besi. Seperti yang dialami S, 36 tahun, warga…
Kecamatan Pabean Cantian menghadirkan terobosan layanan administrasi kependudukan bernama Cak Klepon atau Cetak Akte Kelahiran…
This website uses cookies.